Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri meminta pelaku usaha ekonomi kreatif mengubah strategi bisnis agar lebih peka terhadap kebutuhan konsumen global. Produk yang diminati di dalam negeri, menurut dia, belum tentu sesuai dengan selera, standar, dan regulasi di negara tujuan ekspor.
“Paradigma pelaku usaha harus bergeser secara mendasar. Dari sekadar menjual apa yang kita buat, menjadi menciptakan apa yang dibutuhkan pasar atau creating based on demand,” kata Roro dalam penutupan sesi The Global Market Brief: 7 Markets, New Opportunities di Jakarta, Jumat, 23 Oktober 2026.
Sesi tersebut merupakan bagian dari The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026, yang berlangsung pada 21–25 Oktober 2026. Forum itu membahas peluang ekspor di sejumlah pasar tujuan melalui empat pokok bahasan: tren pasar, potensi produk Indonesia, akses dan strategi pemasaran, serta peluang kolaborasi dan tindak lanjut bisnis.
Roro mengatakan pelaku usaha perlu memahami karakter konsumen, mematuhi ketentuan negara tujuan, dan mengantisipasi perubahan tren perdagangan internasional. Kemampuan membaca permintaan pasar menjadi salah satu faktor penentu agar produk kreatif Indonesia dapat bersaing di luar negeri.
Untuk mendukung upaya tersebut, Kementerian Perdagangan mengandalkan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri, termasuk atase perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC). Mereka bertugas memberikan informasi pasar, mendampingi eksportir, serta membantu membuka akses bagi produk lokal.
Kemendag juga menyediakan InaExport, platform layanan ekspor yang mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan pembeli internasional. Melalui layanan ini, pelaku usaha diharapkan dapat memperoleh informasi mengenai tren dan permintaan pasar sekaligus mengakses fasilitas pendukung ekspor.
Ekspor Kreatif Capai US$ 5,96 Miliar
Pemerintah menempatkan ekonomi kreatif sebagai salah satu sektor yang berpotensi memperluas basis ekspor nasional. Sektor ini diperkirakan menyerap 26–27 juta tenaga kerja, dengan generasi muda dan perempuan sebagai kelompok yang mendominasi.
Data yang disampaikan Kemendag menunjukkan ekspor produk kreatif Indonesia mencapai US$ 5,96 miliar sepanjang Januari–Agustus 2026. Pada 2025, nilai ekspornya tercatat US$ 12,48 miliar.
Produk yang menjadi andalan meliputi perhiasan dari logam mulia, tas dan koper, furnitur kayu, mainan dan model rekreasi, serta alat musik elektrik. Swiss, Amerika Serikat, dan Uni Emirat Arab disebut sebagai sejumlah pasar utama produk kreatif Indonesia.
Besarnya nilai ekspor tersebut menunjukkan keberadaan pasar internasional bagi produk Indonesia. Namun, untuk memperluas penetrasi, pelaku usaha tetap perlu menyesuaikan desain, kualitas, harga, kemasan, dan strategi distribusi dengan karakteristik masing-masing negara.
Roro menilai kolaborasi antara Kementerian Perdagangan, Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Luar Negeri, dan pelaku usaha diperlukan untuk memperkuat akses pasar. Menurut dia, keberhasilan ekspor tidak cukup ditentukan oleh kreativitas produk, tetapi juga oleh kemampuan membangun kemitraan dan menghasilkan penjualan nyata.
Sebelum menghadiri sesi Global Market Brief, Roro menyampaikan monolog dalam sesi Blooming in Possibility di WCCE 2026. Ia menyoroti potensi karya lokal, mulai dari batik hingga seni digital, sebagai representasi identitas Indonesia sekaligus sumber peluang ekonomi internasional.
“Perdagangan menjadi jembatan yang menghubungkan kreativitas lokal dengan peluang global,” ujarnya. Ia menambahkan, kemitraan pemerintah, pelaku usaha, dan kreator dapat membantu memperluas peluang ekspor, termasuk bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sinergi tersebut, menurut Roro, juga tercermin dalam kegiatan seperti Trade Expo Indonesia (TEI) dan WCCE. Kedua forum diharapkan membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperluas jaringan, bertemu calon mitra, dan menjajaki pasar baru.
CEO sekaligus pendiri Surabaya Survey Solution, Yoga Arif Rohman, berharap WCCE dapat menjangkau pelaku usaha dari berbagai skala, terutama UMKM dan wirausaha muda yang sedang mengembangkan bisnis di sektor ekonomi kreatif maupun bidang pendukungnya.
Ia berharap forum tersebut tidak hanya menjadi ruang pertemuan pemangku kepentingan, tetapi juga membantu peserta memahami peluang kerja sama internasional. Peluang, menurut dia, dapat berasal dari layanan atau keahlian yang selama ini belum banyak dikaitkan dengan industri kreatif.
The 5th WCCE 2026 mempertemukan pembuat kebijakan, pelaku industri kreatif, akademisi, investor, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membahas pengembangan ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan. Mengusung tema Inclusively Creative: Collective Continuity, acara ini menghadirkan pameran seni dan desain, pengalaman interaktif di dunia gim, serta pasar kreatif yang menampilkan produk dari berbagai daerah di Indonesia.
Rangkaian kegiatan berlangsung di Jakarta pada 21–25 Oktober 2026. Bagi pemerintah, forum ini menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan kreativitas lokal dengan peluang pasar internasional. Tantangan berikutnya adalah memastikan pertemuan dan promosi tersebut berlanjut menjadi kemitraan, pesanan, dan peningkatan ekspor yang terukur.





