Biji Jenitri asal Kebumen, Jawa Tengah, menjadi komoditas yang diburu pembeli dari Cina, India, dan Nepal. Permintaan dari negara-negara tersebut memiliki karakter berbeda. Cina lebih banyak mencari jenitri berdasarkan ukuran dan motif, sedangkan India membeli dalam jumlah besar berdasarkan mukhi atau row untuk kebutuhan ibadah.
enitri atau Rudraksha merupakan biji dari buah pohon yang dalam literatur botani lama dikenal sebagai Elaeocarpus ganitrus. Namun, Plants of the World Online yang dikelola Royal Botanic Gardens, Kew, kini mencatat Elaeocarpus ganitrus sebagai sinonim dari Elaeocarpus sphaericus. Spesies tersebut termasuk keluarga Elaeocarpaceae. Buahnya berwarna biru/ungu. Dalam bahasa India disebut Rudrakhsa, berasal dari kata Rudra (nama lain Dewa Siwa) dan Aksha (air mata). Memiliki garis-garis alur di permukaannya yang disebut mukhi (wajah), dari 1 mukhi hingga lebih dari 20 mukhi.
Amin, petani jenitri di Dusun Karangjambe, Condongcampur, Kecamatan Sruweng, Kebumen, Jawa Tengah mengatakan buyer Cina datang langsung ke sentra perkebunan. Mereka membeli jenitri dalam jumlah besar. Untuk jenis tertentu, jumlah yang diperdagangkan mencapai ratusan ribu butir.

Bagi petani di kawasan perbukitan Sruweng, kedatangan buyer asing bukan lagi peristiwa luar biasa. Mereka datang dari kebun ke kebun, memilih buah yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Jenitri yang akan dijual terlebih dahulu dipanen dan dilepaskan dari tangkainya. Biji kemudian direbus selama sekitar empat hingga enam jam. Setelah itu dilakukan penggilingan untuk memisahkan kulit dari biji. Lama perebusan menjadi salah satu tahap penting karena kulit jenitri mengandung pigmen yang dapat memengaruhi warna biji. Setelah dikupas, biji kemudian diayak berdasarkan ukurannya.
Sistem pengolahan dan penyimpanan kini berbeda dibandingkan sebelum pandemi. Setelah dikupas dan diayak, biji dapat langsung disimpan dalam freezer. Sebagian pembeli justru menginginkan jenitri dalam kondisi tersebut, bukan setelah dijemur.
Perbedaan karakter pasar itu membuat harga jenitri sangat beragam. Biji dengan ukuran, bentuk, warna dan motif tertentu dihitung per butir. Sementara jenitri nonmotif, berukuran lebih besar, atau bercampur dengan kualitas lain umumnya diperdagangkan berdasarkan kilogram.
Harga juga sangat bergantung pada kondisi pasokan dan kebutuhan pembeli. Untuk jenis Ekoan, misalnya, harga dapat berada di kisaran Rp1.000 hingga Rp2.500 per butir. Namun harga bisa berubah hanya dalam hitungan hari.
Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp1.800 hingga Rp2.000 per butir dapat turun menjadi sekitar Rp1.000. Dalam pembelian secara borongan dengan kualitas yang lebih rendah, harga bahkan dapat berada di sekitar Rp800 per butir.
Salah satu jenis yang banyak diminati pasar adalah Ekoan. Varietas ini berbentuk bulat gepeng dan dikembangkan petani Kebumen dari indukan yang berasal dari Blitar, Jawa Timur. Jenis Ekoan ini memiliki keunggulan dalam kemudahan budidaya, waktu panen yang cepat, serta stabilitas harga di pasar ekspor. Jenis ini mampu menghasilkan buah sepanjang tahun dengan intensitas panen raya hingga 3 kali dalam setahun.
Amin mengatakan para petani memperoleh entres atau stek indukan dari Blitar untuk kemudian dikembangkan di Kebumen. Nama Ekoan berasal dari Eko, pemilik awal yang mengembangkan varietas tersebut sejak 2018.
