Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) memperkuat ekosistem industri kriya di Daerah Istimewa Yogyakarta melalui kerja sama dengan manajemen Jogja Expo Center (JEC). Kemitraan itu ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman untuk penyelenggaraan Road to INACRAFT Festival di JEC periode 2027-2029.
Nota Kesepahaman tersebut diteken di Gedung JEC, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, Selasa, 4 Agustus 2026. Ketua Umum ASEPHI Dr. H. Muchsin Ridjan, SE., MM. mewakili organisasi dalam penandatanganan kerja sama tersebut.
Kemitraan ini menjadi bagian dari strategi ASEPHI memperluas ruang promosi dan pemasaran produk kriya sekaligus mempertemukan perajin dengan pasar, pembeli, desainer, dan investor. ASEPHI juga menyiapkan penyelenggaraan INACRAFT Festival Yogyakarta 2027 pada 7-11 Juli 2027 di JEC.
Direktur Utama PT Surya Abhinaya Sentosa yang mengelola JEC, Endro Wardoyo, mengatakan Road to INACRAFT Festival merupakan rangkaian kegiatan pendahuluan menuju INACRAFT, pameran kerajinan dan produk kreatif Indonesia.
“Road to INACRAFT Festival adalah rangkaian acara pendahuluan atau pra-acara menuju pameran kerajinan tangan terbesar di Asia Tenggara, yaitu International Handicraft Trade Fair atau INACRAFT,” kata Endro.
Menurut Endro, kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada pameran dan transaksi. Program itu juga menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat ekosistem kriya nasional, mempromosikan UMKM, serta mempertemukan perajin, desainer, pembeli, dan investor.
Konsep tersebut telah diterapkan dalam INACRAFT Festival Yogyakarta yang berlangsung di JEC pada 15-19 Juli 2026. Selain pameran produk, kegiatan itu diisi dengan pameran wastra, workshop, bincang-bincang kreatif, serta pertunjukan seni dan budaya lokal.
Bagi ASEPHI, Yogyakarta memiliki posisi penting dalam pengembangan industri kriya nasional. Daerah ini memiliki ekosistem perajin, desainer, pelaku UMKM, komunitas kreatif, serta industri pariwisata yang dapat menjadi pasar sekaligus saluran promosi produk kerajinan.
Wakil Ketua Umum Kadin DIY yang juga pembina perajin handycraft DIY, Robby Kusumaharta, mengatakan potensi kerajinan tangan di Yogyakarta dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, perkembangan aktivitas do it yourself atau pembuatan produk secara mandiri. Kedua, pertumbuhan industri kreatif DIY yang telah menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia.
“Aktivitas membuat kerajinan tangan sendiri kini bukan lagi sekadar hobi pengisi waktu luang, melainkan telah bertransformasi menjadi peluang bisnis rumahan yang sangat menjanjikan,” ujar Robby.
Menurut Robby, konsumen saat ini semakin menghargai produk yang unik dan memiliki tingkat personalisasi tinggi. Produk seperti aksesori custom, boneka rajut amigurumi, hingga dekorasi rumah memiliki nilai estetika yang berbeda dari produk yang dibuat secara massal.
Robby yang juga Komisaris Utama PT Surya Abhinaya Sentosa menilai ruang pamer menjadi penting untuk mempertemukan kreativitas tersebut dengan pasar. Pameran dapat menjadi pintu masuk bagi perajin untuk mendapatkan pembeli baru sekaligus membangun jejaring bisnis.
Sementara itu, Endro menegaskan JEC mendukung langkah ASEPHI mengembangkan industri handycraft di Yogyakarta.
“MoU yang dilakukan bersama ASEPHI merupakan bentuk atau wujud dukungan kami terhadap pengembangan handycraft di DIY,” kata Endro.
Manajemen JEC, kata dia, akan memberikan dukungan dan prioritas kepada asosiasi maupun komunitas handycraft yang hendak menyelenggarakan pameran di JEC.
Bagi ASEPHI, kerja sama tersebut bukan sekadar persoalan tempat penyelenggaraan pameran. Kemitraan ini menjadi bagian dari upaya membangun kesinambungan promosi produk kriya dari daerah menuju pasar nasional dan internasional.
Melalui Road to INACRAFT Festival, perajin dan pelaku usaha kriya diharapkan memiliki lebih banyak kesempatan untuk menguji pasar, memperkenalkan produk, membangun jejaring bisnis, dan meningkatkan kapasitas sebelum masuk ke pasar yang lebih luas.
Agenda tersebut akan berlanjut pada INACRAFT Festival Yogyakarta 2027 pada 7-11 Juli 2027. ASEPHI bersama mitra penyelenggara menargetkan festival tersebut menjadi salah satu ruang penting bagi perajin dan pelaku industri kreatif untuk memperkuat posisi produk kriya Yogyakarta sekaligus memperluas akses pasar.





