YOGYAKARTA – Di tengah deretan produk kriya yang memenuhi Jogja Expo Center (JEC), Energia Fragrance Academy memilih jalur yang berbeda saat mengikuti INACRAFT Festival Yogyakarta 2026 pada 15–19 Juli 2026. Alih-alih semata mengejar penjualan parfum, jenama asal Bekasi itu menjadikan pameran sebagai ruang edukasi untuk memperkenalkan dunia wewangian kepada masyarakat sekaligus memetakan potensi pasar Yogyakarta.
Co-owner Energia, Miracle, mengatakan keikutsertaan pada penyelenggaraan perdana INACRAFT Festival Yogyakarta lebih difokuskan untuk memperkenalkan akademi parfum yang mereka kembangkan. Menurut dia, edukasi menjadi fondasi penting sebelum memperluas bisnis wewangian artisan ke berbagai daerah.
“Fokus kami sebenarnya mengenalkan akademinya terlebih dahulu. Penjualan tetap berjalan, tetapi kami ingin melihat bagaimana minat masyarakat terhadap dunia perfumeri. Dari situ kami bisa perlahan menjajaki pasar,” ujar Miracle.
Melalui konsep tersebut, pengunjung tidak hanya diperkenalkan pada produk jadi, tetapi juga diajak memahami proses di balik penciptaan sebuah parfum. Di stan Energia, pengunjung dapat mengenal struktur aroma, mulai dari top notes, middle notes, hingga base notes, serta mencoba meracik parfum sesuai karakter masing-masing melalui sesi interaktif yang dipandu langsung oleh tim perfumer.
Program edukasi tersebut dipimpin oleh Monica, owner Energia yang mendalami ilmu advanced perfumery di Grasse, Prancis. Ia mengatakan minat masyarakat Yogyakarta terhadap pembelajaran parfum ternyata jauh lebih besar dari perkiraan.
“Banyak pengunjung yang bukan hanya ingin membeli parfum, tetapi juga ingin tahu bagaimana parfum dibuat. Mereka penasaran dengan proses meracik aroma dan ingin mencoba membuat formula sendiri,” kata Monica.
Selama INACRAFT Festival Yogyakarta, mereka membuka Basic Perfumery Workshop, kelas pengenalan bagi pemula yang ingin belajar meracik parfum. Dalam workshop tersebut, peserta diperkenalkan pada 30 jenis bibit aroma (fragrance oil) yang dipilih dari lebih dari 100 bahan baku aroma (raw material) yang dimiliki perusahaan. Seluruh bahan tersebut merupakan hasil pengembangan dan formulasi internal di laboratorium mereka di Bekasi.

Menurut Monica, antusiasme itu terlihat dari banyaknya peserta yang mengikuti sesi pengenalan parfum selama pameran berlangsung. Peserta berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa yang tertarik mempelajari dunia wewangian secara lebih mendalam.
Energia pun melihat peluang tersebut sebagai langkah awal untuk memperluas ekosistem pendidikan parfum di Indonesia. Selama ini, pembelajaran mengenai perfumeri masih tergolong terbatas, padahal Indonesia memiliki kekayaan bahan baku alami yang berpotensi dikembangkan menjadi industri bernilai tambah tinggi.
Salah satu produk yang paling banyak menarik perhatian adalah Tara-tara, parfum yang sebelumnya meraih penghargaan dari Kementerian Perindustrian dalam kategori inovasi bertema mental health. Produk tersebut dikembangkan sebagai parfum berbasis aromaterapi yang dirancang membantu relaksasi, mengurangi stres, hingga meningkatkan kualitas tidur.
Miracle menjelaskan formulanya memadukan berbagai bahan alami seperti lavender, minyak kelapa, moringa oil, dan vitamin E sehingga aman digunakan langsung pada kulit.
“Di tengah tekanan hidup yang semakin tinggi, kami ingin parfum tidak hanya menjadi penunjang penampilan, tetapi juga memberi manfaat untuk kenyamanan psikologis,” ujarnya.
Selain menghadirkan koleksi parfum siap pakai, Energia juga membuka Fragrance Bar, tempat pengunjung dapat meracik parfum sesuai karakter masing-masing. Puluhan pilihan fragrance oil disediakan untuk dipadukan menjadi aroma yang bersifat personal.
Miracle menilai pendekatan edukatif akan menciptakan pasar yang lebih berkelanjutan dibanding sekadar mendorong penjualan produk. Ketika masyarakat memahami proses kreatif di balik sebuah parfum, apresiasi terhadap karya perfumer lokal juga akan meningkat.
Karena itu, INACRAFT Festival Yogyakarta menjadi momentum bagi Energia untuk memperkenalkan profesi perfumer sekaligus membuka wawasan masyarakat bahwa industri wewangian tidak hanya berkaitan dengan produk akhir, melainkan juga riset, kreativitas, dan pengembangan sumber daya manusia.
Meski demikian, hasil penjualan selama pameran tetap menunjukkan prospek yang positif. Tingginya jumlah pengunjung yang datang ke stan Energia memperlihatkan bahwa pasar parfum artisan di Yogyakarta memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.
Ke depan, Energia berencana terus memperluas kegiatan pelatihan dan workshop perfumeri di berbagai daerah, sembari membangun pasar secara bertahap melalui pendekatan edukasi. “Kami ingin orang mengenal dulu ilmunya, kemudian tumbuh apresiasi terhadap parfum artisan. Dari situ pasar akan berkembang secara alami,” ujar Miracle.





