Menteri Perdagangan Budi Santoso mengumpulkan pelaku usaha dalam CEO Gathering Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Surakarta, Jawa Tengah, Kamis, 20 Agustus 2026. Pertemuan itu menjadi bagian dari persiapan pemerintah menggenjot transaksi pada pameran dagang internasional yang akan digelar Oktober mendatang.
Budi mengajak pelaku usaha memanfaatkan TEI sebagai pintu masuk memperluas pasar ekspor. Menurut dia, pameran dagang tidak seharusnya berhenti pada pertemuan antara penjual dan pembeli. Pemerintah ingin membangun rangkaian promosi yang dimulai dari penjajakan bisnis, pertemuan dengan calon pembeli, penandatanganan kontrak, hingga pengawalan realisasi perdagangan.
“Kami mengajak para pelaku usaha untuk memanfaatkan TEI sebagai momentum untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan ekspor. Pemerintah dan dunia usaha perlu memiliki orientasi yang sama dalam menetapkan target ekspor serta memanfaatkan jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara,” ujar Budi dalam CEO Gathering.
TEI ke-41 akan berlangsung pada 14-18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten. Kementerian Perdagangan memasang target transaksi US$17,5 miliar, lebih tinggi dibanding target US$16,5 miliar pada penyelenggaraan tahun sebelumnya.
Untuk mengejar target tersebut, Kemendag memperkuat peran perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri, yang terdiri atas atase perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC).
Budi meminta proses pencarian calon pembeli dilakukan sebelum pameran dibuka. Data peserta TEI akan diberikan kepada perwakilan perdagangan untuk dipetakan dengan calon buyer yang sesuai.
“Kami tidak mau pelaku usaha Indonesia yang menjadi peserta pameran TEI hanya bertemu buyer ketika sudah di pameran. Kami sangat menekankan adanya business matching antara peserta TEI dan calon buyer terlebih dahulu sebelum bertemu di TEI ke-41,” kata Budi.
Menurut dia, pelaku usaha yang telah mendaftar dapat terlebih dahulu mempresentasikan produk kepada atase perdagangan atau ITPC. Dari proses tersebut, perwakilan perdagangan dapat mengidentifikasi calon buyer yang memiliki kebutuhan dan kapasitas sesuai dengan produk yang ditawarkan.
“Kalau ada yang belum jelas, Bapak dan Ibu bisa presentasi dulu kepada atase perdagangan dan ITPC. Jadi, ketika bertemu di pameran, pembahasannya sudah lebih konkret dan peluang transaksi semakin besar,” ujar Budi.
Pendekatan tersebut, kata dia, telah memberikan hasil pada penyelenggaraan TEI ke-40 pada 15-19 Oktober 2025. Pada hari pertama, sebanyak 137 dokumen kontrak dagang ditandatangani dengan nilai sekitar US$9,8 miliar.
Budi mengatakan capaian itu menunjukkan pentingnya mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli sebelum pameran. Dengan penjajakan lebih awal, pertemuan di arena TEI dapat diarahkan pada pembahasan bisnis yang lebih spesifik.
Peran pemerintah juga tidak berhenti setelah kontrak ditandatangani. Perwakilan perdagangan Indonesia di negara tujuan akan ikut memantau realisasi transaksi dan membantu pelaku usaha ketika menghadapi hambatan.
“Setelah kontrak ditandatangani, bisa saja ada masalah teknis atau aturan baru di negara tujuan. Di situlah perwakilan perdagangan mempunyai tanggung jawab untuk memfasilitasi penyelesaian kendalanya,” ujar Budi.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi mengatakan CEO Gathering kali ini diikuti 106 perusahaan anggota Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) dari Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari persiapan yang dilakukan Kemendag menjelang TEI ke-41. Menurut Fajarini, perusahaan-perusahaan yang memiliki kapasitas ekspor perlu memanfaatkan TEI sebagai salah satu saluran utama untuk bertemu buyer internasional.
“Melalui kegiatan strategis ini, kami berharap perusahaan-perusahaan unggulan Indonesia dapat memanfaatkan TEI secara optimal sebagai sarana promosi utama di hadapan buyer internasional,” kata Fajarini.
Dalam CEO Gathering tersebut, HIMKI juga menandatangani nota kesepahaman dengan PT Debindomulti Adhiswasti mengenai kemitraan strategis pengembangan promosi internasional industri furnitur dan home decor Indonesia.
Nota kesepahaman ditandatangani Direktur Utama PT Debindomulti Adhiswasti Vibiadhi Pradana dan Ketua HIMKI Abdul Sobur.
Abdul mengatakan Surakarta memiliki posisi strategis bagi industri furnitur dan kerajinan karena terhubung dengan sejumlah sentra produksi di sekitarnya, seperti Klaten, Yogyakarta, Sukoharjo, hingga Jepara.
Indonesia, kata dia, memiliki rantai industri yang relatif lengkap, mulai dari kayu, rotan, serat, bambu hingga desain. Persoalannya adalah bagaimana kapasitas tersebut diterjemahkan menjadi produk yang semakin kompetitif di pasar internasional.
Potensi tersebut menjadi penting bagi industri furnitur dan kerajinan karena kedua sektor itu tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan baku. Desain, kualitas produksi, keberlanjutan, kemampuan memenuhi standar pasar, serta akses kepada buyer ikut menentukan daya saing produk.
Pelaku usaha juga melihat TEI sebagai pintu untuk mempertahankan hubungan dagang sekaligus mencari pasar baru.
Hendra Sasmita dari CV Karya Indoprima mengatakan keikutsertaannya dalam TEI 2025 memberikan respons positif dari buyer, terutama dari kawasan Amerika Latin. Sejumlah permintaan bahkan masih berlanjut, termasuk dari Brasil.
Untuk TEI 2026, Hendra berharap pengelompokan khusus produk furnitur dapat mempertemukan produsen Indonesia dengan lebih banyak buyer yang memang mencari produk furnitur.
“Harapan kami pada TEI 2026, adanya hall khusus untuk furnitur di Hall 9 dan 10 tahun ini akan lebih banyak menarik buyer yang mencari furnitur Indonesia,” ujar Hendra.
Sementara itu, Fauzan dari Kriya Nusantara akan mengikuti TEI 2026 untuk pertama kalinya. Ia berharap pameran tersebut dapat membuka akses kepada buyer baru sekaligus memperluas pasar produknya.
Bagi Kemendag, target US$17,5 miliar bukan semata angka transaksi di arena pameran. Target tersebut bergantung pada seberapa jauh pertemuan antara pelaku usaha dan buyer dapat berubah menjadi kontrak dan kemudian terealisasi menjadi ekspor.
Karena itu, strategi TEI tahun ini diarahkan sejak sebelum pintu pameran dibuka: mencari buyer, mencocokkan kebutuhan, mempertemukan pelaku usaha, mengawal negosiasi, hingga membantu menyelesaikan hambatan setelah kontrak perdagangan ditandatangani.
Dengan skema tersebut, TEI diharapkan tidak berhenti sebagai etalase produk Indonesia, melainkan menjadi bagian dari mesin promosi ekspor yang menghubungkan produsen dalam negeri dengan pasar internasional.




