Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat kerja sama industri global melalui partisipasi dalam BRICS Forum on Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) 2026 yang berlangsung di Xiamen, Tiongkok. Forum yang mengusung tema “Fostering an Intelligent Manufacturing Ecosystem to Accelerate the New Industrial Revolution” itu menjadi ajang bagi negara-negara anggota dan mitra BRICS untuk membahas pengembangan manufaktur cerdas di tengah percepatan transformasi industri dunia.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Indonesia memandang kolaborasi internasional sebagai faktor penting dalam menghadapi perubahan lanskap industri global yang semakin dipengaruhi oleh perkembangan kecerdasan buatan, robotika, industrial internet, dan teknologi berbasis data. Menurut dia, penguatan kerja sama dalam bidang teknologi, investasi, dan pengembangan sumber daya manusia menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing industri nasional.
“Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kerja sama dalam menghadapi transformasi industri global melalui pengembangan teknologi cerdas, standar industri masa depan, serta penguatan sumber daya manusia industri,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 9 Juni 2026.
Bagi Indonesia, pengembangan ekosistem manufaktur cerdas sejalan dengan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0 yang menitikberatkan pada digitalisasi industri, hilirisasi, pengembangan industri hijau, serta pemanfaatan teknologi modern untuk meningkatkan nilai tambah sektor manufaktur. Pemerintah menilai langkah tersebut penting untuk menjaga ketahanan industri nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Kemenperin, Tri Supondy, yang mewakili Indonesia dalam forum tersebut, mengatakan BRICS PartNIR menjadi wadah strategis untuk memperluas dialog kebijakan, memperkuat kemitraan industri, serta mendorong transfer teknologi antarnegara berkembang.
Menurut Tri, kolaborasi antarnegera berkembang memiliki peran penting dalam menciptakan pertumbuhan industri yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Melalui forum itu, negara-negara peserta dapat memperkuat sinergi dalam pengembangan teknologi industri, inovasi, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Dalam forum tersebut, Indonesia menyoroti tiga prioritas pengembangan industri masa depan, yakni digitalisasi dan pembangunan smart factory, transformasi industri hijau berbasis energi bersih, serta penguatan inovasi dan kompetensi tenaga kerja industri. Ketiga aspek itu dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun sektor manufaktur yang adaptif terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan pasar global.
Partisipasi Indonesia juga diperkuat melalui keberhasilan delapan tim nasional melaju ke babak final BRICS Industrial Innovation Contest Global Final 2026. Para finalis berasal dari berbagai kategori strategis, mulai dari kecerdasan artifisial, industri hijau, teknologi rendah ketinggian (low-altitude technology), hingga elektronika energi. Sejumlah perusahaan dan institusi pendidikan yang mewakili Indonesia antara lain PT Meulaboh Power Generation, PT Dayantani Digital Indonesia, PT DSSP Power Kendari, Sampoerna University, MooApps, PT Avirtech Solusi Teknologi, PT SKS Listrik Kalimantan, dan Universitas Bunda Mulia.
Kemenperin berharap keikutsertaan Indonesia dalam BRICS PartNIR Forum 2026 dapat membuka peluang kerja sama baru di bidang teknologi dan investasi industri. Pemerintah juga menilai sinergi global dalam pengembangan industri cerdas akan menjadi salah satu faktor penting untuk memperkuat daya saing manufaktur Indonesia di tengah persaingan ekonomi dunia yang semakin ketat.





