Lingkaran menjadi bentuk yang terus berulang dalam karya-karya perupa muda Andra Semesta. Bukan sekadar pilihan estetika, bentuk bulat bagi seniman kelahiran Jakarta, 28 April 1991, itu telah berkembang menjadi bahasa visual yang merekam perjalanan kreatifnya selama lebih dari satu dekade.
Melalui pameran bertajuk “Genealogi Kanvas Bulat” yang dibuka pada 4 Juni 2026 di spaCCCe, Grand Wijaya Center, Jakarta Selatan, Andra mengajak publik menelusuri arsip visual yang lahir dari pertemuan antara musik, intuisi, memori, dan ekspresi spontan. Pameran tersebut juga akan diisi pertunjukan melukis langsung yang dipadukan dengan musik dari Logic Lost.
Lulusan Global Jaya School yang sempat menempuh pendidikan seni di Bellerbys College Brighton, Inggris, dan melanjutkan studi Fine Art di Wimbledon College of Arts, London, itu dikenal melalui proyek jangka panjang bertajuk “Music Mandalas”. Dalam proyek tersebut, Andra menerjemahkan pengalaman mendengarkan musik ke dalam bentuk visual abstrak di atas kanvas berbentuk lingkaran.
Pengalaman artistik yang selama ini menuntunnya melakukan berbagai eksperimen visual, menurut Andra, berkembang layaknya proses membangun gagasan. Setiap karya menjadi semacam catatan harian visual yang merekam respons emosional terhadap bunyi, ritme, nada, dan suasana yang ia rasakan ketika mendengarkan musik.
Karya-karya seperti Colour Composition Mandala (2015), BRAT (2024), hingga 3uphoria 8ound (2026) memperlihatkan evolusi pendekatan tersebut. Warna-warna yang bertabrakan, garis-garis spontan, serta pola yang menyerupai mandala menjadi jejak perjalanan artistik yang terus berkembang dari waktu ke waktu.
Bagi Andra, bentuk bulat bukan hadir tanpa alasan. Setelah bertahun-tahun menggunakannya sebagai medium utama, lingkaran perlahan membentuk cara berpikir dan cara pandangnya terhadap seni. Bentuk tersebut dianggap mewakili gagasan tentang keutuhan, kesinambungan, dan ruang yang tidak memiliki titik awal maupun akhir.
“Bulat menjadi ekspresi keutuhan atas pemilihan dalam meletakkan gagasan di ruang lukis. Pengaruh musik dengan irama, tangga nada, dan berbagai tone yang menghangatkan telinga membuat nilai bulatan itu terus bertumbuh dan berkembang,” ujar Andra.
Kurator pameran melihat praktik yang dilakukan Andra bukan sekadar eksperimen formal, melainkan upaya membangun genealogi visual dari arsip-arsip personal yang diciptakan secara konsisten. Proses yang menyerupai jurnaling itu memperlihatkan bagaimana pengalaman sehari-hari dapat berubah menjadi karya yang memiliki nilai estetika sekaligus narasi yang berlapis.
Melalui “Genealogi Kanvas Bulat”, publik diajak memahami bahwa sebuah lukisan tidak selalu berangkat dari objek yang terlihat. Dalam karya Andra Semesta, musik menjadi titik awal yang kemudian menjelma menjadi warna, garis, dan komposisi. Dari sana lahir mandala-mandala personal yang terus bergerak, merekam perjalanan batin sekaligus pencarian artistik seorang seniman terhadap makna keutuhan.





