Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) memfasilitasi mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) dan Swadaya Institute of Communication and Business (SWINS) untuk mempelajari langsung praktik bisnis kriya, kewirausahaan, serta manajemen pameran di JICC.
Kunjungan mahasiswa ini diisi dengan sesi diskusi bersama Ketua Umum BPP ASEPHI, Hatman, Project Officer INACRAFT October 2026, Syamsul Huda, dan Salamun dari EO Mediatama Event di panggung utama.
Dosen Universitas Indonesia, Mahadewi, mengatakan kunjungan ini merupakan bagian dari mata kuliah Pengelolaan Bisnis Event. Mahasiswa diajak melihat realitas lapangan setelah mempelajari teori di kelas.
“Tujuan kami ke sini untuk belajar. Mahasiswa kami belajar pengelolaan bisnis event secara teori, dan di sini mereka melihat langsung praktiknya. Mereka bisa mengamati bagaimana sebuah booth dibangun dan bagaimana ruang kosong dikelola menjadi pameran berskala besar,” ujar Mahadewi.
Hal senada diungkapkan oleh Dosen SWINS, Hastuti Indrasari. Ia menyebutkan bahwa melihat berkumpulnya para pelaku UMKM di satu tempat memberikan wawasan riil bagi mahasiswa mengenai ekosistem bisnis kerajinan.
Diskusi Interaktif Membangun Mental Sebagai Pengusaha dan Menjaga Keberlanjutan Bisnis
Sesi diskusi berjalan interaktif saat mahasiswa mendapat kesempatan bertanya. Putri, salah satu mahasiswi UI, menanyakan cara membangun keberanian untuk memulai bisnis di usia muda di tengah keterbatasan modal dan risiko kegagalan.
Menjawab hal tersebut, Project Officer INACRAFT October 2026, Syamsul Huda, menekankan pentingnya kesiapan mental dalam dunia wirausaha.
“Menjadi pengusaha itu ibarat naik gunung; 70 persen nyali, 30 persen teori. Saat menghadapi kegagalan, kehilangan uang adalah risiko biasa, yang terpenting jangan pernah kehilangan semangat,” tegas Huda.
Huda juga membagikan pengalamannya saat bisnisnya terlilit utang hampir Rp 3 miliar pada 2010. Ia berhasil membangkitkan usahanya melalui optimalisasi networking dengan mitra ASEPHI dan partisipasi dalam pameran INACRAFT, yang akhirnya membuka jalan bagi produknya untuk menembus pasar luar negeri.
Ketua BPP ASEPHI, Hatman, menambahkan satu prinsip utama bagi pengusaha muda, yaitu konsistensi.
“Ketika menjalankan bisnis, konsistenlah pada bidang tersebut. Kalau mulai dari TK, lalu saat SMA ganti bisnis baru, Anda akan kembali ke TK lagi. Bekerja keraslah dengan semangat tinggi untuk mendapatkan hasil yang maksimal,” pesan Hatman.

Menjawab pertanyaan mahasiswa SWINS, mengenai adaptasi teknologi di industri kerajinan tradisional, Syamsul Huda memaparkan program konkret Inacraft dalam mengusung tema Technocraft.
ASEPHI saat ini menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mendampingi UMKM. Pendampingan ini difokuskan pada riset pengolahan limbah, penemuan material baru, serta peningkatan efisiensi kapasitas produksi.
Sebagai langkah pembinaan pengusaha muda, INACRAFT juga mengadakan ASEPHI Emerging Youthpreneur Award.
“Pemenang di ajang ini akan kami tindak lanjuti. Jika produk mereka dinilai cocok untuk ekspor, ASEPHI akan memfasilitasi mereka untuk masuk ke pasar internasional dan berkolaborasi dengan buyer global,” tutup Huda. (Disya Shaliha)





