Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) menyesuaikan sejumlah agenda internasional di tengah tekanan geopolitik global dan perlambatan ekonomi dunia. Wakil Ketua Umum ASEPHI Bidang Kerja Sama Regional dan Internasional, Baby Jurmawati, mengatakan organisasi kini lebih selektif menentukan program luar negeri sambil memperkuat ekosistem kerajinan nasional berbasis handmade dan platform digital.
“Keadaan global, geopolitik, dan ekonomi membuat kami harus melakukan beberapa penyesuaian,” kata Baby dalam wawancara di sela Rapat Pimpinan ASEPHI di Hotel Mercure Sabang Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.
Salah satu agenda yang ditunda adalah rencana penjajakan pasar dan infrastruktur pameran di Afrika Selatan. Menurut Baby, keputusan itu diambil karena situasi keamanan dan dampak ekonomi global yang memicu kenaikan biaya perjalanan serta logistik internasional.
Selain faktor geopolitik, ASEPHI juga mempertimbangkan padatnya agenda organisasi pada Juli tahun ini. Pada bulan yang sama, ASEPHI akan menggelar festival kerajinan di Yogyakarta sehingga organisasi memilih memusatkan perhatian pada agenda domestik terlebih dahulu.
Meski demikian, ASEPHI tetap mempertahankan perhatian pada pasar Afrika dan Timur Tengah sebagai tujuan potensial ekspor produk kerajinan Indonesia. Organisasi itu juga terus menjajaki peluang kolaborasi internasional yang tidak membebani pelaku usaha secara finansial.
Menurut Baby, ASEPHI kini memprioritaskan kerja sama berbasis partnership dan saling dukung, terutama program yang memungkinkan anggota cukup menanggung tiket perjalanan tanpa biaya partisipasi besar.
“Kami ingin memberi kesempatan anggota ASEPHI secara bergantian untuk ikut kegiatan internasional sepanjang tidak terlalu memberatkan,” katanya.
Salah satu agenda yang kembali dihidupkan adalah rencana partisipasi pada pameran kerajinan internasional Artigiano yang sempat tertunda sejak 2019 akibat pandemi. Baby menyebut pameran itu menjadi salah satu rujukan penting bagi pengembangan INACRAFT karena memiliki konsep yang mirip, yakni mengedepankan produk handmade dan budaya.
Ia membandingkan Artigiano dengan pameran Ambiente di Jerman yang lebih berorientasi business to business dan industri manufaktur skala besar. Menurut Baby, Artigiano lebih dekat dengan karakter INACRAFT karena menggabungkan unsur retail, budaya, festival, hingga pariwisata.
“INACRAFT itu produk-produk yang punya nilai budaya dan handmade. Artigiano juga seperti itu,” ujarnya.
ASEPHI melihat antusiasme anggota cukup tinggi terhadap rencana partisipasi di Artigiano. Banyak pelaku usaha ingin belajar langsung dari tata kelola pameran internasional sekaligus mencari inspirasi pengembangan produk dan pasar.
“Respons teman-teman positif. Mereka ingin ikut karena bisa belajar banyak,” kata Baby.
Selain Eropa, ASEPHI tetap memandang Vietnam sebagai pintu masuk strategis pasar ASEAN. Negara itu dinilai memiliki kekuatan sebagai hub perdagangan regional yang penting bagi produk kerajinan Indonesia.
Dalam hubungan dengan pemerintah, Baby mengatakan ASEPHI terus membuka peluang kolaborasi dengan kementerian dan perwakilan RI di luar negeri, termasuk Kementerian Perdagangan serta KBRI dan KJRI. Namun, ia mengakui kondisi efisiensi anggaran membuat dukungan fasilitasi pameran internasional kini perlu dihitung ulang.
Di luar agenda pameran, ASEPHI juga menyoroti pentingnya penguatan platform digital untuk memperkenalkan produk kerajinan Indonesia ke pasar internasional. Menurut Baby, promosi digital sudah menjadi titik penting banyak pelaku usaha kerajinan.
Ia menilai keberadaan media sosial, website, hingga platform penjualan online kini menjadi kebutuhan mendesak untuk memperluas pasar produk handmade Indonesia. Terlebih, konsumen global saat ini semakin akrab dengan promosi berbasis konten digital melalui media sosial seperti TikTok dan platform visual lainnya.
ASEPHI optimistis produk handmade Indonesia masih memiliki peluang kuat di pasar global meski ekonomi dunia sedang lesu. Menurut Baby, produk berbasis kerajinan tangan memiliki pasar tersendiri yang tidak sepenuhnya ditentukan harga.
Namun, ia mengingatkan tekanan nilai tukar dan ketergantungan impor bahan baku tertentu, terutama untuk sektor tekstil, tetap menjadi tantangan serius. Kenaikan harga bahan impor diperkirakan mulai terasa dalam beberapa bulan mendatang apabila penguatan dolar terus berlanjut.
Meski demikian, produk berbasis bahan baku lokal seperti kayu dan serat alam dinilai masih memiliki daya saing tinggi di pasar internasional.
Baby menegaskan kerajinan tangan tidak akan kehilangan tempat karena mengandung nilai budaya, estetika, dan warisan yang terus dicari konsumen global.
“Kerajinan buatan tangan tidak pernah mati. Akan selalu ada penggemarnya,” tutup Baby.




