Pameran kerajinan terbesar se-Asia Tenggara, INACRAFT, kembali digelar dan sukses menyedot perhatian tak hanya dari pengunjung lokal, tetapi juga mancanegara.
Kekayaan budaya dan keragaman produk kriya Indonesia yang dipamerkan terbukti menjadi daya tarik utama bagi para ekspatriat dan turis asing yang berburu barang-barang unik.
Pengunjung asal Prancis, Françoise dan Hélène, serta Sarah dan Nando yang merupakan pasangan Inggris-Indonesia, membagikan antusiasme mereka saat ditemui di sela-sela pameran INACRAFT tahun ini.
Bagi Françoise dan Hélène, warga negara Prancis yang telah lama menetap di Jakarta, INACRAFT adalah acara yang selalu ditunggu-tunggu.
“Kami sangat menyukainya. Bahkan jika acara ini diadakan dua atau tiga kali setahun, kami pasti akan datang,” ujar Françoise dengan semangat.
Ketika ditanya apa yang membuat mereka selalu kembali setiap tahun, Françoise menjelaskan, “Kami menyukai keragaman produknya. Segala sesuatu yang diproduksi di Indonesia sangatlah indah.” Keduanya mengaku sangat menggemari produk kerajinan tangan, perhiasan, dan terutama tas kulit yang menurut mereka memiliki kualitas sangat baik tahun ini.
Meskipun sangat menikmati pameran ini, Françoise dan Hélène memberikan sedikit masukan untuk penyelenggara.
“Acaranya fantastis, kami sangat menyukainya. Tapi akan lebih menyenangkan jika ada restoran atau kafe yang nyaman di suatu tempat di dalam area pameran,” ungkap Françoise.
Ia mengenang bahwa belasan tahun lalu, terdapat kafe di area depan pameran yang nyaman untuk duduk dan bersantai setelah lelah berkeliling.
Di sisi lain, bagi Sarah yang berasal dari Inggris dan pasangannya Nando dari Flores, INACRAFT tahun ini adalah pengalaman pertama mereka.
Pasangan yang kini menetap di Bogor ini mengetahui informasi pameran melalui Instagram dan langsung tertarik untuk berkunjung.
“Saya ingin membeli tas tangan baru,” ujar Sarah tentang tujuan utamanya datang ke INACRAFT.
Kesan pertama mereka terhadap pameran ini sangat positif.
“Tempatnya sangat besar. Kami baru saja tiba, jadi belum melihat banyak hal, tetapi ada banyak sekali barang bagus,” tambahnya.
Selain tas tangan, Sarah juga memiliki ketertarikan pada kain tradisional Indonesia.
“Mungkin saya juga mencari batik atau kebaya, tapi kami belum menemukan zona pakaian,” ujarnya antusias.
Nando pun mengamini kesan pasangannya, “Pameran ini sangat besar dan sangat bagus.”
Antusiasme Françoise, Hélène, Sarah, dan Nando menjadi bukti nyata bahwa INACRAFT telah berhasil menjadi etalase yang membanggakan bagi produk kerajinan Indonesia di mata dunia.
Dengan ragam produk yang unik dan berkualitas tinggi, INACRAFT tak hanya menjadi ajang transaksi bisnis, tetapi juga sarana pelestarian budaya yang memikat hati para pencinta kriya dari berbagai belahan dunia. (Disya Shaliha)





