Kementerian Ekonomi Kreatif menjajaki kolaborasi dengan kawasan KUNCI BERSAMA yang mencakup 10 daerah di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kerja sama ini diarahkan untuk mengembangkan subsektor unggulan dan memperkuat kelembagaan ekonomi kreatif di daerah.
Kawasan KUNCI BERSAMA terdiri atas Kabupaten Kuningan, Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Brebes, Kota Banjar, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Pangandaran, dan Kabupaten Indramayu.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan pengembangan ekonomi kreatif perlu dimulai dari daerah dengan mengoordinasikan potensi setiap subsektor. Tujuannya, agar pelaku usaha mikro dapat berkembang menjadi usaha menengah hingga perusahaan besar.
“Ekonomi kreatif menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari daerah,” kata Teuku Riefky dalam audiensi dengan Forum KUNCI BERSAMA di kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2026.
Menurut dia, sektor ekonomi kreatif telah menyumbang 7,38 persen terhadap produk domestik bruto nasional dan menyerap 27,4 juta tenaga kerja. Sebanyak 63 persen pekerjanya merupakan generasi Z dan milenial, sedangkan 58 persen di antaranya perempuan.
Kementerian Ekraf menawarkan tiga pendekatan program, yakni aktivasi desa kreatif, pengembangan creative hub, dan program Creative by Indonesia. Program terakhir diarahkan untuk mengkurasi jenama lokal potensial agar mampu bersaing di tingkat nasional dan global.
Kementerian juga menjajaki koordinasi teknis dengan pemerintah daerah, termasuk penunjukan narahubung untuk memetakan kebutuhan program dan subsektor unggulan di setiap wilayah.
Ketua Forum KUNCI BERSAMA sekaligus Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar mengatakan wilayahnya memiliki potensi ekonomi kreatif yang terkait dengan kekayaan alam dan budaya. Potensi itu antara lain film, video, konten digital, kuliner, kopi, batik Kuningan, dan seni pertunjukan angklung.
Dian berharap pemerintah pusat mendukung pengembangan talenta, penempatan usaha, serta penyediaan ruang kreatif. Ia juga mengusulkan Kuningan menjadi prioritas pengembangan karena bentang alam dan budaya lokalnya dapat dimanfaatkan untuk promosi pariwisata.
Bupati Pangandaran Citra Pitriyami menyoroti perlunya integrasi ekonomi kreatif dan pariwisata. Pangandaran, yang membidik potensi 5 juta wisatawan per tahun, mengandalkan kuliner Pindang Gunung, kriya pesisir, fesyen, fotografi, dan sinematografi anak muda.
Citra meminta pendampingan untuk memperkuat kelembagaan ekonomi kreatif, membangun ruang bersama, serta meningkatkan keterampilan pelaku usaha. Ia juga mengharapkan fasilitasi promosi, akses pembiayaan, dan perluasan jejaring usaha bagi produk lokal.
Kementerian Ekraf berharap kolaborasi tersebut dapat mengoptimalkan keunggulan lokal untuk membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan nilai tambah produk daerah.




