Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah menyiapkan 200 perusahaan menengah untuk mengakses pendanaan melalui pasar modal. Perusahaan tersebut akan mengikuti Go Public Academy for Small and Medium Enterprise (SME), program pembinaan yang diluncurkan bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Surveyor Indonesia di Main Hall BEI, Jakarta, Senin, 2 November 2026.
Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM Bagus Rahman mengatakan program ini menjadi strategi untuk mempercepat perusahaan menengah menuju pasar modal. Pemerintah ingin memperluas sumber pembiayaan usaha yang selama ini bergantung pada perbankan.
“Go Public Academy for SMEs adalah strategi akselerasi multi-years dari program Rise to IPO,” ujar Bagus.
Program Rise to IPO mencakup identifikasi perusahaan menengah potensial, pemberian inspirasi untuk melantai di bursa, dukungan transformasi bisnis, serta peningkatan kapasitas perusahaan agar menjadi perusahaan terbuka yang kompetitif.
Bagus mengatakan, dari sekitar 15.300 perusahaan menengah yang tercatat dalam Sistem Informasi Data Tunggal (SIDT) Kementerian UMKM, sebanyak 200 perusahaan telah diseleksi untuk mengikuti program tersebut. Jumlah itu masih jauh dari potensi usaha menengah di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik yang disampaikan Bagus mencatat sekitar 800 ribu usaha menengah, sedangkan SIDT Kementerian UMKM mencakup sekitar 15.300 perusahaan.
Perusahaan peserta akan mendapatkan pembinaan untuk memahami persyaratan dan proses menuju penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). Pembinaan mencakup tujuh tahapan, mulai dari pemahaman kelembagaan, penguatan tata kelola, kesiapan keuangan, persiapan IPO, hingga pengembangan kapasitas perusahaan untuk bersaing di pasar nasional dan global.
Kementerian UMKM bekerja sama dengan BEI dan perusahaan sekuritas untuk memberikan pendampingan. Perusahaan peserta akan memperoleh pelatihan, konsultasi, serta dukungan dalam menyusun prospek usaha dan prospektus. Program ini juga melibatkan perguruan tinggi untuk mendukung riset, penyusunan kurikulum, dan pendampingan perusahaan.
Bagus mengatakan keterlibatan perusahaan sekuritas, termasuk melalui perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara, diharapkan membantu pengusaha menyiapkan kebutuhan menuju pasar modal. Kementerian juga akan berkoordinasi dengan BEI dan mitra sekuritas agar pembinaan berlangsung berkesinambungan.
Program pembinaan usaha menengah sebelumnya telah diperluas ke sejumlah kota. Tahun ini, Kementerian UMKM memperluas pendampingan ke Surabaya dengan 50 perusahaan, Makassar 45 perusahaan, dan Bandung 58 perusahaan. Perusahaan peserta akan menjalani asesmen kesiapan secara berkelanjutan untuk mengidentifikasi potensi mereka menjadi emiten.
Menurut Bagus, Go Public Academy merupakan bagian dari upaya memperkuat perusahaan menengah sebagai penghubung antara usaha kecil dan perusahaan besar. Perusahaan menengah diharapkan menjadi penggerak pengembangan ekosistem UMKM sekaligus contoh bagi pelaku usaha lain.
“Melalui kerja sama Kementerian UMKM dengan Bursa Efek Indonesia, kami berharap proses identifikasi, pembinaan, dan pengembangan usaha potensial dapat dilaksanakan lebih terarah dan terintegrasi dengan ekosistem pasar modal Indonesia,” kata Bagus.

Sekretaris Jenderal ASEPHI Subchi Subekti menyambut program Go Public Academy sebagai peluang bagi usaha kecil dan menengah untuk naik kelas. Menurut dia, pendampingan dari Kementerian UMKM, BEI, dan Surveyor Indonesia dapat membantu pelaku usaha mempersiapkan diri memasuki pasar modal melalui penawaran saham perdana.
Subchi mengatakan akademi tersebut akan menyediakan kelas pendampingan untuk memperkuat kelembagaan, manajemen, dan pengelolaan keuangan UMKM. Kesiapan itu penting agar perusahaan memiliki daya saing lebih kuat dan mampu memenuhi kebutuhan ketika memasuki pasar modal. “Tujuan utamanya adalah untuk menaikkan kelas para UKM Indonesia,” ujar Subchi.
Ia berharap program tersebut dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku usaha dan pemangku kepentingan. Subchi menilai pengembangan UMKM melalui akses pembiayaan dan penguatan kapasitas usaha berpotensi mendorong penciptaan lapangan kerja serta meningkatkan penerimaan negara. Ia juga berharap pelaku usaha lokal dapat berkembang dari pemain daerah menjadi perusahaan nasional, bahkan menembus pasar global.




