Pertemuan business to business (B2B) ASEPHI dengan Maison de l’Artisan di Kedutaan Besar Maroko, Jakarta, Selasa (3/11/2026), membuka peluang pengembangan produk bersama, pertukaran keahlian, dan promosi kerajinan kedua negara.
ASEPHI melihat pertemuan dengan Maison de l’Artisan dalam rangka Morocco Week di Jakarta sebagai peluang memperluas kerja sama industri kerajinan Indonesia dan Maroko. Wakil Ketua Umum I ASEPHI Bidang Kerja Sama Antar Lembaga Regional dan Internasional Baby Jurmawati mengatakan anggota ASEPHI yang hadir merupakan produsen dari sejumlah daerah, seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, dan Pekalongan.
Brand yang mengikuti pertemuan B2B ASEPHI dengan Maison de l’Artisan di Kedutaan Besar Maroko, Jakarta, antara lain Daloeng, Kibti Furniture, Anaria Verme, Bagaharukraf, Hesandra Indonesia, Perada Batik, Batik Mas Kencana, Vite–Oniecraft, Kliqkayu, Amalia Jewelry, Celvian, Batik Harni–Ibu Negeri, Pulpio, Noekatun, Mine Jewelry, Allana Indonesia, dan Emmy Thee.
Mereka membawa produk batik, perhiasan, bordir, serta kerajinan kayu yang memadukan unsur tradisional dan modern. “Mereka sangat serius mencari kolaborasi, mengeksplorasi peluang, atau berbagi informasi tentang prospek bisnis kerajinan ke depan,” kata Baby dalam pertemuan B2B tersebut.
Baby mengatakan ASEPHI dan pihak Maroko sebelumnya pernah membahas kemungkinan kerja sama, termasuk ketika Indonesia mendapat undangan dalam kegiatan terkait kerajinan di Marrakesh pada 2020. Pembicaraan saat itu melibatkan pihak pemerintah dan perwakilan diplomatik Maroko di Indonesia.
Menurut Baby, pertemuan B2B di Kedutaan Besar Maroko menjadi kesempatan melanjutkan komunikasi tersebut menjadi proyek konkret. Kerja sama dapat menghubungkan sektor swasta dengan dukungan pemerintah, sekaligus memanfaatkan pengalaman Indonesia menggelar pameran kerajinan berskala besar di Asia Tenggara. ASEPHI berharap kolaborasi ini dapat membuka ruang promosi dan pengembangan usaha bagi perajin kedua negara.
Salah satu peluang yang dibahas adalah pengembangan produk dan desain bersama melalui pertukaran keahlian. Baby menilai perajin Indonesia dan Maroko memiliki kekuatan yang berbeda dan dapat saling melengkapi. Maroko memiliki keahlian dalam pengerjaan logam, sedangkan Indonesia memiliki potensi dalam tenun dan pengembangan serat alam.
Kolaborasi dapat dilakukan melalui pertukaran pengetahuan, pengembangan desain baru, hingga kegiatan promosi bersama di Indonesia dan Maroko. Baby berharap pertemuan tersebut menjadi awal kerja sama yang memberi manfaat bagi perajin, memperluas pasar, dan memperkenalkan kreativitas kerajinan kedua negara kepada konsumen internasional.




