• Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan
Inacraft News
Inacraft Yogyakarta 2026
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
Inacraft News
No Result
View All Result
Home Art

Maestro Seni Rupa Indonesia Nasirun Tutup Usia

Eddy Purwanto by Eddy Purwanto
August 1, 2026
in Art, Figure
0
Maestro Seni Rupa Indonesia Nasirun Tutup Usia
0
SHARES
8
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

YOGYAKARTA – Dunia seni rupa Indonesia berduka. Maestro seni rupa Indonesia, Nasirun, meninggal dunia pada Sabtu pagi, 1 Agustus 2026, di Yogyakarta dalam usia 60 tahun.

Kabar duka itu dibenarkan oleh keluarga dan sejumlah kolega seniman setelah Nasirun mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 05.30 WIB di RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta. Berdasarkan surat keterangan kematian dari rumah sakit, ia dinyatakan meninggal pada pukul 05.58 WIB.

Kepergian Nasirun mengejutkan banyak kalangan. Menurut kerabat dan tetangganya, pelukis kelahiran Cilacap itu masih beraktivitas seperti biasa sehari sebelumnya. Dalam beberapa waktu terakhir ia sempat mengeluhkan nyeri dada dan gangguan asam lambung, namun tidak memiliki riwayat penyakit berat.

Nasirun lahir di Cilacap, Jawa Tengah, pada 1 Oktober 1965. Berasal dari keluarga sederhana di kawasan pesisir selatan Jawa, ia telah menunjukkan ketertarikan pada seni sejak kecil. Dunia wayang, kisah-kisah rakyat, dan tradisi Jawa menjadi bagian penting yang membentuk imajinasi artistiknya.

Pada 1983 ia hijrah ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan seni, mempelajari Seni Kriya Batik sebelum melanjutkan studi Seni Murni di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), yang kemudian menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Selama lebih dari tiga dekade berkarya, Nasirun dikenal sebagai salah satu perupa paling produktif di Indonesia. Lukisan-lukisannya memadukan simbol-simbol budaya Jawa, tokoh wayang, kaligrafi, cerita mistik, hingga nilai-nilai tasawuf Islam.

Seluruh unsur tersebut ia tafsirkan ulang menjadi bahasa visual kontemporer yang khas, penuh humor, kritik sosial, sekaligus spiritualitas. Gaya ekspresifnya membuat karya-karyanya mudah dikenali dan menjadi salah satu identitas penting seni rupa Indonesia di tingkat internasional.

Kiprah Nasirun tidak hanya dikenal di dalam negeri. Ia telah mengikuti ratusan pameran di Indonesia maupun mancanegara. Sejumlah pameran tunggal yang menjadi tonggak perjalanan kreatifnya antara lain “Uwuh Seni” di Galeri Salihara Jakarta (2012), “Breath of Nasirun” di Mizuma Gallery, Tokyo (2014), “RUN–Embracing Diversity” di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (2016), “Wirid on Canvas” (2018), “Menafsir Borobudur” (2020), “Metajagad Nasirun” (2021), hingga “Perayaan Persahabatan” di Museum OHD Magelang pada 2023.

Prestasi Nasirun juga diakui melalui berbagai penghargaan bergengsi, di antaranya penghargaan Seni Lukis Terbaik ISI Yogyakarta, McDonald’s Award pada Lustrum X ISI Yogyakarta, serta Philip Morris Award 1997.

Pada 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memilihnya sebagai salah satu maestro dalam program Belajar Bersama Maestro, yang mempertemukan seniman senior dengan generasi muda untuk mewariskan pengalaman dan pengetahuan berkesenian.

Bagi banyak pelaku seni, Nasirun bukan sekadar pelukis, melainkan penjaga ingatan budaya. Ia berhasil membangun jembatan antara tradisi Jawa dengan praktik seni rupa kontemporer tanpa kehilangan akar lokalnya.

Di tengah derasnya arus globalisasi, karya-karyanya menjadi penanda bahwa identitas budaya dapat terus hidup melalui bahasa visual yang segar dan relevan.

Kepergian Nasirun meninggalkan kehilangan besar bagi dunia seni rupa Indonesia. Namun, ratusan karya yang telah ia ciptakan, bersama gagasan-gagasan tentang tradisi, spiritualitas, dan kemanusiaan, akan terus menjadi warisan penting bagi perkembangan seni Indonesia di masa mendatang.

 

Tags: ISI YogyakartaNasirunseni rupa
Previous Post

50 Seniman Merespons Realitas Sosial Lewat Silang Rupa

Please login to join discussion

E-Magazine Inacraft News

Warta Inacraft

INACRAFT NEWS

INACRAFT NEWS diterbitkan oleh Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (BPP ASEPHI)

Jl. Wijaya I No.3A, – Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12170
Phone: (62 21) 725 2032, 725 2033, 725 2063
Fax.: (62 21) 725 2062
Email: redaksi@inacraftnews.com

Redaksi

  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Network

  • ASEPHI
  • Inacraft Award
  • Inacraft
  • Emerging Award
  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo

No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo