• Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan
Inacraft News
Inacraft on October 2026
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ
No Result
View All Result
Inacraft News
No Result
View All Result
Home Cover Story

Dari Canting ke Lensa Kamera, Merawat Cerita dan Identitas Budaya

Eddy Purwanto by Eddy Purwanto
November 6, 2026
in Cover Story, Event, Focus ASEPHI
0
Dari Canting ke Lensa Kamera, Merawat Cerita dan Identitas Budaya
0
SHARES
5
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Fotografi dan batik memiliki kesamaan yang lebih dalam daripada sekadar karya visual. Keduanya lahir dari proses panjang, ketelitian, komposisi, dan kepekaan terhadap detail. Di balik setiap karya, tersimpan karakter serta cerita yang tidak selalu bisa ditangkap hanya dengan melihatnya.

Gagasan itu mengemuka dalam Photography Talkshow bertajuk “The Value of Art” pada perayaan ulang tahun ke-9 komunitas HAYOMOTO di Roemah Umara, Veteran, Bintaro, Jakarta, Jumat, 6 November 2026. Diskusi tersebut menghadirkan Muchamad Ali Jufry, Wakil Ketua Umum II ASEPHI Bidang Digital dan IT sekaligus Project Officer INACRAFT; Martha Suherman, fotografer profesional bidang korporasi dan komersial; serta Hardi Budi, seniman visual.

Ali Jufry melihat fotografi dan batik memiliki landasan penciptaan yang serupa. Keduanya menuntut perhatian terhadap komposisi, detail, karakter, dan cerita. Dalam batik tulis, misalnya, nilai sebuah kain tidak hanya ditentukan oleh motif yang terlihat, tetapi juga proses pengerjaan, kualitas, serta karakter yang dibangun pembatiknya. Hal serupa berlaku dalam fotografi, ketika sebuah gambar tidak sekadar merekam objek, tetapi juga menyampaikan pengalaman dan perasaan.

“Bagi saya, batik dan fotografi itu mempunyai persamaan dari sisi komposisi, detail, karakter, dan cerita. Karya yang baik bukanlah sesuatu yang hanya kita lihat, tetapi sesuatu yang kita rasakan,” kata Ali Jufry.

Perspektif tersebut memperlihatkan bahwa nilai seni tidak berhenti pada keindahan permukaan. Dalam batik, setiap goresan canting dan susunan motif merupakan bagian dari proses kreatif yang membutuhkan kesabaran serta keterampilan. Dalam fotografi, pemilihan sudut pandang, pencahayaan, komposisi, dan momen menjadi unsur yang membentuk karakter sebuah gambar.

Keduanya juga menjadi medium untuk merekam identitas dan kebudayaan. Batik menyimpan jejak tradisi melalui motif dan teknik yang diwariskan lintas generasi. Fotografi menangkap kehidupan, ruang, manusia, dan peristiwa yang membentuk ingatan kolektif. Jika batik bercerita melalui garis dan warna, fotografi menyampaikan kisah melalui cahaya dan perspektif.

Ketertarikan Ali Jufry terhadap fotografi sendiri berkembang melalui perjalanan yang cukup panjang. Berawal dari fotografi model, ia kemudian mendalami fotografi lanskap dan cityscape. Perkenalannya dengan street photography justru terjadi ketika berada di Malaysia. Di sana, ia berkenalan dengan komunitas fotografi jalanan yang kemudian memperluas pandangannya terhadap dunia fotografi.

Sebagai pengusaha yang kerap melakukan perjalanan bisnis ke berbagai negara, Ali Jufry menjadikan fotografi sebagai cara untuk merekam pengalaman perjalanan. Ketertarikannya terhadap fotografi sejalan dengan aktivitasnya di ASEPHI dan INACRAFT, dua ruang yang mempertemukan dunia usaha, kreativitas, dan kebudayaan Indonesia.

Menurut Ali Jufry, fotografi dapat mengambil peran lebih besar dalam memperkenalkan produk kerajinan nasional ke pasar internasional. Kekuatan visual menjadi bagian penting dalam membangun persepsi terhadap sebuah produk, terutama ketika persaingan industri kreatif semakin mengandalkan konten digital.

Ia menilai Indonesia masih perlu memperkuat kualitas komunikasi visual untuk memperkenalkan kekayaan budayanya ke dunia. Negara seperti India, Iran, dan Turki, menurutnya, telah memiliki kekuatan visual yang cukup menonjol dalam mempromosikan identitas budaya masing-masing.

