Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) menyiapkan pengembangan ekosistem digital untuk memperkuat daya saing industri kerajinan nasional. Program itu digagas sebagai upaya memperluas pemasaran, memperkuat rantai pasok, sekaligus mempertemukan pengrajin dengan pasar domestik maupun global.
Wakil Ketua Umum III ASEPHI yang membidangi Pengembangan Youth Craft dan Digital, Muchamad Ali Jufry mengatakan organisasi tengah menyusun “ASEPHI Digital Ecosystem Master Plan” yang akan menjadi fondasi pengembangan platform digital bagi anggota. Program itu mencakup pemasaran daring, promosi, pendidikan, hingga penguatan data anggota.
“Kita ingin menjembatani tradisi dengan era digital. Pengrajin harus naik level dan bisa masuk ke pasar yang lebih luas,” kata Muchamad Ali Jufry yang biasa disapa Muh ini dalam wawancara di sela Rapat Pimpinan Nasional ASEPHI di Hotel Mercure Sabang Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.
Menurut dia, ASEPHI telah memulai pembangunan sistem keanggotaan digital yang terintegrasi. Setiap anggota nantinya memiliki identitas digital berupa sistem kartu tanda anggota berbasis QR yang dapat terkoneksi dengan berbagai layanan dalam ekosistem ASEPHI.
Muh mengatakan pengembangan digital tidak diarahkan untuk membangun marketplace besar seperti platform e-commerce umum. ASEPHI memilih membangun model “hub channel” yang memungkinkan setiap anggota memiliki situs web sendiri dengan template seragam dan terintegrasi ke sistem pembayaran digital.
“Jadi anggota otomatis punya profil dan website sendiri. Pembayarannya juga bisa langsung terhubung dengan payment gateway,” ujarnya.
ASEPHI juga menyiapkan direktori digital yang menjadi pusat lalu lintas perdagangan kerajinan. Melalui platform tersebut, anggota dapat menampilkan produk, menerima transaksi, dan terhubung dengan kanal promosi digital seperti Instagram, TikTok, Pinterest, Google Search Engine Optimization (SEO), dan iklan digital.
Tantangan utama dalam pengembangan platform digital kerajinan adalah keberlanjutan pengelolaan dan kualitas kurasi produk. Karena itu, ASEPHI menilai diperlukan tim profesional yang khusus menangani pengembangan dan pemeliharaan sistem.
“Masalahnya sering kali website dibuat tapi tidak di-update. Karena itu nanti harus ada tim yang memang mengelola secara harian,” kata dia.
Selain memperkuat pasar domestik, ASEPHI juga membuka jalur perdagangan internasional melalui kerja sama dengan platform perdagangan global, termasuk Alibaba. Menurut Ali, kerja sama itu akan difokuskan pada produk anggota yang telah lolos kurasi dan memiliki kesiapan ekspor.
ASEPHI, kata dia, akan membentuk tim khusus untuk mengelola kanal ekspor digital tersebut, termasuk pendampingan anggota dalam pengoperasian platform.
“Kita tidak membangun platform baru yang besar karena operasionalnya berat. Yang kita lakukan adalah menghubungkan ekosistem yang sudah ada,” ujarnya.
Pengembangan ekosistem digital itu ditargetkan mulai diuji coba dalam tiga bulan ke depan melalui pilot project yang melibatkan puluhan brand anggota ASEPHI. ASEPHI akan menggandeng vendor teknologi dan tim internal organisasi untuk pengembangan tahap awal.
Muh menuturkan ajang pameran kerajinan INACRAFT Oktober 2026 akan dijadikan momentum percepatan implementasi sistem digital tersebut. Dalam skema itu, setiap peserta pameran diwajibkan memiliki identitas digital dan situs web yang terhubung langsung dengan katalog produk mereka.
“Nanti pengunjung tinggal scan QR code dan langsung masuk ke toko digitalnya. Jadi traffic dari pameran bisa langsung berubah menjadi transaksi online,” kata Ali.
Selain aspek perdagangan, ASEPHI juga menyoroti pentingnya isu keberlanjutan dalam industri kerajinan. Ali menilai tren global saat ini menuntut produk yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan dan cerita di balik proses produksinya.
Karena itu, strategi konten digital ASEPHI akan menonjolkan proses produksi, warisan budaya, keterampilan pengrajin, serta nilai sustainability dari produk kerajinan Indonesia.




