Indonesia dan Afrika Selatan berupaya mempererat hubungan kebudayaan dengan menjadikan warisan Sheikh Yusuf Al-Makassari sebagai salah satu pijakan kerja sama. Komitmen itu dibahas Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Menteri Olahraga, Seni, dan Kebudayaan Afrika Selatan Gayton McKenzie di sela-sela XI BRICS Culture Ministers’ Meeting di Bhopal, Madhya Pradesh, India, pada 7 Agustus 2026.
Pertemuan bilateral tersebut tidak sekadar membicarakan agenda kebudayaan. Kedua negara melihat sejarah panjang hubungan masyarakat Indonesia dan Afrika Selatan sebagai modal untuk memperkuat kerja sama di masa mendatang.
Fadli Zon mengatakan hubungan kedua negara tidak hanya terbentuk melalui jalur diplomatik, tetapi juga melalui sejarah yang telah berlangsung selama berabad-abad. Dalam konteks itu, kebudayaan dinilai dapat menjadi jembatan yang mempertemukan masyarakat kedua negara.
“Indonesia sangat menghargai persahabatan yang erat dengan Afrika Selatan. Kita adalah dua negara yang memiliki komitmen terhadap keadilan dan keberagaman, serta meyakini bahwa kebudayaan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat kedua negara,” kata Fadli.
Salah satu warisan sejarah yang menjadi perhatian adalah Sheikh Yusuf Al-Makassari, ulama dan tokoh asal Sulawesi Selatan yang memiliki hubungan erat dengan sejarah Afrika Selatan. Peringatan 400 tahun kelahiran Sheikh Yusuf pada 2026 dinilai menjadi momentum untuk menghidupkan kembali hubungan historis tersebut dalam bentuk kerja sama kebudayaan yang lebih konkret.
Fadli mengatakan peringatan tersebut dapat dikembangkan melalui sejumlah program, mulai dari peringatan bersama, riset akademik, pelestarian warisan budaya, kolaborasi museum, hingga pertukaran pendidikan.
“Peringatan 400 tahun kelahiran Sheikh Yusuf merupakan momentum penting untuk memperkuat kerja sama Indonesia dan Afrika Selatan,” ujarnya.
Selain warisan Sheikh Yusuf, pemerintah Indonesia menaruh perhatian pada komunitas Cape Malay di Afrika Selatan yang memiliki akar sejarah dari Nusantara. Komunitas tersebut dianggap menjadi salah satu penghubung penting hubungan masyarakat kedua negara.
Kerja sama dapat diperluas melalui pertukaran budaya, dokumentasi sejarah lisan, pelindungan warisan budaya takbenda, program kepemudaan, serta penelitian akademik. Dengan pendekatan itu, hubungan sejarah tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, tetapi dapat menjadi bagian dari hubungan kebudayaan kontemporer.
Indonesia juga tengah mempersiapkan pendirian Sheikh Yusuf Indonesian Cultural House di Cape Town. Rumah budaya tersebut dirancang sebagai pusat diplomasi kebudayaan, pendidikan, riset, dan kegiatan seni sekaligus ruang pertemuan masyarakat.
“Kami melihat Sheikh Yusuf Indonesian Cultural House bukan sekadar sebuah bangunan kebudayaan. Ini dapat menjadi pusat diplomasi budaya, ruang pendidikan dan riset, tempat berkumpul masyarakat, sekaligus simbol persahabatan Indonesia dan Afrika Selatan yang akan bertahan untuk generasi mendatang,” kata Fadli.
Di tingkat kelembagaan, kedua negara juga mendorong pembaruan Nota Kesepahaman Kerja Sama Kebudayaan yang ditandatangani pada 2008. Pembaruan diperlukan agar kerja sama tersebut dapat menyesuaikan dengan perkembangan dan prioritas kedua negara saat ini.
Sejumlah bidang yang akan diperkuat mencakup warisan budaya, museum, arsip, industri kreatif, perfilman, pendidikan kebudayaan, pertukaran seniman, serta program kepemudaan.
Gayton McKenzie menyatakan dukungannya terhadap peringatan 400 tahun Sheikh Yusuf. Ia juga berkomitmen memperkuat hubungan Indonesia dan Afrika Selatan melalui pertukaran komunitas Cape Malay, seniman, serta pelaku budaya. McKenzie menyambut baik rencana pendirian Sheikh Yusuf Indonesian Cultural House di Cape Town.
Pertemuan itu dihadiri antara lain Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retnoastuti, Kuasa Usaha Ad Interim KBRI New Delhi Yudho Sasongko, serta Direktur Kerja Sama Kebudayaan Mardisontori. Dari pihak Afrika Selatan hadir staf khusus Menteri Olahraga, Seni, dan Kebudayaan Charles Cilliers, Direktur Multilateral dan Sumber Daya Cleon Noah, serta Direktur Kebijakan Warisan Budaya, Riset, dan Pengembangan Sektor Kgomotso Mokgethi.
Kedua negara sepakat menjadikan sejarah bersama sebagai landasan untuk membangun kerja sama kebudayaan yang lebih konkret. Warisan Sheikh Yusuf dan komunitas Cape Malay menjadi pintu masuk untuk memperkuat hubungan antarmasyarakat Indonesia dan Afrika Selatan, bukan hanya sebagai bagian dari sejarah, tetapi sebagai modal kebudayaan untuk generasi mendatang.





