Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) menegaskan fokus transformasi digital, penguatan organisasi, dan keberlanjutan industri kerajinan nasional dalam Rapat Pimpinan (Rapim) ASEPHI yang digelar di Hotel Mercure Sabang, Jakarta Pusat, pada 5–6 Mei 2026.
Rapim yang dihadiri jajaran Badan Pengurus Pusat (BPP), Badan Pengurus Daerah (BPD), dan Badan Pengurus Cabang (BPC) itu dibuka dengan rapat antara pengurus pusat ASEPHI dan PT Mediatama Event selaku penyelenggara pameran INACRAFT.
Ketua Umum ASEPHI Muchsin Ridjan dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga kekompakan organisasi di tengah tantangan ekonomi global dan perubahan pola perdagangan industri kerajinan.
“Kalau kita ingin maju, kita harus bersatu dalam berproses. Dalam organisasi kita harus menyampaikan kebersamaan dan jujur jika memang ada kendala,” kata Muchsin dalam pembukaan Rapim, Senin, 5 Mei 2026.
Ia menyebut Rapim menjadi forum penting untuk menyerap suara seluruh pengurus ASEPHI dari berbagai daerah. Menurut dia, organisasi kini tidak lagi hanya berfokus pada penyelenggaraan INACRAFT, tetapi juga mulai mengembangkan berbagai program baru, termasuk transformasi digital.
Muchsin mengakui pengembangan digital di tubuh organisasi belum berjalan optimal. Namun, ASEPHI mulai menyiapkan langkah awal yang diharapkan dapat dikembangkan lebih luas pada tahun-tahun mendatang.
“Digital ini sedang dicoba dulu. Harapannya tahun berikutnya bisa dikembangkan lebih besar,” ujarnya.
Selain digitalisasi, Muchsin juga menyoroti disiplin organisasi dan pentingnya komunikasi internal. Ia mengingatkan seluruh pengurus agar aktif terlibat dalam kegiatan organisasi dan tidak mengabaikan forum rapat pimpinan.
“Semangat ASEPHI bagus dan saya bangga. Tinggal bagaimana kita berpikir dan berorganisasi secara cerdas,” kata dia.
ASEPHI juga melaporkan perkembangan persiapan “Road to INACRAFT Yogyakarta” yang dijadwalkan berlangsung pada 15–19 Juli 2026. Menurut Muchsin, sebanyak 47 buyers internasional telah menyatakan minat hadir dalam agenda tersebut.
Dalam sesi lain, Wakil Ketua Umum I ASEPHI Hatman memaparkan perkembangan organisasi dan masa bakti kepengurusan daerah. Ia juga menyoroti program digitalisasi kartu tanda anggota (KTA) yang kini telah digunakan oleh 948 anggota dari total 1.632 anggota ASEPHI.
Menurut Hatman, sistem KTA digital dirancang menyerupai identitas resmi dengan sistem keamanan yang sulit dipalsukan. Ia meminta seluruh daerah segera melakukan registrasi ulang anggota.
“KTA ini bukan hanya kartu anggota, tapi bisa dipakai untuk berbagai kepentingan organisasi,” ujar Hatman.
ASEPHI juga membuka peluang pembentukan BPD baru di sejumlah wilayah seperti Riau, Nusa Tenggara Timur, Jambi, dan Sulawesi Selatan. Namun, rencana itu masih dikaji menyesuaikan kondisi ekonomi dan kemampuan organisasi.
Sementara itu, Bidang Kerja Sama Regional dan Internasional ASEPHI yang dipaparkan oleh Wakil ketua Umum II Baby Jurmawati menyoroti peluang partisipasi anggota dalam pameran dan promosi internasional di Malaysia dan Hanoi, Vietnam. ASEPHI mendorong anggota memanfaatkan ajang fashion show internasional untuk memperkuat visibilitas produk kerajinan Indonesia.
Di bidang digital, Wakil Ketua Umum III ASEPHI Muh Ali Jufry mempresentasikan “ASEPHI Digital Hub” dengan tema Connecting Culture, Empowering Artisans, Reaching the World. Program itu disiapkan sebagai fondasi pembangunan ekosistem digital ASEPHI yang menghubungkan pengrajin dengan pasar domestik dan global.
“ASEPHI tidak hanya membuat program digital, tapi membangun ekosistem,” ujarnya.
Adapun Sekretaris Jendral ASEPHI melalui Aziz Bakhtiar menyoroti pentingnya modernisasi administrasi organisasi. Seluruh surat-menyurat internal nantinya akan dipusatkan melalui email resmi organisasi untuk memperkuat dokumentasi dan efisiensi komunikasi.
ASEPHI juga mewajibkan setiap kegiatan daerah dilaporkan ke pusat sebagai arsip organisasi sekaligus bahan publikasi di situs dan media sosial resmi.
Dalam Rapim tersebut, isu keberlanjutan turut menjadi perhatian. Ketua Badan Pertimbangan ASEPHI Yanna Diah Kusumawati mengusulkan program “ASEPHI Go Green INACRAFT 2026” sebagai respons terhadap isu lingkungan global dan tingginya volume sampah selama penyelenggaraan pameran.
“Go Green bukan sekadar program, tetapi harus menjadi gaya hidup kita menghadapi isu global,” Tutup Yanna.




