Di tangan para mahasiswa Politeknik Industri ATMI Cikarang, limbah botol plastik tak berhenti di tempat pembuangan. Lewat mesin filament maker yang dirancang mandiri, mereka mengolah kembali sampah plastik bekas menjadi material kriya fungsional bernilai ekonomi tinggi.
Inovasi tersebut lahir dari kolaborasi lintas program studi di ATMI Cikarang. Dari satu botol PET ukuran 1,5 liter, mesin rakitan mahasiswa ini mampu mengestraksinya menjadi filamen sepanjang 7 hingga 10 meter.
Filamen tersebut kemudian dicetak menjadi gantungan kunci, name tag holder, pot tanaman, hingga papan dekorasi yang juga dikembangkan sebagai bahan dasar plakat dan medali wisuda.
Dosen pendamping ATMI Cikarang, Edo, menjelaskan bahwa keikutsertaan mereka bukan sekadar memamerkan produk, melainkan mengedukasi publik soal pentingnya pemilahan sampah.
“Sesuatu yang tidak terpakai, kalau dikumpulkan secara proper, kami sebut itu material, belum jadi sampah. Daur ulang tidak bisa murah karena proses persiapannya memakan biaya,” tegas Edo, Rabu (7/10/2026).
Ia menilai keberhasilan ekosistem daur ulang sangat bergantung pada kesadaran masyarakat dari rumah.
“Tapi kalau teman-teman di luar sana, termasuk pengunjung INACRAFT, bisa mulai memilah limbah dari awal, proses daur ulang di tingkat lanjut akan jauh lebih efisien,” lanjutnya.
Sejalan dengan tema Youthpreneur Technocraft, mahasiswa Mekatronika ATMI Cikarang, Anton, menegaskan bahwa penguasaan teknologi oleh generasi muda harus dibarengi dengan dampak sosial yang nyata.
“Anak muda harus ngerti kalau mereka akan berperan di masa depan. Memanfaatkan teknologi itu enggak cuma buat usaha doang, tapi buat memecahkan masalah di masyarakat, salah satunya pengolahan sampah. Syukur-syukur menghasilkan uang dari usaha itu, tapi tetap yang utama adalah untuk jadi jawaban atas masalah masyarakat,” kata Anton.