Karena itu, kolaborasi antara komunitas fotografi dan pelaku industri kerajinan menjadi peluang untuk memperluas jangkauan promosi produk Indonesia. Fotografi tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga menjadi sarana membangun nilai tambah dan daya tarik sebuah karya.

Ali Jufry juga menyoroti persoalan yang masih dihadapi perajin Indonesia, yakni bagaimana menempatkan harga yang sepadan dengan nilai karya. Menurutnya, harga produk kerajinan semestinya tidak hanya dihitung berdasarkan bahan baku dan biaya produksi. Ada nilai lain yang perlu diperhitungkan, termasuk proses kreatif, kekhasan, keberlanjutan, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Konsep sustainability atau keberlanjutan, misalnya, dapat menjadi nilai tambah yang membedakan produk kerajinan Indonesia di pasar global. Produk yang dibuat dengan memperhatikan lingkungan memiliki nilai lebih karena membawa tanggung jawab sosial dan ekologis di balik proses produksinya.

Ia mencontohkan kondisi Pekalongan, kota yang dikenal sebagai salah satu pusat industri batik nasional. Di balik kekayaan tradisi batiknya, persoalan pencemaran sungai akibat limbah industri masih menjadi pekerjaan rumah. Pengembangan industri batik perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan.

Pekalongan diharapkan dapat mengembalikan kualitas sungainya sehingga tidak hanya dikenal sebagai sentra batik, tetapi juga memiliki lingkungan yang bersih dan menjadi daya tarik wisata. Untuk mencapai hal tersebut, proses produksi batik perlu semakin memperhatikan penggunaan bahan dan pengolahan limbah yang ramah lingkungan.

Persoalan tersebut juga dapat dilihat melalui pendekatan fotografi street. Fotografi jalanan bukan sekadar merekam aktivitas dan kehidupan sehari-hari masyarakat, melainkan juga menangkap realitas sosial, perubahan lingkungan, serta hubungan manusia dengan ruang hidupnya. Melalui lensa kamera, persoalan yang kerap luput dari perhatian dapat dihadirkan menjadi cerita visual yang lebih dekat dengan masyarakat.

Ali Jufry mengambil perbandingan dari Wuzhou, Cina, yang dikenal sebagai salah satu kawasan produksi sutra di jalur perdagangan Silk Road. Ia melihat bagaimana kawasan yang dahulu memiliki persoalan pencemaran sungai dapat dikembangkan menjadi kawasan yang lebih bersih sekaligus destinasi wisata.

Melalui tema “The Value of Art”, perayaan sembilan tahun HAYOMOTO menjadi ruang pertemuan gagasan antara fotografi dan seni visual dengan industri kreatif. Lebih dari sekadar menghasilkan gambar yang indah atau produk yang menarik, keduanya mengingatkan bahwa nilai sebuah karya terletak pada proses, cerita, karakter, dan tanggung jawab yang menyertainya.

Tags: asephiHAYOMOTOinacraftMuchamad Ali JufrypekalonganPhotographyRoemah UmaraThe Value of Art
Previous Post

Sigit Riswanto Gantikan Subchi Subekti Pimpin ASEPHI Banten

Next Post

Photography Talkshow The Value of Art: Gagasan, Ekspresi, dan Nilai

Next Post
Photography Talkshow The Value of Art: Gagasan, Ekspresi, dan Nilai

Photography Talkshow The Value of Art: Gagasan, Ekspresi, dan Nilai

Please login to join discussion

E-Magazine Inacraft News

Warta Inacraft

INACRAFT NEWS

INACRAFT NEWS diterbitkan oleh Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (BPP ASEPHI)

Jl. Wijaya I No.3A, – Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12170
Phone: (62 21) 725 2032, 725 2033, 725 2063
Fax.: (62 21) 725 2062
Email: redaksi@inacraftnews.com

Redaksi

  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Network

  • ASEPHI
  • Inacraft Award
  • Inacraft
  • Emerging Award
  • Inacraft News
  • Editor’s Note
  • Redaksi
  • Info Iklan

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo

No Result
View All Result
  • Home
  • Cover Story
  • Focus ASEPHI
  • Product
  • SMEs
  • Design
  • Art
  • Inspiration
  • e-Magazine
  • Warta Inacraft
  • More …
    • Figure
    • Celebrity
    • Travel
    • Fashion
    • Regional Report
    • Tech Craft
    • Finance & Banking
    • Business
    • Vacation
    • CSR
    • Review
    • Event
    • Agenda Asephi
    • How to Do
    • QUIZ

Inacraft News © 2023 ASEPHI - by Kolabo