Selain Ekoan, permintaan pasar mulai mengarah pada varietas baru, seperti Waiman dan Bayuan untuk jenis gepeng, Balungan untuk jenis geplak, Liminho Ula-ula, dan Cikna untuk jenis panlong dari Kediri. Perubahan minat pembeli menunjukkan bahwa perdagangan jenitri tidak hanya ditentukan oleh jumlah produksi, tetapi juga karakter fisik dan jenis biji yang sedang dicari pasar.

Berbeda dengan Amin, Edy Sugiyarno (Sugi) tidak hanya menjual jenitri sebagai bahan baku. Pengolahan lanjutan dapat meningkatkan nilai jual jenitri secara signifikan. Sugi menjelaskan bahwa saat ini usahanya baru berfokus pada pemasaran askesoris berupa gelang, kalung dan tasbih dengan jenama Rana Jenitri.
Rana Jenitri merupakan salah satu pelaku usaha dan perajin lokal yang konsisten mengembangkan aksesori berbahan biji jenitri atau rudraksha hingga menembus pasar internasional. Keikutsertaannya dalam pameran internasional seperti China ASEAN Expo (CAEXPO) dan The China (Chengdu) Gifts & Houseware Fair, Kuala Lumpur International Craft Festival (KLICF), Penang International Halal Expo (PIHEX) menjadi beberapa momentum penting ekspansi pasar.
Di dalam negeri, produk aksesori jenitri karya Rana Jenitri juga diperkenalkan melalui berbagai pameran kerajinan dan perdagangan berskala nasional, antara lain INACRAFT, Crafina, Trade Expo Indonesia (TEI), PAC Nusantara, B-CRAFT Bandung, Indonesian Craft Exhibition, MAC Depok, serta Nusa Craft Lifestyle.
Harga jenitri tidak selalu turun karena cacat. Beberapa kelainan genetik justru membuat biji menjadi langka dan bernilai tinggi. Salah satunya adalah jenitri yang tumbuh menyatu. Dua biji yang bergabung menjadi satu memiliki bentuk khusus. Jika tiga biji menyatu, jenis tersebut dikenal sebagai trijuti.
Menurut Sugi, kelainan genetik seperti itu sangat jarang ditemukan. Dari jumlah pohon yang banyak, belum tentu ditemukan satu biji dengan bentuk tersebut. Karena langka, harganya dapat jauh melampaui jenitri biasa.
Sugi mengatakan sebelum pandemi ia pernah menjual satu butir trijuti seharga Rp25 juta saat pameran di Taman Anggrek, Jakarta. Jenitri dengan satu tangkai yang memiliki 21 row atau garis dan motif tertentu juga dapat memiliki harga tinggi.
Ingin Masuk Eropa
Sugi melihat pasar Eropa sebagai peluang berikutnya. Ia khawatir Indonesia hanya menjadi pemasok biji, sementara proses pengolahan dan pemasaran dilakukan di negara lain.
Kekhawatiran itu muncul setelah ia mendengar pengalaman rekannya yang menemukan komunitas pengguna jenitri di Eropa. Produk yang ternyata menggunakan jenitri asal Indonesia justru disebut berasal dari negara lain.
Kondisi tersebut menunjukkan lemahnya posisi Indonesia dalam menguasai rantai perdagangan jenitri. Bahan baku berasal dari Indonesia, tetapi identitas produk dan nilai tambahnya dapat hilang ketika masuk ke pasar luar negeri.
Karena itu, ia ingin jenitri Indonesia dipasarkan langsung ke Eropa. Pengembangan produk menjadi aksesori dinilai dapat menjadi salah satu cara meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat identitas asal produk.
Bagi Sugi, tantangan industri jenitri bukan lagi sekadar meningkatkan produksi. Indonesia perlu mengembangkan pengolahan dan produk jadi agar tidak terus berada pada posisi pemasok bahan baku.
Jika proses itu berjalan, jenitri dari Kebumen tidak hanya diperdagangkan sebagai biji. Komoditas tersebut dapat berkembang menjadi produk aksesori dan kriya yang memiliki nilai tambah serta membawa identitas Indonesia ke pasar internasional. (ED)





