Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong penguatan ekosistem batik melalui pendidikan, pengembangan industri, dan pelestarian pengetahuan tradisional. Salah satu upaya yang dinilai penting adalah memasukkan literasi membatik ke dalam kurikulum pendidikan agar keterampilan dan pengetahuan tentang batik dapat diwariskan kepada generasi muda.
Fadli menyampaikan hal tersebut saat menghadiri pembukaan Jambore Batik Jawa Barat 2026 di Hotel Golden Flower, Bandung, Jawa Barat, pada 24 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu mempertemukan perajin, akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah untuk memperkuat ekosistem batik di Tatar Sunda.
Jambore yang diselenggarakan Yayasan Batik Jawa Barat tersebut menghadirkan pameran batik dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat. Agenda lainnya mencakup penyusunan kurikulum batik serta peluncuran buku The Emerging Expression of Batik in West Java.
Fadli mengatakan batik merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang telah diakui dunia. Pengembangan batik di berbagai daerah, menurut dia, dapat memperkaya keragaman batik nasional sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat.
“Kita mempunyai beragam batik yang luar biasa, dan pengembangannya yang lebih spesifik khususnya di Jawa Barat ini akan menambah kekayaan serta diversitas batik yang ada di Indonesia,” kata Fadli.
Ia juga menilai Jambore Batik Jawa Barat dapat menjadi ruang untuk mendata motif, teknik pembuatan, serta komunitas perajin yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem batik daerah.
Batik Jawa Barat memiliki karakter yang beragam. Motif Mega Mendung dari Cirebon, misalnya, dikenal dengan bentuk awan yang khas. Adapun batik Tasikmalaya dan Garut memiliki kekayaan warna serta corak yang mencerminkan karakter budaya setempat.
Di balik motif dan teknik pembuatannya, batik menyimpan pengetahuan tradisional, nilai filosofis, dan keterampilan yang diwariskan antargenerasi. Karena itu, Fadli menilai pelestarian batik tidak cukup dilakukan melalui pengakuan sebagai warisan budaya.
Menurut dia, upaya pelestarian perlu berjalan beriringan dengan pengembangan dan pemanfaatan agar batik tetap hidup di tengah perubahan zaman.
“Tradisi tidak membeku di masa lalu, melainkan bertransformasi menjadi the power of culture atau kekuatan utama di masa depan,” ujar Fadli.
Salah satu langkah yang ditempuh dalam Jambore Batik Jawa Barat adalah peluncuran Buku Kurikulum dan Buku Ajar Batik Jawa Barat 2026. Kedua buku tersebut diharapkan menjadi sarana untuk memperkenalkan pengetahuan dan keterampilan membatik kepada siswa melalui muatan lokal di sekolah.
Fadli mengapresiasi inisiatif tersebut. Ia menyebut pendidikan sebagai salah satu jalur penting untuk memastikan pengetahuan tentang batik tidak terputus.
“Dengan adanya peluncuran buku ajar tentang batik bagi para siswa-siswi sekolah yang dimasukkan ke dalam muatan lokal di dalam kurikulum, ini merupakan satu terobosan yang brilian dan sangat bagus, sehingga literasi serta institusionalisasi pengetahuan maupun keterampilan tentang batik bisa diwariskan kepada generasi penerus,” kata dia.
Kementerian Kebudayaan, kata Fadli, siap mendukung pengembangan pendidikan batik melalui berbagai program dan skema kerja sama.
Usulan Museum Batik Jawa Barat
Selain penguatan pendidikan, Jambore Batik Jawa Barat juga memunculkan usulan pendirian Museum Batik Jawa Barat. Ketua Yayasan Batik Jawa Barat, Sendy Dede Yusuf, berharap rencana tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Fadli menyambut baik usulan itu. Menurut dia, museum dapat menjadi ruang untuk mendokumentasikan, memperkenalkan, dan mengembangkan batik sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Tentu kita sangat mendukung rencana pembangunan museum tersebut. Di Kementerian Kebudayaan sendiri, kita sudah mengelola Museum Batik dan Museum Keris di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Namun, jika ada inisiatif untuk mendirikan Museum Batik Jawa Barat, tentu sangat kita dukung karena ini penting bagi perkembangan batik sekaligus pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.
Pendirian museum diharapkan dapat memperkuat dokumentasi batik Jawa Barat, termasuk ragam motif, teknik produksi, serta sejarah komunitas pembatik yang tersebar di berbagai wilayah.
Fadli juga menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perajin, seniman, pelaku usaha, dan komunitas lokal. Sinergi lintas sektor diperlukan agar kebudayaan tidak hanya menjadi objek pelestarian, tetapi juga mampu menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Pemerintah, menurut dia, terus mendorong pelestarian batik melalui pendekatan inovatif dan partisipatif. Upaya tersebut mencakup perlindungan kekayaan intelektual komunal, pengembangan kegiatan seni dan budaya, serta perluasan pengakuan internasional melalui diplomasi kebudayaan.
Jambore Batik Jawa Barat 2026 menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan berbagai kepentingan tersebut. Tantangan berikutnya adalah memastikan penguatan pendidikan, pelestarian tradisi, dan pengembangan usaha berjalan beriringan, sehingga batik tetap menjadi identitas budaya sekaligus sumber penghidupan bagi masyarakat.





