Deretan stan batik, craft, hingga produk kriya dari berbagai daerah memenuhi area Solo Paragon Lifestyle Mall, Surakarta, Jawa Tengah, dalam gelaran Kampung ASEPHI 2026 yang berlangsung pada 13–17 Mei 2026. Pameran bertema “Menghidupkan Tradisi, Mempertemukan Kreasi” itu menjadi upaya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk membangkitkan kembali pasar kerajinan di tengah perubahan tren konsumsi masyarakat.
Pameran yang diinisiasi Badan Pengurus Cabang Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (BPC ASEPHI) Solo tersebut menghadirkan puluhan pelaku usaha dari Solo Raya hingga luar daerah seperti Lombok, Jakarta, dan Palembang. Sebanyak 44 stan UMKM serta dua stan dari sektor perbankan ikut meramaikan kegiatan yang dipusatkan di pusat perbelanjaan tersebut.
Ketua BPC ASEPHI Solo Raya Amin Suhudi Sutiman mengatakan konsep Kampung ASEPHI sengaja dihadirkan untuk mendekatkan produk UMKM kampung kepada konsumen perkotaan sekaligus memperluas akses pasar para perajin.

“Lewat Kampung ASEPHI ini kami mencoba menghidupkan lagi teman-teman UMKM yang ada di kampung, kami bawa ke mal dan dikolaborasikan agar pasar mereka lebih luas,” kata Sutiman di sela pembukaan acara.
Pameran tersebut menjadi langkah strategis untuk membantu pelaku UMKM bertahan di tengah kondisi pasar yang masih lesu. Ia berharap momentum libur panjang dapat membantu meningkatkan penjualan dan pesanan produk para peserta pameran.
“Konsep Kampung ASEPHI sengaja kami hadirkan untuk membawa pelaku UMKM batik kampung masuk ke pusat perbelanjaan agar lebih dekat dengan konsumen. Harapannya selama lima hari ini dapat mendongkrak omzet pelaku usaha,” ujarnya.
Saat ini anggota ASEPHI Solo Raya mencapai sekitar 150 hingga 160 pelaku usaha. Sekitar 70 persen bergerak di sektor batik dan fesyen, sedangkan sisanya berada di bidang handycraft atau kerajinan tangan.
Wali Kota Surakarta Respati Ardi yang hadir membuka pameran mengatakan pelaku usaha harus mulai beradaptasi dengan perubahan perilaku pasar dan pola konsumsi masyarakat saat ini.
“Kita tidak bisa lagi di era ini berjualan dengan cara yang sama, market sudah bergeser. Sekarang marketnya direct selling,” kata Respati.
Menurut Respati, tantangan pelaku UMKM saat ini bukan hanya soal digitalisasi, tetapi bagaimana menciptakan pengalaman berbelanja atau experience bagi konsumen. Ia menilai konsumen modern cenderung bersedia membayar lebih untuk produk yang memberikan pengalaman emosional dan interaksi langsung.
“Orang sekarang mau membayar lebih ketika mereka mendapatkan experience,” ujarnya.
Respati juga meminta pelaku usaha batik dan kriya tidak terlalu mengandalkan strategi potongan harga dalam meningkatkan penjualan. Ia mendorong lahirnya pendekatan pemasaran baru yang lebih kreatif dan sesuai dengan tren konsumen masa kini.
“Daripada banyak diskon, lebih baik gunakan untuk cara marketing yang baru,” katanya.
Berdasarkan data Pemerintah Kota Surakarta, konsumen terbesar produk ekonomi kreatif di Solo saat ini berasal dari kelompok usia 18 hingga 35 tahun, terutama perempuan. Karena itu, pemerintah kota berkomitmen memberikan pelatihan kepada pelaku usaha agar mampu menyesuaikan strategi pemasaran dengan karakter pasar baru tersebut.

Selain memperkuat sektor batik dan kerajinan, Pemerintah Kota Surakarta juga mulai mendorong pengembangan wellness tourism berbasis budaya Jawa. Respati mengatakan konsep wisata itu dapat dipadukan dengan wisata kuliner, kampung batik Laweyan dan Kauman, hingga pertunjukan wayang orang untuk menciptakan pengalaman wisata yang lebih lengkap.
“Saya ajak para pelaku usaha untuk mulai masuk ke bisnis wellness tourism dengan sentuhan budaya Jawa,” ujarnya.
Menjelang Hari Batik Nasional pada 1 Oktober mendatang, Pemerintah Kota Surakarta juga menyiapkan promosi besar-besaran untuk memperluas pasar produk batik dan ekonomi kreatif Solo. Sejumlah influencer nasional direncanakan akan dilibatkan dalam kampanye promosi tersebut.
“Sejumlah influencer nasional dihadirkan untuk membantu mempromosikan batik dan produk ekonomi kreatif Kota Solo ke pasar yang lebih luas,” tutup Respati.
Melalui Kampung ASEPHI 2026, para pelaku UMKM berharap pameran tersebut dapat menjadi ruang promosi berkelanjutan sekaligus membantu menggerakkan kembali pasar kerajinan dan batik yang beberapa waktu terakhir mengalami perlambatan permintaan.





