Politeknik Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Cikarang mengintegrasikan pengolahan sampah plastik ke dalam pembelajaran mahasiswa. Melalui pembuatan mesin pengolah skala kecil, lembaga pendidikan teknik ini mendorong penyelesaian persoalan sampah dari lingkungan rumah tangga hingga komunitas.
Hal tersebut disampaikan Kristiono Puspo dari Politeknik ATMI Cikarang dalam sesi Craft Talks ASEPHI Go Green pada pameran INACRAFT October 2026, 11 Oktober 2026, di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.
Kristiono mengatakan pengolahan sampah tidak cukup berhenti pada kegiatan mengumpulkan dan memilah. Masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk mengolah sampah menjadi produk baru. Karena itu, mahasiswa dilibatkan dalam pembuatan mesin, termasuk crusher untuk mencacah plastik dan mesin hot press untuk membentuk hasil olahannya.
“Kalau kita tahu teknik, tetapi tidak bisa membuat mesin kecil yang bisa digunakan di lingkungan domestik, persoalannya belum selesai,” kata Kristiono.

Ia menjelaskan, ATMI Cikarang bukan lembaga pengolah limbah, melainkan institusi pendidikan yang berupaya membangun kesadaran dan keterampilan melalui praktik langsung. Mesin-mesin berukuran kecil tersebut dirancang agar dapat dimanfaatkan di tingkat rumah tangga, rukun tetangga, maupun komunitas seperti remaja masjid dan gereja.
Pengolahan plastik juga telah dimasukkan ke dalam kurikulum. Mahasiswa diwajibkan mempelajari proses tersebut melalui mata kuliah produksi dan ilmu bahan. Mereka tidak hanya mempelajari teori, tetapi menjalani tahapan pengolahan secara langsung, mulai dari mengumpulkan tutup botol, membersihkan, mencuci, mengeringkan, mencacah, hingga membentuk plastik menjadi produk baru.
Menurut Kristiono, pengalaman berhadapan langsung dengan sampah menjadi bagian penting dalam pendidikan. Ia berharap praktik tersebut dapat menumbuhkan kesadaran mahasiswa terhadap persoalan lingkungan, sekaligus mendorong mereka mencari solusi melalui kreativitas dan rekayasa teknik.
Ia menyebut pendekatan itu sebagai sirkular edukasi, yakni pendidikan yang tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap dan tindakan. Kristiono menekankan pentingnya tiga unsur dalam pendidikan: head, heart, dan hand, yaitu cara berpikir, kepekaan hati, dan tindakan nyata.
“Pendidikan sejatinya melatih moral thinking, moral feeling, dan moral action. Mahasiswa harus berani berpikir kreatif, memiliki kepedulian, lalu mewujudkannya dalam tindakan,” ujarnya.
Kristiono juga mendorong lembaga pendidikan mengambil peran lebih besar dalam menghadapi persoalan sampah. Baginya, sampah bukan semata urusan kebersihan, melainkan cerminan perilaku masyarakat dalam memperlakukan lingkungan dan ruang publik.
Upaya pengolahan sampah tersebut turut membuka peluang bagi mahasiswa yang memiliki keterbatasan ekonomi. Kristiono mengatakan hasil penjualan mesin atau produk olahan plastik digunakan untuk mendukung beasiswa bagi sekitar 20 mahasiswa dari berbagai daerah, dari Aceh hingga Nusa Tenggara Timur.
Ia berharap keterampilan yang dikembangkan di kampus dapat ditularkan ke masyarakat. Dengan mesin sederhana dan pendampingan yang tepat, komunitas di berbagai daerah diharapkan mampu mengolah sampah secara mandiri.
Bagi Kristiono, mengolah sampah juga merupakan upaya memberikan makna baru pada sesuatu yang semula dianggap tidak berguna. Melalui keterlibatan manusia, kreativitas, dan teknologi, sampah dapat menjadi bahan bagi produk baru sekaligus sarana pembelajaran tentang tanggung jawab terhadap lingkungan.




