Ekosistem industri kerajinan dan suvenir Asia Tenggara kembali menggeliat. Sejumlah pengusaha produk gift dan premium merchandise dari Malaysia dijadwalkan menghadiri Jakarta International Handicraft Trade Fair atau INACRAFT October 2026. Selain memperkenalkan produk ke pasar Indonesia, mereka datang untuk mencari produk kerajinan lokal yang berpotensi masuk ke rantai bisnis suvenir dan merchandise di Malaysia.
INACRAFT October 2026 yang digelar Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) berlangsung pada 7–11 Oktober 2026 di Jakarta Convention Center (JCC). Delegasi pebisnis Malaysia berada di Jakarta pada 6–9 Oktober untuk mengunjungi pameran dan mengikuti agenda business matching yang mempertemukan pelaku usaha kedua negara.
Pertemuan tersebut membuka peluang kerja sama lebih luas daripada transaksi jual beli. Produk kerajinan Indonesia dapat dikembangkan menjadi premium merchandise, suvenir korporat, hadiah perusahaan, hingga produk gaya hidup di Malaysia. Pelaku usaha Indonesia pun berpeluang memperoleh akses ke jaringan distribusi dan pasar yang dimiliki mitra dari Negeri Jiran.
Dari sisi industri, pertemuan ini menunjukkan semakin eratnya hubungan antara sektor kerajinan, manufaktur, desain, dan industri promosi. Produk kriya kini tidak hanya menjadi cendera mata, tetapi juga bagian dari kebutuhan korporasi dan gaya hidup. Nilai tambah produk ditentukan bukan hanya oleh bahan dan teknik, tetapi juga desain, kemasan, personalisasi, serta kemampuan memenuhi standar dan kebutuhan pasar.
Sejumlah nama yang akan hadir antara lain Ivan Loo, Founder & Director Bluedge Sdn Bhd, dan Albert Choong, Marketing Director Go Go Trophy Sdn Bhd. Keduanya bergerak dalam pengembangan merchandise korporat, manufaktur trofi, dan suvenir.
Ada pula Vincent Goh, Director GNT Premium Solution Sdn Bhd, dan Alex Chai, Director Ted Print Sdn Bhd, yang memiliki pengalaman dalam solusi suvenir promosi, percetakan, desain, dan kebutuhan pameran. Sementara Ricky Tan, Director Sri Majutex Industrial Sdn Bhd, mewakili sektor perdagangan tekstil dan manufaktur garmen.
Dari sektor pengembangan bisnis dan pemasaran hadir Jeffery Yap, Business Development Director Certo Solutions Sdn Bhd, serta Suzanny Liew, Director of Marketing Max Concept Marketing Sdn Bhd. Keduanya memiliki perhatian pada pengembangan produk merchandise, termasuk produk yang mengedepankan pendekatan ramah lingkungan.
Kehadiran para pelaku usaha tersebut menarik karena mereka membawa agenda sourcing produk Indonesia. Batik, kerajinan tradisional, produk ramah lingkungan dan berkelanjutan, hingga aksesori gaya hidup khas Nusantara menjadi sejumlah produk yang dibidik untuk dikembangkan menjadi lini suvenir dan premium merchandise di Malaysia.
Peluang sourcing ini dapat menjadi pintu masuk bagi perajin Indonesia ke pasar yang lebih luas. Tantangan industri kriya bukan hanya kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga bagaimana produk masuk ke jaringan perdagangan dan memiliki kesinambungan permintaan. Kemitraan dengan perusahaan luar negeri dapat membuka jalur untuk menjawab persoalan tersebut.
Kerja sama bahkan dapat dikembangkan hingga pengembangan desain, pemilihan material, produksi, customization, dan pengemasan. Produk yang dihasilkan bukan sekadar barang Indonesia yang diekspor, melainkan dapat menjadi produk kolaborasi yang menggabungkan kekuatan produksi Indonesia dengan jaringan pasar Malaysia.
Peluang tersebut sejalan dengan penguatan rantai nilai regional ASEAN. Indonesia memiliki kekayaan bahan, teknik tradisional, serta komunitas perajin yang besar. Malaysia memiliki jaringan bisnis dan pasar yang dapat menjadi salah satu pintu masuk menuju konsumen regional.
Dalam skema tersebut, business matching di INACRAFT dapat menjadi tahap awal pembentukan rantai pasok lintas negara. Hubungan yang bermula dari pencarian produk dapat berkembang menjadi kontrak produksi, kerja sama desain, co-branding, distribusi, atau pengembangan koleksi bersama untuk pasar ASEAN.
Pola serupa berpotensi dikembangkan dengan mitra dari Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Filipina, Vietnam, dan negara ASEAN lainnya. Dengan demikian, pameran kerajinan tidak lagi sekadar menjadi etalase produk, tetapi ruang temu industri yang mempertemukan kemampuan produksi, kreativitas, dan jaringan pasar.
Bagi industri kriya Indonesia, momentum tersebut menjadi kesempatan menunjukkan bahwa produk lokal mampu memenuhi kebutuhan pasar korporasi dan gaya hidup modern tanpa kehilangan identitas budaya. Batik, tekstil, kerajinan tangan, aksesori, dan produk berbasis material lokal dapat dikembangkan menjadi premium merchandise dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Agenda business matching Indonesia dan Malaysia di INACRAFT October 2026 pada akhirnya tidak hanya diukur dari transaksi selama pameran. Yang lebih penting adalah kemampuan pertemuan tersebut melahirkan hubungan bisnis berkelanjutan dan membuka jalur baru bagi industri kriya Indonesia dalam rantai perdagangan regional.
Jika berkembang, Jakarta tidak hanya menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli, tetapi juga salah satu simpul jaringan industri craft ASEAN, dengan Indonesia sebagai pusat produksi dan kreativitas serta negara-negara tetangga sebagai mitra dalam memperluas pasar dan membangun rantai nilai bersama. (ED)




