• Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan
Inacraft News
Inacraft on October 2026
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
Inacraft News
No Result
View All Result
Home Business

Budaya Bukan Beban Anggaran, tapi Modal Ekonomi Kreatif

Eddy Purwanto by Eddy Purwanto
October 23, 2026
in Business, Ekonomi dan Bisnis, Event, Headlines
0
Budaya Bukan Beban Anggaran, tapi Modal Ekonomi Kreatif
0
SHARES
2
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai kebudayaan tidak semestinya dipandang sebagai beban belanja pemerintah. Menurut dia, budaya merupakan modal produktif yang dapat mendorong inovasi dan pertumbuhan ekonomi kreatif.

Pernyataan itu disampaikan Fadli dalam sesi pleno The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Hotel Indonesia, Jakarta, pada 21–25 Oktober 2026.

Fadli mengatakan Indonesia memiliki modal budaya yang besar, dengan lebih dari 1.340 suku bangsa, 718 bahasa daerah, dan ribuan objek pemajuan kebudayaan. Kekayaan tersebut, menurut dia, menjadi sumber inspirasi bagi berbagai industri kreatif, mulai dari film, musik, dan kriya hingga konten digital.

“Budaya bukan sekadar komoditas, melainkan fondasi yang harus dilestarikan,” kata Fadli. Ia mendorong pengembangan ekonomi budaya sirkular, yakni model yang menghubungkan pelestarian tradisi, penciptaan nilai ekonomi, dan penguatan komunitas budaya.

Kementerian Kebudayaan, kata dia, menjalankan strategi dari hulu hingga hilir. Pada tahap hulu, pemerintah berfokus pada pelindungan warisan budaya, dukungan terhadap komunitas, serta dokumentasi dan pewarisan pengetahuan tradisional. Pada tahap pengembangan, dukungan diberikan melalui Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya dan Dana Indonesia Raya. Adapun pada tahap hilir, pemerintah mendorong distribusi karya, partisipasi dalam festival internasional, dan kolaborasi lintas negara.

Fadli juga menekankan perlunya pembagian peran yang jelas antara Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Ekonomi Kreatif. Kementerian Kebudayaan bertugas merawat pengetahuan dan ekosistem budaya, sedangkan Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong komersialisasi kekayaan intelektual, pengembangan industri, dan perluasan pasar.

“Masa depan kreativitas tidak hanya bergantung pada apa yang kita ciptakan hari ini, tetapi juga pada pengetahuan, budaya, dan peluang yang kita wariskan kepada generasi mendatang,” ujarnya.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Arif Satria, menyoroti peran sains dan teknologi dalam menghubungkan riset dengan warisan budaya. Pemanfaatan budaya lokal, menurut dia, dapat dikembangkan untuk mendukung industri gim nasional dan inovasi teknologi pangan bagi produk kuliner Indonesia.

Sementara itu, Menteri Hukum Supratman Andi Agtas mengatakan perlindungan kekayaan intelektual dan penyederhanaan regulasi diperlukan agar pelaku industri kreatif memperoleh manfaat ekonomi dari karya mereka.

Sebanyak 35 kementerian dan lembaga, menurut Supratman, tengah berkolaborasi menyusun peta jalan ekonomi kekayaan intelektual Indonesia. Upaya tersebut diarahkan agar perlindungan hukum tidak berhenti pada pencatatan hak, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan ekonomi bagi kreator dan pelaku usaha.

WCCE 2026 mengusung tema Inclusively Creative: Collective Continuity, yang menekankan inklusivitas, kolaborasi, dan keberlanjutan dalam pengembangan ekonomi kreatif global.

Forum ini mempertemukan pembuat kebijakan, pelaku industri, akademisi, dan kreator untuk membahas peran ekonomi kreatif dalam pembangunan berkelanjutan. Pemerintah berharap kolaborasi lintas sektor dapat menghubungkan pelindungan budaya, riset, teknologi, dan industri sehingga kekayaan budaya Indonesia tidak hanya terjaga, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Tags: Andi Agtasarif satriaFadli ZonInclusively Creative: Collective ContinuityKepala Badan Riset dan Inovasi NasionalMenteri Hukum SupratmanMenteri KebudayaanWCCEWorld Conference on Creative Economy
Previous Post

Kemenpar Promosikan Empat Destinasi Indonesia Lewat Mega FAM Trip 2026

Next Post

Penerbangan Langsung Shenzhen–Jakarta Kembali Beroperasi, Kemenpar Bidik Wisatawan Cina

Next Post
Penerbangan Langsung Shenzhen–Jakarta Kembali Beroperasi, Kemenpar Bidik Wisatawan Cina

Penerbangan Langsung Shenzhen–Jakarta Kembali Beroperasi, Kemenpar Bidik Wisatawan Cina

Please login to join discussion

E-Magazine Inacraft News

Warta Inacraft

INACRAFT NEWS

INACRAFT NEWS diterbitkan oleh Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (BPP ASEPHI)

Jl. Wijaya I No.3A, – Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12170
Phone: (62 21) 725 2032, 725 2033, 725 2063
Fax.: (62 21) 725 2062
Email: redaksi@inacraftnews.com

Redaksi

  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Network

  • ASEPHI
  • Inacraft Award
  • Inacraft
  • Emerging Award
  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo

No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo