Menteri Kebudayaan Fadli Zon membuka pameran topeng tradisional bertajuk Dua Wajah, Satu Jiwa di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2026. Pameran yang digelar Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) bersama Museum dan Cagar Budaya itu mempertemukan tradisi topeng Indonesia dan Korea Selatan melalui koleksi fisik dan pengalaman imersif.
Pameran berlangsung pada 27–31 Oktober 2026 di area Ground, Gedung C, Museum Nasional Indonesia. Pengunjung juga dapat menikmati konten khusus di ruang ImersifA yang memadukan warisan budaya dengan teknologi visual interaktif.
Pameran ini menjadi bagian dari perayaan persahabatan Indonesia dan Korea Selatan yang telah menjalin hubungan diplomatik sejak 1973. Melalui tradisi topeng, kedua negara memperlihatkan persamaan nilai dan pengalaman manusia di balik perbedaan bentuk, teknik, serta konteks budaya.
Fadli Zon mengatakan kebudayaan memiliki peran penting dalam mempererat hubungan antarmasyarakat, melampaui hubungan diplomatik formal. Menurut dia, pameran bersama dapat menjadi ruang perjumpaan bagi seniman, pelajar, peneliti, praktisi budaya, dan komunitas dari kedua negara.
“Kebudayaan memberikan dimensi kemanusiaan dalam kemitraan ini. Pameran Dua Wajah, Satu Jiwa menjadi wujud bermakna dari persahabatan tersebut dengan mempertemukan topeng Indonesia dan Korea dalam sebuah dialog budaya,” kata Fadli dalam sambutannya.
Sepuluh Pasang Topeng dengan Kisah Serupa
Salah satu bagian utama pameran ini adalah 10 pasang topeng tradisional Indonesia dan Korea yang memiliki kemiripan dalam makna, karakter, maupun nilai budaya. Salah satunya, topeng Miyal Halmi dari Korea dan topeng Tua dari Bali, yang sama-sama menggambarkan manusia pada usia senja.
Kedua topeng itu merepresentasikan perjalanan waktu dan pengalaman hidup. Karakter yang ditampilkan mengingatkan bahwa usia lanjut bukan semata-mata tentang berkurangnya kekuatan fisik, melainkan juga tentang kebijaksanaan dan makna yang terbentuk sepanjang kehidupan.
Selain 10 pasang tersebut, pameran menampilkan topeng tradisional Korea lainnya untuk memperkenalkan keragaman seni dan tradisi negeri itu kepada masyarakat Indonesia.
Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Estiyanti Nurjadin mengatakan pameran tersebut menegaskan peran museum bukan hanya sebagai tempat pelestarian dan penyajian koleksi, melainkan juga ruang bagi masyarakat untuk bertukar perspektif dan memahami kebudayaan lain.
Menurut Indira, tradisi pembuatan topeng Indonesia dan Korea memperlihatkan perbedaan bentuk, teknik, dan latar budaya. Namun, keduanya tetap menyimpan kisah, karakter, serta nilai kemanusiaan yang dapat dikenali bersama.
Diplomasi Kebudayaan Indonesia-Korea
Fadli berharap pameran ini memperluas pengenalan warisan budaya Indonesia di Korea Selatan dan negara-negara lain. Ia juga mendorong agar kerja sama tersebut berlanjut melalui berbagai kolaborasi di bidang kebudayaan.
Pameran ini, kata dia, dapat menjadi awal bagi kemitraan baru yang melibatkan komunitas budaya kedua negara. Kerja sama kebudayaan juga berpotensi berkembang ke bidang pendidikan, penelitian, industri budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
Pembukaan pameran dihadiri Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Yoon Soon-gu, Direktur Hahoe World Mask Museum Kim Dong-Pyo, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Kamapradipta Isnomo, serta seniman patung Nyoman Nuarta. Sejumlah perwakilan diplomatik dan pejabat Kementerian Kebudayaan turut hadir.
Melalui Dua Wajah, Satu Jiwa, penyelenggara berharap masyarakat dapat melihat warisan topeng bukan sekadar sebagai benda seni, melainkan juga sebagai medium untuk memahami pengalaman manusia dan memperkuat hubungan lintas budaya.





