Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) siap memfasilitasi penyusunan buku Mode Indonesia, sebuah inisiatif dokumentasi yang menghimpun karya dan perjalanan desainer Indonesia lintas generasi. Buku tersebut disebut menjadi dokumentasi pertama yang memetakan perkembangan fesyen Indonesia dari berbagai era sekaligus memperkuat identitas budaya nasional melalui karya para perancang busana Tanah Air.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan proyek dokumentasi tersebut memiliki nilai strategis bagi pengembangan ekosistem fesyen nasional.
“Ini merupakan dokumentasi yang sangat penting bagi perkembangan fesyen Indonesia. Fondasi penerbitan, perlindungan kekayaan intelektual, hingga skema distribusinya juga harus dipersiapkan dengan matang agar manfaatnya dapat berkelanjutan,” ujar Riefky saat menerima audiensi komunitas Mode Indonesia yang dipimpin perancang busana senior Samuel Wattimena di Gedung Autograph Tower, Jakarta, Senin, 11 Mei 2026.
Kementerian Ekraf, kata Riefky, akan memfasilitasi koordinasi lintas sektor, termasuk membuka ruang diskusi dengan Direktorat Pengembangan Fasilitasi Kekayaan Intelektual serta Direktorat Penerbitan dan Fotografi untuk memperkuat pengembangan buku tersebut.
Menurut dia, proyek dokumentasi itu sudah memiliki fondasi konten yang kuat dan berpotensi menjadi referensi penting bagi penguatan industri mode nasional.
“Kami melihat potensinya besar dan kontennya sudah sangat baik. Tinggal bagaimana pengembangannya dipersiapkan dengan kuat agar karya ini bisa menjadi referensi penting dalam penguatan ekosistem fesyen nasional,” katanya.
Buku Mode Indonesia direncanakan terbit pada akhir Juli 2026 dalam dua versi, yakni soft cover dan hard cover. Versi hard cover selanjutnya akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk memperluas jangkauan pembaca internasional.
Selain memuat perjalanan desainer Indonesia yang telah berkiprah di tingkat global, buku tersebut juga diharapkan menjadi medium untuk memperkenalkan keragaman wastra Nusantara kepada masyarakat luas.
Dalam audiensi itu, Samuel Wattimena mengatakan dokumentasi fesyen Indonesia selama ini masih tersebar dan belum terhimpun dalam satu karya komprehensif yang merekam perjalanan desainer lintas generasi.
“Buku Mode Indonesia belum pernah ada yang menggabungkan para desainer Indonesia lintas generasi. Kami berharap ini menjadi buku pertama yang dapat terus berkembang pada tahap-tahap berikutnya. Kami ingin memperlihatkan bahwa keragaman fesyen Indonesia sangat luar biasa,” ujar Samuel.
Samuel juga mengungkapkan bahwa pengembangan dokumentasi ke depan tidak hanya terbatas pada fesyen, tetapi akan diperluas ke subsektor ekonomi kreatif lain seperti kostum film dan teater. Menurut dia, dokumentasi tersebut penting untuk memperlihatkan keterhubungan antara mode, seni pertunjukan, dan identitas budaya Indonesia.
Selain itu, komunitas Mode Indonesia juga berharap proyek ini dapat mendorong kolaborasi dengan pemerintah daerah dalam pengembangan wastra lokal di berbagai wilayah Indonesia.
Turut mendampingi Menteri Ekraf dalam audiensi tersebut antara lain Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Yuke Sri Rahayu serta Pelaksana Tugas Direktur Fesyen Romi Astuti.





