Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyambut baik rencana kerja sama dengan Indonesia International Handicraft Trade Fair (INACRAFT) dalam pengembangan industri kreatif berbasis riset dan inovasi. Kolaborasi ini dinilai dapat menjadi jembatan agar hasil penelitian BRIN lebih dekat dengan kebutuhan sektor kerajinan, fesyen, dan industri kreatif lainnya.
Rencana kerja sama tersebut mengemuka dalam pertemuan BRIN dengan penyelenggara INACRAFT untuk membahas persiapan INACRAFT Oktober 2026 yang mengusung tema “Youthpreneurs: Technocraft”.
Dalam pertemuan itu hadir Project Officer INACRAFT Syamsul Huda, Sekretaris Jenderal Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) Azis Bakhtiar, serta Salamun dari EO Mediatama Event.
Pertemuan membahas peluang mempertemukan riset, teknologi, dan kreativitas untuk memperkuat industri kerajinan nasional, terutama dalam mendorong lahirnya wirausaha muda atau youthpreneur berbasis teknologi.
Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, Dr. R. Hendrian, M.Sc., mendorong agar rencana kerja sama tersebut segera memiliki landasan formal melalui nota kesepahaman atau MoU.
“Pada intinya, kami menyambut baik kerja sama ini dan bahkan mendorong kalau bisa sesegera mungkin ada MoU,” kata Hendrian.
MoU dapat menjadi payung untuk merumuskan berbagai bentuk kerja sama BRIN dan INACRAFT. Kerangka tersebut kemudian dapat diturunkan ke dalam perjanjian kerja sama (PKS) yang lebih konkret, antara lain pemanfaatan hasil riset, hilirisasi, pameran, pendampingan, dan pengembangan kapasitas pelaku industri kreatif.
Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah memasukkan kolaborasi tersebut ke dalam program Rumah Inovasi Indonesia yang tengah diinisiasi BRIN. Program ini dapat menjadi ruang untuk mempertemukan inovasi, riset, industri, dan generasi muda.
“Apakah nanti bentuknya pendampingan untuk anak-anak muda, youthpreneur, exhibition, atau bentuk-bentuk yang lain, nanti bisa sambil jalan kita kembangkan,” ujar Hendrian.
Potensi kolaborasi cukup luas karena BRIN memiliki sekitar 87 pusat riset dengan bidang penelitian yang beragam. Riset sosial-humaniora, kajian kebijakan, material, kimia, hingga rekayasa dapat dikaitkan dengan kebutuhan industri kreatif.
Salah satu contoh adalah pengembangan batik dengan malam berbahan sawit. Inovasi tersebut dapat dikaitkan dengan pengembangan industri batik sekaligus membuka peluang pemanfaatan hasil riset untuk produk kreatif.
“Seperti ada penemuan batik malam dari sawit itu. Itu kan nanti bisa dikaitkan dengan kreativitas pada industri batik,” kata Hendrian.
Peluang lain berada pada perlindungan kekayaan intelektual, termasuk paten komunal untuk melindungi pengetahuan dan karya komunitas perajin batik, tenun, dan kerajinan tradisional lainnya.
“Bisa juga kita masuk dari sisi paten komunal, memproteksi teman-teman perajin batik, perajin tenun, dan sebagainya,” ujarnya.
Kerja sama untuk perlindungan kekayaan intelektual dapat melibatkan Kementerian Hukum melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Adapun dari sisi material, peneliti BRIN di bidang kimia dan material dapat mendukung pengembangan bahan yang sesuai untuk kebutuhan fesyen maupun produk kreatif lainnya.
Cakupan riset BRIN juga memungkinkan kerja sama menyentuh komunitas dan pelaku usaha yang membutuhkan pendampingan. Sektor industri dan masyarakat dapat menjadi bagian dari ekosistem kolaborasi tersebut.
“Tidak sebatas hanya yang bersifat teknis, tapi juga yang sifatnya sosial-humaniora, kajian kebijakan,” kata Hendrian.
BRIN Goes to Industry
Sebagai langkah awal, BRIN membuka peluang melibatkan INACRAFT dalam program BRIN Goes to Industry yang direncanakan mengangkat tema pariwisata dan industri kreatif.
INACRAFT dapat dilibatkan sebagai peserta maupun narasumber untuk memberikan perspektif industri. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang pertemuan antara peneliti dan pelaku usaha sehingga riset yang dikembangkan lebih dekat dengan kebutuhan pasar.
Pertemuan lanjutan juga direncanakan dengan melibatkan para peneliti dari berbagai pusat riset BRIN yang memiliki keterkaitan dengan industri kreatif. Pertemuan tersebut diharapkan menghasilkan gagasan yang lebih konkret mengenai bidang riset yang dapat dikembangkan bersama.
Pertemuan dengan peneliti secara langsung diharapkan memperkaya substansi kerja sama sekaligus membantu menyusun bentuk PKS yang lebih spesifik. BRIN akan berperan sebagai fasilitator untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan kompetensi para peneliti.
Rencana kolaborasi tersebut sejalan dengan tema INACRAFT Oktober 2026, “Youthpreneurs: Technocraft”. Teknologi dan inovasi menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengembangkan usaha kerajinan yang tidak hanya bertumpu pada tradisi, tetapi juga memiliki nilai tambah melalui riset.
Kolaborasi BRIN dan INACRAFT dapat mempertemukan tiga unsur: riset, teknologi, dan kreativitas. Hasil penelitian diharapkan tidak berhenti di laboratorium, melainkan dapat diterjemahkan menjadi produk, proses produksi, perlindungan kekayaan intelektual, hingga model bisnis baru.
INACRAFT memiliki ruang yang luas untuk menjadi etalase hasil riset sekaligus mempertemukan peneliti dengan pelaku industri. Ekosistem pameran kerajinan yang telah terbentuk dapat menjadi salah satu pintu masuk hilirisasi inovasi.
“Banyak sekali bidang-bidang riset yang mungkin potensial untuk dikaitkan,” ujar Hendrian.
Kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai dukungan terhadap penyelenggaraan pameran. Lebih jauh, kolaborasi diarahkan untuk mempercepat hilirisasi hasil riset dan memperkuat daya saing industri kreatif Indonesia.
Tahap berikutnya adalah merumuskan MoU, dilanjutkan dengan pertemuan bersama para peneliti dan penyusunan program konkret. Dengan cara itu, gagasan kerja sama BRIN dan INACRAFT dapat bergerak dari meja pertemuan menuju inovasi yang langsung menyentuh industri, komunitas perajin, dan generasi muda.




