Hampir 50 seniman dari berbagai kota di Indonesia berkumpul dalam satu ruang pamer untuk merespons situasi sosial yang tengah dihadapi masyarakat. Melalui Pameran Seni Rupa Silang Rupa, mereka menghadirkan beragam tafsir tentang harapan, perubahan, hingga perjalanan hidup yang dituangkan ke dalam medium lukisan.
Pameran yang diselenggarakan oleh 3ART Management 1A itu berlangsung di Hotel New Saphir, Yogyakarta, pada 18 Juli hingga 28 Agustus 2026. Para peserta berasal dari sejumlah daerah yang selama ini aktif menggelar pameran seni, sehingga menghadirkan beragam perspektif dalam memandang Indonesia hari ini.
Subjudul pameran, “Menatap Indonesia Hari Ini”, menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh karya. Tema tersebut tidak dimaknai sebagai potret tunggal tentang kondisi bangsa, melainkan kumpulan pandangan para seniman terhadap realitas sosial yang mereka alami dan saksikan sehari-hari.
Berbagai karya menampilkan respons atas perubahan zaman, dinamika kehidupan masyarakat, hingga pergulatan batin yang lahir dari pengalaman personal. Meski berangkat dari latar belakang yang berbeda, sebagian besar karya memperlihatkan benang merah berupa harapan akan masa depan yang lebih baik.
Penyelenggara menilai ruang pamer menjadi tempat bertemunya berbagai pengalaman hidup yang kemudian diterjemahkan menjadi bahasa visual. Lukisan-lukisan yang dipamerkan tidak hanya merekam kenyataan, tetapi juga menyampaikan optimisme yang tumbuh dari setiap proses kehidupan.
Kurator sekaligus penggagas pameran, Eivy Desiyanti, mengatakan Silang Rupa berupaya menghadirkan ruang yang mempertemukan berbagai peristiwa, emosi, kenangan, dan harapan dalam satu narasi bersama. Menurut dia, seni memiliki kemampuan untuk menjadi penghubung antarpengalaman yang berbeda-beda.
Pameran ini menjadi penanda bahwa berbagai peristiwa, emosi, kenangan, dan asa dapat dipertemukan dalam sebuah keyakinan bahwa selalu ada kemungkinan untuk tumbuh, pulih, melangkah ke masa depan yang lebih baik, dan menemukan cahaya di tengah berbagai perubahan.
Ia menambahkan, setiap perjalanan hidup selalu menyimpan peluang untuk berkembang meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan. “Selalu ada kemungkinan dalam setiap langkah perjalanan hidup ini. Tumbuh, berubah, dan pulih merupakan kemungkinan yang dapat dibaca dalam perjalanan hidup,” ujarnya.
Melalui Silang Rupa, para seniman tidak sekadar memamerkan kemampuan artistik, tetapi juga mengajak publik membaca ulang realitas sosial dari sudut pandang yang lebih reflektif. Beragam gaya visual yang hadir memperlihatkan bahwa perbedaan pengalaman dan asal-usul justru menjadi kekuatan untuk membangun dialog tentang Indonesia hari ini, sekaligus menumbuhkan harapan terhadap masa depan. (FA)




