Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) mendorong kepedulian lingkungan sejak dini melalui program ASEPHI Go Green. Salah satu kegiatannya adalah ASEPHI Go Green Battle Craft, kompetisi yang mengajak pelajar mengolah sampah di lingkungan sekolah menjadi karya kreatif dengan tema Technocraft.
Ketua Program ASEPHI Go Green, Yanna Kusumawati, mengatakan kegiatan ini tidak sekadar mengajak siswa mengumpulkan dan memilah sampah. Program tersebut dirancang untuk melatih kreativitas, kerja sama, serta kemampuan anak-anak mencari solusi atas persoalan lingkungan melalui pendekatan kerajinan dan teknologi.
“Bukan sekadar membuat karya, tetapi bagaimana menanamkan nilai-nilai dan memberikan pengalaman baru kepada mereka,” kata Yanna dalam sesi Craft Talk ASEPHI Go Green pada pameran INACRAFT October 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, 11 Oktober 2026.
Dalam ASEPHI Go Green Battle Craft, empat sekolah mengikuti kompetisi dengan memanfaatkan sampah yang tersedia di lingkungan masing-masing. Para peserta mengembangkan ide, merancang produk, dan mengerjakan karya secara berkelompok. Proses tersebut berlangsung rata-rata sekitar tiga pekan, termasuk tahap pencarian ide dan pengembangan desain.
Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi SMP, Cengkareng, meraih juara pertama dengan inovasi Eco Solar Emergency Backpack berupa tas darurat bencana berbahan daur ulang. Tas tersebut dilengkapi cermin bekas pakai yang dapat memantulkan cahaya sebagai sinyal agar keberadaan korban lebih mudah diketahui tim pencari dalam situasi darurat.
Inovasi itu juga dilengkapi panel surya yang terhubung dengan baterai di dalam tas. Energi yang tersimpan dapat dimanfaatkan untuk mengisi daya perangkat elektronik. Perpaduan material daur ulang dan fungsi penyelamatan tersebut memperlihatkan bagaimana kreativitas anak-anak usia sekolah menengah pertama dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan kemanusiaan.
Karya ini tidak hanya menonjolkan pemanfaatan kembali barang bekas, tetapi juga menunjukkan kepekaan para siswa terhadap situasi darurat dan kebutuhan korban bencana. Meski masih memerlukan pengembangan dan pengujian lebih lanjut sebelum digunakan dalam kondisi nyata, gagasan tersebut menjadi contoh bagaimana pendidikan lingkungan dapat melahirkan inovasi yang berorientasi pada keselamatan manusia.

SMP Labschool Kebayoran menempati posisi kedua, disusul SMP Don Bosco sebagai juara ketiga. Adapun SMP Sekolah Abdi Siswa meraih penghargaan harapan pertama.
SMP Labschool Kebayoran, peraih juara kedua, menghadirkan sejumlah inovasi dari bahan bekas. Para siswa mengolah material yang tidak terpakai menjadi sistem kalender, membuat Leco Chain berupa gantungan kunci dari tutup botol, serta memanfaatkan minyak goreng bekas sebagai bahan baku pembuatan sabun. Ragam karya ini menunjukkan bahwa pengolahan limbah dapat dikembangkan menjadi produk fungsional sekaligus membuka peluang untuk menanamkan kebiasaan hidup berkelanjutan sejak dini.
Karya para peserta memperlihatkan beragam kemungkinan pemanfaatan barang bekas. Tim SMP Don Bosco meraih juara ketiga melalui karya replika bulu ayam merak yang dirangkai dari barang bekas, seperti tutup botol, cat minyak, dan kawat berwarna emas. Elemen-elemen tersebut dikombinasikan dengan lampu LED sehingga menghasilkan tampilan artistik yang menarik. Karya ini memperlihatkan bagaimana material yang semula dianggap tidak terpakai dapat diolah menjadi kreasi dekoratif melalui perpaduan kreativitas, eksplorasi bahan, dan teknologi pencahayaan.
Sementara itu, peserta dari SMP Sekolah Abdi Siswa mengolah tutup botol menjadi karya dengan konsep kalender yang berkaitan dengan 12 bulan. Berbagai karya tersebut memperlihatkan bahwa sampah dapat menjadi bahan untuk bereksperimen, merancang produk, sekaligus mengenalkan unsur budaya kepada generasi muda.
Menurut Yanna, aspek yang dinilai dalam kompetisi tidak hanya hasil akhir karya, tetapi juga proses dan kerja sama tim. Dalam tim Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi, misalnya, lima siswa terlibat langsung dengan pendampingan dua guru. Mereka bahkan menghabiskan waktu hingga malam di sekolah untuk menyelesaikan proyek.
Pengalaman itu, kata Yanna, memberikan pelajaran yang lebih luas daripada sekadar mengolah sampah. Ketika ditanya mengenai bagian paling menarik selama mengikuti kegiatan, sejumlah anak justru menyoroti pengalaman bekerja sama dalam tim. Mereka juga belajar berkomunikasi dengan sopan dan menyampaikan gagasan kepada orang lain.
Yanna menilai pengalaman semacam itu penting karena pendidikan lingkungan perlu dibangun melalui praktik, bukan hanya imbauan. Anak-anak diajak mengenali persoalan di sekitar mereka, memahami potensi bahan yang tersedia, kemudian mengembangkan solusi dengan kreativitas sendiri.

Ia berharap ASEPHI Go Green Battle Craft menjadi pemantik bagi kegiatan lanjutan. Salah satu gagasan yang ingin dikembangkan adalah kompetisi menulis pengalaman, mulai dari proses membuat karya hingga kegiatan memilah sampah. Melalui tulisan, para siswa dapat merefleksikan pengalaman sekaligus melatih kemampuan mengungkapkan ide.
Yanna juga membuka peluang agar karya yang memiliki potensi praktis dikembangkan lebih lanjut melalui kolaborasi dengan lembaga terkait. Tas darurat bencana, misalnya, masih membutuhkan penelitian dan pengujian lebih lanjut untuk memastikan fungsi dan ketahanannya sebelum dapat diterapkan secara lebih luas.
Bagi Yanna, pendidikan lingkungan juga berkaitan erat dengan pelestarian budaya. Ia mengingatkan bahwa tradisi masyarakat Nusantara sejak dahulu mengajarkan hubungan yang saling menghormati antara manusia dan alam, termasuk gunung, sungai, tumbuhan, serta satwa. Pengetahuan tersebut, menurut dia, relevan untuk membangun kesadaran menjaga lingkungan dan mengurangi risiko bencana.
“Menjaga alam berarti kita juga menjaga diri sendiri. Budaya adalah identitas bangsa Indonesia yang harus kita rawat,” ujarnya.
Melalui ASEPHI Go Green, Yanna ingin menanamkan pemahaman bahwa kepedulian terhadap bumi dan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan. Tagline program tersebut, Menjaga Bumi, Merawat Budaya, menjadi landasan untuk mendorong generasi muda tidak hanya kreatif menghasilkan karya, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan dan warisan budaya Indonesia.





