Panggung INACRAFT Appreciation Night 2026 menjadi saksi keindahan warisan budaya Nusantara. Lewat pergelaran Fashion Craft Show, Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) Pekalongan berkolaborasi dengan Bank Indonesia (BI) Tegal menghadirkan mahakarya Batik Pekalongan yang memukau di JICC.
Pergelaran busana tersebut mengusung tema unik yang sarat akan makna historis: “Cik, Cino, Londo, Tuan Bombay, Singkek, Yapan”.
Maestro Batik, Dudung Alisyahbana, membedah makna mendalam di balik tema yang terinspirasi dari lirik lagu permainan petak umpet anak-anak di masa lampau tersebut.
Menurutnya, lirik itu adalah cerminan peristiwa ratusan tahun lalu ketika Pekalongan menjadi melting pot atau titik lebur pembauran berbagai bangsa di pesisir utara Pulau Jawa.
Setiap kata mewakili etnis yang berakulturasi dan membentuk identitas Batik Pekalongan: Cik (campuran Melayu, Tionghoa, Pakistan), Cino (peranakan Tionghoa), Londo (Eropa: Portugis, Belanda, Inggris), Tuan Bombay (saudagar India), Singkek (Tionghoa daratan), dan Yapan (Jepang).
“Akulturasi budaya dan pembauran masyarakat di Pekalongan itulah yang menjadi spirit sekaligus inspirasi kita hari ini. Ke depan, ini akan menjadi semangat kami dalam membangun communal branding (jenama bersama) Batik Pekalongan,” ungkap Dudung.
Strategi BI Tegal di Balik Layar Kemegahan Wastra
Keindahan karya dan sejarah yang melenggang di panggung INACRAFT nyatanya tidak lahir dalam semalam. Di balik karya-karya tersebut, terdapat upaya pembinaan intensif dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Tegal untuk memastikan para pengrajin mampu bersaing secara global.
Dalam kesempatan terpisah, Kepala KPw BI Tegal, Bimala, menegaskan bahwa pembinaan UMKM tidak cukup hanya dengan mendorong peningkatan penjualan.
Pelaku usaha perlu dibekali kemampuan untuk memperbaiki efisiensi produksi, kualitas produk, tata kelola keuangan, hingga kemampuan membaca selera pasar.
“Indikator utama kami adalah mendorong UMKM naik kelas. Baik dari sisi efisiensi produksi, perbaikan kualitas, hingga capaian penjualan,” ujar Bimala.
Saat ini, BI Tegal membina sekitar 54 UMKM di wilayah kerja yang mencakup tujuh kabupaten dan kota di Jawa Tengah (Kabupaten/Kota Tegal, Brebes, Pemalang, Kabupaten/Kota Pekalongan, dan Batang). Hampir 30 UMKM di antaranya bergerak di sektor wastra, termasuk batik, yang menjadi urat nadi ekonomi dan budaya kawasan eks-Karesidenan Pekalongan.
Sejalan dengan tema Technocraft, penguasaan teknologi menjadi instrumen wajib dalam proses pembinaan saat yang dilakukan BI Tegal ini. Bimala menjelaskan, pelaku UMKM didorong untuk melakukan onboarding digital, memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) untuk strategi pemasaran.
Meski memiliki sejarah akulturasi yang kaya dan dukungan teknologi yang mumpuni, industri batik Pekalongan menghadapi satu tantangan besar, yakni regenerasi perajin. Saat ini, ekosistem produksi batik masih banyak ditopang oleh generasi tua.
Merespons tantangan ini, BI Tegal bersama sejumlah pakar batik di Pekalongan tengah merumuskan konsep pelatihan yang dirancang khusus agar sesuai dengan karakter generasi muda. Salah satu gagasan utamanya adalah mendirikan “pesantren kilat” pembatik.
Konsep ini dirancang lebih ringkas dan terstruktur dibandingkan pendidikan vokasi formal. Peserta akan diajak memahami keseluruhan rantai nilai batik dari hulu ke hilir. Mulai dari teknik dasar mencanting, pengembangan motif kontemporer, analisis tren pasar, hingga eksekusi pemasaran.
Kolaborasi harmonis antara inovasi pembinaan dari BI Tegal dan kekayaan sejarah yang terus dijaga oleh ASEPHI Pekalongan membuktikan bahwa Batik Pekalongan siap melangkah jauh.
Tidak hanya merawat memori ratusan tahun lalu, tetapi juga memastikan warisan ini terus hidup dan berdaya saing di tangan generasi mendatang. (ED/Disya)





