Medium cat air atau watercolor lazim dikenal menghadirkan sapuan warna yang lembut dan transparan. Namun di tangan perupa Agus Budiyanto, medium tersebut justru melahirkan komposisi warna yang kuat, dengan permainan gelap-terang yang intens, sekaligus membangun lanskap abstrak yang mengajak penonton memasuki ruang kontemplatif.
Sebanyak 25 karya dalam pameran tunggal bertajuk Oxygen dipamerkan di Galeri ZEN1, Jalan Purworejo No. 24, Dukuh Atas, Menteng, Jakarta Pusat. Pameran dibuka oleh Hadi Cahyadi pada Sabtu, 11 Juli 2026, dengan kurator Rizki A. Zaelani, serta didukung oleh Syakieb Sungkar, Anna Sungkar, dan Ferdy 75 Gallery sebagai tuan rumah. Pameran berlangsung hingga 11 Agustus 2026.
Seluruh karya dikerjakan di atas material kertas dengan medium watercolor. Sapuan warna yang berlapis membentuk komposisi yang tidak berangkat dari representasi objek-objek yang lazim dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Yang muncul justru rangkaian imaji abstrak yang memberi ruang bagi penonton untuk membangun tafsirnya sendiri.
Dalam catatan kuratorialnya, Rizki A. Zaelani menilai bahasa visual Agus lahir dari proses internalisasi pengalaman inderawi. Imaji abstrak yang muncul bukan sekadar permainan bentuk, melainkan hasil pengolahan pengalaman batin yang kemudian diperluas melalui bahasa seni rupa.
Rizki menjelaskan bahwa imaji abstrak yang diciptakan ini terhubung pada proses internalisasi hasil pencerapan inderawi yang terkait dengan keadaan wujud tersebut untuk bisa diperluas atau dibeda-bedakan.
Bagi Agus Budiyanto, judul Oxygen bukan sekadar metafora. Ia memandang seni sebagai kebutuhan mendasar manusia modern, layaknya oksigen yang menopang kehidupan. Di tengah ritme kota besar yang serba cepat, seni menjadi ruang untuk bernapas sekaligus memulihkan kejernihan batin.
Menurut Agus, gagasan tentang oksigen memang dapat dipahami sebagai ungkapan metaforis. Namun, di balik metafora itu terdapat makna yang sangat nyata, yakni menempatkan ekspresi seni sebagai entitas penting yang dibutuhkan manusia, terutama mereka yang hidup dalam kesibukan perkotaan.
Meski karya-karyanya hadir dalam idiom abstrak, Agus mengaku tidak pernah secara sadar berangkat dari keinginan menciptakan lukisan abstrak. Baginya, proses berkarya lebih merupakan perjalanan mengikuti energi yang tumbuh secara alami di dalam dirinya.
“Sebenarnya saya tak bermaksud membuat (ekspresi) abstrak, selain hanya mengikuti aliran energi alam yang hidup dalam diri saya,” kata Agus Budiyanto.
Melalui Oxygen, Agus Budiyanto memperlihatkan bagaimana watercolor dan kertas mampu menjadi medium yang tidak hanya menawarkan kekuatan teknis, tetapi juga menghadirkan pengalaman estetik yang reflektif. Di balik semburat warna yang bertumpuk dan komposisi yang tidak mengenal bentuk-bentuk konvensional, tersimpan ajakan untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan menemukan kembali ruang batin yang kerap hilang di tengah padatnya kehidupan kota. (FA)




