Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia atau ASEPHI menyiapkan strategi baru untuk memperkuat daya saing industri kerajinan nasional melalui integrasi teknologi digital dan penguatan rantai nilai antarpelaku usaha. Strategi itu menjadi salah satu pembahasan utama dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) ASEPHI yang digelar di Hotel Mercure Jakarta Sabang pada 5 Mei 2026.
Rapimnas tahun ini mengusung tema “Integrasi Teknologi Digital dan Rantai Nilai: Membangun Ekosistem Kerajinan yang Berdaya Saing”. Dalam forum tersebut, ASEPHI menyoroti persoalan panjangnya rantai distribusi bahan baku dan lemahnya konektivitas antarperajin di berbagai daerah.
Sekretaris Jenderal ASEPHI Azis Bakhtiar mengatakan organisasi kini tengah menyiapkan pengembangan kembali platform digital marketplace milik asosiasi. Berbeda dari sebelumnya yang berfokus pada penjualan produk jadi, platform baru itu akan diarahkan untuk mempertemukan kebutuhan bahan baku dan material pendukung produksi antaranggota ASEPHI.
“Selama ini dari produsen sampai konsumen terlalu banyak middleman. Kami mencoba memotong rantai itu,” ujar dia usai pembukaan Rapimnas, Selasa, 5 Mei 2026.
Menurut dia, banyak perajin di daerah belum mengetahui potensi pasokan bahan baku yang sebenarnya tersedia di wilayah lain di dalam negeri. Kondisi itu membuat pelaku usaha cenderung bergantung pada pemasok lama atau bahkan impor.
ASEPHI menilai penguatan jaringan distribusi domestik menjadi langkah awal yang lebih realistis dibanding langsung masuk pada persoalan regulasi impor atau tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Organisasi itu ingin membangun ekosistem suplai internal terlebih dahulu agar kebutuhan antarperajin dapat saling terpenuhi.
Ia mencontohkan potensi distribusi bahan baku seperti sapu lidi dari Lampung yang dapat disuplai ke sentra kerajinan di Yogyakarta atau Bali. Model seperti itu dinilai mampu memperpendek rantai pasok sekaligus menekan biaya produksi.
Selain itu, pengembangan marketplace juga diarahkan menjadi hub antarpelaku industri kerajinan, bukan sekadar etalase penjualan produk akhir seperti pada platform perdagangan elektronik umum.
ASEPHI mengakui persaingan dengan marketplace besar nasional menjadi tantangan jika hanya menjual produk jadi. Karena itu, asosiasi memilih mencari ceruk baru dengan membangun sistem distribusi material dan produk pendukung produksi kerajinan.
“Kami mencoba naik level. Tidak hanya jualan barang jadi, tetapi supporting product dan kebutuhan materialnya,” kata dia.
Melalui strategi tersebut, ASEPHI berharap pelaku usaha kerajinan dapat lebih mudah memperoleh bahan baku, memperkuat kolaborasi antardaerah, serta meningkatkan efisiensi produksi di tengah persaingan industri kreatif yang semakin ketat.





