Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap limbah plastik global, desainer asal London, James Shaw, memilih mengambil jalan berbeda. Alih-alih memandang plastik sebagai sampah semata, Shaw justru mengubah material buangan itu menjadi koleksi dekorasi rumah yang artistik, penuh warna, dan bernilai desain tinggi.
Koleksi terbarunya yang diluncurkan bersama concept store ternama London, KOIBIRD, menghadirkan sederet objek rumah tangga seperti lampu, tempat lilin, cermin, bookends, pot tanaman, hingga penggiling garam dan merica. Seluruhnya dibuat dari plastik daur ulang yang diproses ulang secara manual di studio miliknya.
Sekilas, karya-karya Shaw tampak seperti pahatan lilin cair atau adonan plastisin berwarna neon. Bentuknya organik, menggembung, dan jenaka. Namun di balik tampilannya yang playful, koleksi tersebut membawa pesan serius tentang keberlanjutan dan masa depan material limbah.
“Tujuan utama dari karya ini adalah menciptakan objek yang menyenangkan dan diinginkan orang dari material yang bermasalah, sehingga mereka akan menggunakannya dalam waktu lama,” kata Shaw.
Lulusan Royal College of Art itu memang dikenal luas melalui eksplorasinya terhadap material sisa. Sebelum mengolah plastik, ia kerap menggunakan kayu bekas, bio-resin, denim, hingga papier-mâché daur ulang sebagai medium eksperimen desainnya.

Ketertarikannya terhadap barang buangan bermula sejak awal kariernya. Koleksi furnitur pertamanya dibuat dari potongan furnitur rusak yang ia temukan di jalanan London. Potongan-potongan itu kemudian disusun ulang menjadi objek baru dengan bentuk tak lazim.
Perjalanan Shaw memasuki dunia daur ulang plastik dimulai saat proyek kelulusannya di kampus. Ketika itu, ia membangun mesin ekstruder sendiri, semacam alat peleleh plastik dan mulai mencari material yang bisa diproses menggunakan alat tersebut.
Dalam proses pencarian itu, Shaw berkenalan dengan sebuah pabrik daur ulang plastik. Dari sana ia melihat langsung besarnya volume limbah plastik dan buruknya perlakuan terhadap material tersebut.
“Plastik biasanya diproses di pabrik besar. Yang saya coba hadirkan adalah pendekatan yang lebih manusiawi, di mana setiap objek dibuat dengan tangan dan pada dasarnya unik,” ujarnya.
Di studio miliknya di London, Shaw mengolah botol susu bekas dan berbagai limbah plastik lain menggunakan mesin ekstruder rakitan sendiri. Plastik dilelehkan hingga menjadi material lunak dan panas, lalu dibentuk secara manual sebelum mengeras kembali menjadi objek dekoratif.
Ia mengakui proses membangun mesin tersebut tidak mudah. Shaw menyebut alat yang digunakan saat ini merupakan generasi kelima setelah melalui berbagai percobaan dan kegagalan.
Kolaborasi dengan KOIBIRD memperlihatkan sisi paling eksploratif dari karya Shaw. Jika sebelumnya ia identik dengan warna pastel lembut, kali ini ia menghadirkan kombinasi merah terang, hijau neon, dan warna-warna berani lain yang menonjolkan karakter eksentrik khas KOIBIRD.

Chief Product Officer KOIBIRD, Shereen Basma, menyebut koleksi Shaw berhasil mempertahankan DNA visual toko tersebut melalui bentuk yang nyentrik dan warna-warna mencolok.
Selain menjadi objek dekoratif, karya Shaw juga mencoba menghadirkan kembali hubungan emosional manusia dengan benda sehari-hari. Ia percaya aktivitas sederhana seperti menyalakan lilin atau memasak dapat menjadi ritual kecil yang memberi rasa nyaman di tengah kehidupan modern yang serba cepat.
Karya-karya Shaw kini telah menjadi bagian dari koleksi permanen sejumlah institusi desain dunia, termasuk Museum of Modern Art (MoMA), Victoria & Albert Museum (V&A), Museum of London, hingga Montreal Museum of Art. Melalui pendekatan desain yang eksperimental, ia menunjukkan bahwa material buangan pun masih dapat memiliki nilai artistik, emosional, sekaligus ekonomis.




