Permintaan furnitur kayu global diperkirakan terus meningkat hingga 2031 seiring berkembangnya sektor properti, renovasi hunian, industri perhotelan, serta meningkatnya kesadaran konsumen terhadap produk berkelanjutan. Kondisi ini membuka peluang besar bagi Indonesia, salah satu produsen furnitur dan produk kerajinan kayu terbesar di dunia.
Laporan terbaru lembaga riset pasar Mordor Intelligence menunjukkan nilai pasar furnitur kayu dunia mencapai US$ 415,16 miliar pada 2026, meningkat dari US$ 401,38 miliar pada 2025. Dalam lima tahun ke depan, pasar tersebut diproyeksikan tumbuh rata-rata 4,48 persen per tahun hingga mencapai US$ 433,76 miliar pada 2031.
Pertumbuhan pasar didorong oleh meningkatnya kebutuhan furnitur untuk sektor perumahan, perkantoran, pendidikan, kesehatan, hingga industri perhotelan yang mulai kembali melakukan ekspansi dan renovasi pascapandemi. Selain itu, tren desain interior yang mengedepankan material alami dan ramah lingkungan turut memperkuat posisi furnitur berbahan kayu di pasar global.
Kawasan Asia-Pasifik menjadi motor utama pertumbuhan industri ini. Negara-negara seperti Vietnam, India, dan Indonesia dinilai memiliki daya saing tinggi berkat ketersediaan bahan baku, kapasitas produksi, serta kemampuan menghadirkan produk dengan sentuhan kerajinan yang bernilai tambah.
Di pasar global, furnitur kayu tidak lagi dipandang sekadar produk fungsional. Konsumen kini semakin mencari produk yang memiliki cerita, keaslian material, dan nilai keberlanjutan. Karena itu, sertifikasi pengelolaan hutan berkelanjutan seperti Forest Stewardship Council (FSC) dan Programme for the Endorsement of Forest Certification (PEFC) menjadi salah satu faktor penting dalam keputusan pembelian, terutama di Amerika Utara dan Eropa.
Laporan tersebut juga mencatat pertumbuhan pesat penjualan furnitur melalui platform digital. Perkembangan teknologi memungkinkan konsumen memesan furnitur yang dapat dikustomisasi sesuai kebutuhan melalui simulasi desain tiga dimensi. Model bisnis ini memperluas akses pasar sekaligus mempercepat proses produksi dan distribusi.
Selain sektor rumah tangga yang masih mendominasi lebih dari 65 persen pasar furnitur kayu dunia, permintaan dari sektor perhotelan diperkirakan menjadi yang paling cepat tumbuh hingga 2031. Hotel, resor, dan kawasan komersial kini semakin banyak menggunakan furnitur kayu modular yang mudah diperbaiki, memiliki umur pakai panjang, serta mendukung konsep pembangunan berkelanjutan.
Bagi Indonesia, tren tersebut menjadi peluang strategis untuk meningkatkan ekspor furnitur dan produk kerajinan berbahan kayu. Selama ini, produk furnitur Indonesia dikenal memiliki keunggulan pada kualitas pengerjaan, desain artistik, serta penggunaan material alami yang berasal dari kekayaan sumber daya hutan tropis dan hasil hutan rakyat.
Pelaku industri menilai tren global yang mengarah pada furnitur organik, bentuk-bentuk natural, serta produk buatan tangan menjadi momentum bagi perajin dan produsen nasional untuk memperkuat posisi di pasar internasional. Produk furnitur berbahan kayu jati, mahoni, suar, hingga berbagai kombinasi material alami kini semakin diminati konsumen yang mencari keseimbangan antara fungsi, estetika, dan keberlanjutan.
Di tengah meningkatnya permintaan dunia, tantangan industri ke depan tidak hanya terletak pada kapasitas produksi, tetapi juga kemampuan memenuhi standar lingkungan, ketertelusuran bahan baku, serta inovasi desain yang sesuai dengan perkembangan gaya hidup global. Jika mampu menjawab tantangan tersebut, industri furnitur kayu Indonesia berpeluang menjadi salah satu pemain utama dalam pasar furnitur dunia yang nilainya diperkirakan melampaui US$ 433 miliar pada akhir dekade ini.
Sumber: Mordor Intelligence, Wood Furniture Market Size & Share Analysis – Growth Trends and Forecast (2026–2031).





