Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) menegaskan komitmennya untuk memperluas akses pasar internasional sekaligus memperkuat transformasi digital bagi pelaku UMKM kerajinan. Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal ASEPHI, Azis Bakhtiar, di sela rangkaian kegiatan Pameran Jakarta International Handicraft Trade Fair (INACRAFT) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).
Azis mengungkapkan bahwa dalam berbagai pertemuan dengan delegasi luar negeri, ASEPHI menerima sejumlah tawaran kerja sama, terutama dalam bentuk partisipasi pameran internasional. Namun, ia menilai banyak tawaran tersebut masih bersifat promosi sepihak, seperti ajakan mengikuti pameran luar negeri dengan diskon, tanpa konsep kemitraan yang berimbang.
“Sebagian besar masih berupa undangan pameran dengan potongan harga. Bagi kami, kerja sama ideal seharusnya tidak hanya soal pameran, tetapi juga ada nilai tambah seperti pelatihan, pengembangan kapasitas, dan dukungan berkelanjutan bagi anggota,” ujar Azis.
Menurutnya, beberapa model kerja sama yang lebih konstruktif pernah diterapkan, termasuk program yang mengombinasikan keikutsertaan pameran luar negeri dengan pelatihan bisnis dan peningkatan kompetensi bagi pelaku usaha. ASEPHI berharap pola tersebut dapat diperluas, terutama dengan mitra dari Jepang, Malaysia, dan negara lain yang telah menunjukkan minat menjalin kolaborasi.
Di sisi lain, ASEPHI juga tengah menyiapkan strategi jangka panjang dalam mendorong digitalisasi anggotanya. Azis menyebut bahwa ke depan, ASEPHI ingin memastikan setiap anggota memiliki kesiapan dasar dalam ekosistem digital, mulai dari kepemilikan website hingga integrasi dengan berbagai platform daring.
“Kami ingin setelah anggota memiliki kartu keanggotaan (KTA), mereka juga siap secara digital. Kami sedang menjajaki kerja sama dengan berbagai platform, termasuk media sosial dan e-commerce, serta mempertimbangkan pengembangan platform internal ASEPHI dengan ciri khas tersendiri,” jelasnya.
Dalam konteks INACRAFT 2026, Azis menilai pameran tahun ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kualitas produk dan daya saing pelaku industri kreatif. Ia juga menyoroti masukan dari Wakil Presiden Republik Indonesia yang mendorong peningkatan standar, khususnya dalam hal kemasan, desain, selera pasar, dan storytelling produk.
“Packaging harus lebih baik, selera warna harus lebih kekinian, dan yang tidak kalah penting adalah cerita di balik produk. Kekuatan story menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli,” katanya.
Azis menambahkan bahwa ASEPHI juga merancang agenda pameran berskala regional dan internasional sebagai tindak lanjut pasca INACRAFT, termasuk rencana ekspansi ke Afrika Selatan, Malaysia, Jepang dan negara lain. Langkah ini diharapkan dapat membuka pasar baru sekaligus memperluas jejaring bisnis bagi perajin dan eksportir Indonesia.
INACRAFT 2026, yang berlangsung hingga 8 Februari 2026 di JICC Jakarta, menjadi ajang strategis bagi pelaku industri kerajinan nasional untuk memperkenalkan produk unggulan, menjajaki peluang ekspor, serta memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan ekonomi kreatif Indonesia.





