Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) mempertemukan pelaku usaha kerajinan Indonesia dengan calon mitra bisnis melalui program business matching dalam pameran INACRAFT October 2026. Program ini menjadi bagian dari upaya memperluas pasar produk kriya nasional, termasuk ke segmen corporate gift dan jaringan perdagangan regional ASEAN.
Kordinator insight program INACRAFT, Baby Jurmawati, yang juga Wakil Ketua Umum I ASEPHI, menginisiasi kegiatan ini sebagai kelanjutan dari INACRAFT Business Forum bertema Breaking Global Export Barriers. Forum tersebut berlangsung pada Kamis, 8 Oktober 2026, di Main Stage Hall B, Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan forum bisnis yang menghadirkan narasumber dari kementerian dan pemangku kepentingan perdagangan. Mereka membahas berbagai tantangan yang dihadapi pelaku usaha untuk menembus pasar internasional, mulai dari regulasi ekspor-impor, pemenuhan standar produk, pemetaan pasar, hingga prosedur kepabeanan.
Direktur Fasilitasi Ekspor dan Impor Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Bayu Wicaksono Putro, memaparkan fasilitas pemerintah untuk mendukung kelancaran perdagangan internasional. Analis Perdagangan Ahli Utama Kementerian Perdagangan, Ari Satria membahas pentingnya memahami kebutuhan pasar dan menyesuaikan produk dengan tren konsumen mancanegara.
Dari sisi industri, Direktur Industri Kecil dan Menengah Kimia, Sandang, dan Kerajinan Kementerian Perindustrian, Budi Setiawan, menyoroti peningkatan kualitas, inovasi, dan standardisasi produksi agar produk kerajinan nasional mampu bersaing di pasar global. Sementara itu, Kepala Seksi Ekspor I Subdirektorat Ekspor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan, Agus Budi Priono menjelaskan aspek teknis kepabeanan yang perlu dipahami calon eksportir.
Forum tersebut juga menghadirkan Presiden ASEAN Gifts and Craft Federation, Ivan Loo, yang membahas potensi kolaborasi antarnegara ASEAN untuk memperkuat jaringan perdagangan dan rantai pasok industri hadiah serta kerajinan.
Pembahasan dalam forum menjadi landasan bagi pertemuan bisnis secara langsung. Jika forum memberikan pemahaman mengenai hambatan dan strategi ekspor, business matching membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk menjajaki kerja sama dengan calon pembeli maupun mitra distribusi.
Dalam praktiknya, business matching merupakan kegiatan mempertemukan pelaku usaha yang memiliki produk dengan pihak yang membutuhkan produk atau mencari pemasok. Pertemuan ini memungkinkan kedua belah pihak membahas kesesuaian produk, harga, kapasitas produksi, desain, jumlah pesanan, hingga kemungkinan kerja sama jangka panjang. Berbeda dari transaksi di stan pameran yang umumnya berorientasi pada penjualan langsung, business matching diarahkan untuk membangun hubungan bisnis yang berkelanjutan.
Melalui program ini, ASEPHI mendorong produk kerajinan Indonesia memasuki pasar yang lebih luas, termasuk kebutuhan hadiah perusahaan atau corporate gift. Produk buatan tangan yang selama ini dipasarkan kepada konsumen individu berpeluang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan, suvenir bisnis, dan premium merchandise dalam jumlah lebih besar.

Baby Jurmawati sebelumnya menjelaskan bahwa INACRAFT tidak hanya berfungsi sebagai ruang transaksi, tetapi juga tempat membangun jejaring dan mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra. ASEPHI menargetkan interaksi tersebut dapat membuka peluang pengembangan desain, penyesuaian produk, produksi, dan distribusi lintas negara.
Sejumlah pelaku usaha yang masuk dalam daftar peserta business matching berasal dari berbagai bidang kriya, fesyen, aksesori, produk kulit, tekstil, dan dekorasi rumah. Mereka antara lain Wastraloka, Ninauka, Werkintandem, Stellar Coronae (PT Puspa Rasi Karya), Lumosh Living, Jolie Clothing, APP Group, Lawe Asi Warna Etnika (Sajèn), Anantio Leather, Rajoet, Homliv, Krealogi, Aleta Leather, Livyla Embroidery, Kisah Dara Noesantara, Natura Home Deco, Minyeuk Pret (Y&M Perfumery), Sinar Austral (Anaya Violetta), CV Karya Satu Rumah (Benih), Salsabila Bordir, Kokaind Ethnic Wear, Baragakai, Tangankoe, CV Mithlabs, dan Leswan Leather.
Keberagaman peserta tersebut memperlihatkan potensi produk kriya Indonesia untuk menjangkau berbagai segmen pasar. Produk tekstil dan bordir, misalnya, dapat menyasar kebutuhan fesyen dan hadiah perusahaan. Sementara produk kulit, dekorasi rumah, aksesori, serta kerajinan berbasis material lokal berpeluang dikembangkan menjadi suvenir premium dan produk pesanan khusus.
Keterlibatan mitra dari kawasan ASEAN juga membuka kemungkinan kerja sama yang lebih luas daripada jual beli. Kemitraan dapat berkembang menjadi pengembangan desain bersama, penyesuaian produk sesuai kebutuhan pasar, produksi berdasarkan pesanan, hingga perluasan jaringan distribusi di negara tujuan.
Bagi pelaku usaha kriya, peluang tersebut perlu diimbangi dengan kesiapan menjaga kualitas, memenuhi kapasitas produksi, menentukan harga yang kompetitif, serta memastikan ketepatan waktu pengiriman. Kemampuan memahami kebutuhan calon mitra menjadi faktor penting agar pertemuan bisnis dapat berkembang menjadi pesanan nyata.
Melalui business matching INACRAFT October 2026, ASEPHI berupaya menjadikan pameran bukan sekadar etalase produk kerajinan, melainkan pintu masuk menuju kemitraan bisnis yang lebih luas. Keberhasilan program ini pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pertemuan, tetapi juga oleh peluang kerja sama yang berlanjut setelah pameran berakhir. (ED)





