YOGYAKARTA – Pelaku usaha kriya yang mengikuti INACRAFT Festival Yogyakarta 2026 menilai penyelenggaraan perdana pameran di luar Jakarta membawa peluang baru bagi pasar kerajinan nasional. Meski jumlah pengunjung dinilai belum seramai yang diharapkan, kualitas transaksi dinilai cukup menjanjikan karena mayoritas pengunjung datang dengan niat berbelanja.
Hal itu disampaikan Zahra, pemilik Batik Domas, yang menjadi salah satu peserta dalam INACRAFT Festival Yogyakarta 2026 yang berlangsung pada 15–19 Juli 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta.
Menurut Zahra, keikutsertaannya pada festival tersebut merupakan pengalaman pertama. Ia menilai penyelenggaraan secara keseluruhan berjalan baik, meskipun arus pengunjung belum seramai penyelenggaraan INACRAFT di Jakarta.
“Secara keseluruhan sudah bagus. Hanya saja untuk traffic pengunjung menurut saya masih kurang ramai,” katanya.
Meski demikian, ia mengaku pameran tetap mampu memenuhi ekspektasinya. Keputusan mengikuti pameran bahkan dilakukan dalam waktu yang relatif singkat, namun tidak mengurangi keyakinannya untuk berpartisipasi dalam ajang tersebut.
Zahra menilai pola kunjungan pengunjung selama pameran cukup fluktuatif. Pada waktu tertentu, stan dipadati pengunjung secara bersamaan, sementara di waktu lain kondisi relatif lengang. Karena itu, menurutnya sulit menentukan jumlah pengunjung ideal setiap hari.
Yang menarik, kata dia, kualitas pengunjung justru menjadi nilai positif. Pada hari pertama penyelenggaraan, sebagian besar pengunjung yang datang ke stan Batik Domas langsung melakukan pembelian setelah melihat koleksi produk.
“Kalau hari pertama, banyak yang lihat, mencoba, lalu langsung membeli,” ujarnya.
Memasuki hari kedua, pola belanja mulai berubah. Pengunjung masih menunjukkan minat terhadap produk, tetapi lebih banyak membandingkan pilihan, menawar harga, atau menunda keputusan pembelian sebelum kembali berkeliling area pameran.

Meski transaksi sedikit melambat, Zahra tetap optimistis kondisi tersebut merupakan dinamika yang lazim terjadi pada pameran berskala besar.
Selain memberikan apresiasi terhadap fasilitas penyelenggaraan yang dinilainya bersih dan tertata, Zahra juga menyampaikan sejumlah masukan kepada panitia. Ia berharap petugas di lapangan lebih sigap memperhatikan kebutuhan pengunjung maupun peserta pameran, terutama kelompok lanjut usia.
Menurut dia, kepedulian terhadap kenyamanan pengunjung merupakan bagian penting dari kualitas pelayanan sebuah festival internasional.
“Saya berharap kru lebih peka terhadap kondisi di sekitar, terutama kepada pengunjung lansia yang mungkin membutuhkan bantuan atau tempat duduk,” katanya.
Bagi Batik Domas, penyelenggaraan perdana INACRAFT Festival Yogyakarta menjadi langkah awal yang positif dalam memperluas pasar kerajinan nasional. Dengan berbagai penyempurnaan pada penyelenggaraan berikutnya, pameran ini dinilai berpotensi menjadi agenda penting yang mampu mempertemukan pelaku UMKM, pembeli, dan pencinta produk kriya dari berbagai daerah maupun mancanegara. (Reporter: Angga/Riska)





