Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK) pada gelaran INACRAFT October 2026 di JICC, Kamis (8/10/2026).
Kerja sama ini difokuskan pada penyediaan fasilitas riset teknologi serta peningkatan kapasitas manajemen bagi perajin kriya. Melalui kemitraan ini, BRIN mendorong perajin muda agar berani mengintegrasikan teknologi dalam pengembangan produk kriya.
Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Kementerian/Lembaga, Masyarakat, dan UMKM BRIN, Driszal Fryantoni, menekankan pentingnya perubahan pola pikir para pelaku usaha dalam memanfaatkan perkembangan teknologi digital.
“Masa depan itu sebenarnya sudah kita mulai hari ini, detik ini. Ketika kita menggunakan teknologi, sebetulnya kita sudah mulai berjualan di platform digital. Teknologi mengubah segala sesuatunya, pola pikir dan cara pemikiran kita,” kata Driszal.
Ia mengingatkan agar pelaku UMKM tidak sekadar menjadi pengguna pasif, melainkan mampu menciptakan produk dan solusi mandiri. Dari sisi pengembangan sumber daya manusia, GNIK menyoroti tantangan tata kelola organisasi yang kerap dihadapi pelaku UMKM, mengingat sebagian besar wirausahawan kriya tumbuh secara otodidak.
Direktur Pengembangan Kapabilitas Kewirausahaan & Industri GNIK, Indrijati Rahayoeningtyas, menyebut kondisi ini sebagai fokus utama program pendampingan.
“Faktanya 65 persen UMKM itu ternyata bukan berasal dari keluarga pengusaha dan juga bukan lulusan sekolah pengusaha. Mereka menjadi pengusaha karena kesempatan atau keadaan. Jadi peluang untuk meningkatkan kemampuan mereka dan membuat organisasi yang lebih kuat adalah misi utama kami,” jelas Indrajati.

Pendampingan tersebut diwujudkan melalui pelatihan teknis hingga program pendampingan manajemen bersama jaringan eksekutif yang tergabung dalam GNIK.
“Kalau kita bisa meningkatkan talenta-talenta kita, tidak hanya sebagai pekerja tetapi juga sebagai wirausahawan, serta melakukan inovasi yang berkelanjutan, tentu saja akan berkontribusi terhadap perbaikan perekonomian Indonesia ke depan,” tambahnya.
Di sisi lain, Ketua Umum ASEPHI, Hatman, menegaskan bahwa penandatanganan kesepakatan ini harus segera ditindaklanjuti dengan aksi nyata di lapangan.
“Ada tiga hal yang perlu saya sampaikan kepada para pengrajin dan eksportir, yakni semuanya sepakat jangan berhenti belajar, berinovasi, dan menjaga kualitas. Kemudian kepada pemerintah, saya berharap agar kolaborasi ini tidak berhenti di ruangan ini saja,” pungkas Hatman. (Disya)




