Tenun ikat Troso dari Jepara, Jawa Tengah, mendapat perhatian setelah kain produksi House of Hoedas diketahui dikenakan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Bagi House of Hoedas, sorotan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekhasan tenun tradisional Jepara kepada khalayak yang lebih luas.
Anjani, generasi kedua pengelola House of Hoedas, mengatakan kain yang dikenakan Gibran menggunakan motif kawung yang dipadukan dengan unsur ukiran khas Jepara. Kain itu juga memiliki detail dobi, ciri khas yang digunakan House of Hoedas untuk membedakan produknya dari tenun lain.
“Kami awalnya tidak tahu kain itu akan dipakai Mas Gibran. Kami hanya menerima pesanan dalam jumlah banyak. Tahu-tahu muncul di berita, ternyata tenun Troso dari House of Hoedas,” kata Anjani saat ditemui di stan House of Hoedas dalam pameran INACRAFT October 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Minggu (11/10/2026).
House of Hoedas merupakan bisnis keluarga yang dirintis sejak 1991 oleh ayah Anjani, Hudas. Usaha tersebut berpusat di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, yang dikenal sebagai salah satu sentra industri tenun ikat di Jawa Tengah.
Anjani menjelaskan, setiap perajin di Desa Troso memiliki karakter dan ciri khas tersendiri. House of Hoedas mengembangkan identitas produknya melalui detail dobi yang disertakan pada setiap kain. Selain motif kawung yang dipadukan dengan ukiran Jepara, mereka juga menawarkan motif bunga dan beragam desain lain.
Salah satu kekuatan usaha ini terletak pada pola produksinya yang melibatkan perajin di desa. Ketika pesanan meningkat melampaui kapasitas pekerja internal, House of Hoedas membagikan pekerjaan kepada perajin lain di Troso.
Dengan pola tersebut, permintaan pasar tidak hanya menjadi peluang bagi usaha keluarga, tetapi juga membantu menggerakkan perekonomian masyarakat setempat. Kegiatan menenun tersebar di berbagai rumah produksi, sehingga pesanan dapat dikerjakan bersama sesuai kebutuhan.
Jaringan pelanggan House of Hoedas juga mencakup sejumlah desainer Indonesia, antara lain Itang Yunasz dan Didit Maulana. Anjani menyebut kain mereka pernah dikenakan sejumlah pesohor, seperti Dian Sastrowardoyo dan Nagita Slavina. Ia juga mengatakan produknya diminati pelanggan dari Malaysia, Singapura, Jerman, Prancis, dan Australia.
Meski telah memiliki pelanggan mancanegara, House of Hoedas belum menjalankan ekspor massal secara langsung. Pasar luar negeri selama ini dijangkau melalui pelanggan yang membeli produk mereka.
Dari segi harga, kain tenun House of Hoedas dibanderol hingga Rp 1,5 juta untuk produk kombinasi tenun dan lukisan tangan. Adapun busana perempuan yang sudah jadi dijual sekitar Rp 1,25 juta. Produk-produk tersebut mengandalkan pengerjaan tangan dan pengembangan motif sebagai nilai tambah.
Anjani mengatakan keikutsertaan dalam INACRAFT menjadi agenda rutin House of Hoedas, dua kali setiap tahun, pada pameran awal dan akhir tahun. Ia menilai penyelenggaraan INACRAFT October 2026 menunjukkan perkembangan positif dibandingkan periode setelah pandemi Covid-19.
Menurut dia, semakin banyak generasi muda yang mengenal pameran kerajinan. Promosi melalui media sosial dan influencer turut membantu memperluas jangkauan informasi, termasuk bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang memiliki keterbatasan anggaran pemasaran.
Bagi House of Hoedas, tenun Troso bukan sekadar kain tradisional. Perpaduan motif, detail khas, dan keterlibatan perajin lokal menjadi cara mempertahankan identitas kerajinan Jepara sekaligus membuka peluang pasar baru. Tantangannya kini adalah mengubah perhatian publik menjadi permintaan berkelanjutan, baik dari konsumen dalam negeri maupun pasar internasional.





