Aditya Warman dari Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK) mendorong Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) mengubah cara pandang terhadap organisasi dan perannya dalam industri kriya nasional. Menurutnya, ASEPHI tidak cukup hanya berfungsi sebagai lembaga asosiasi, tetapi perlu berkembang menjadi ekosistem yang mampu menciptakan nilai, meningkatkan daya saing anggota, dan menjaga keberlanjutan industri.
Gagasan itu disampaikan Aditya saat membahas perkembangan ASEPHI dan Indonesia International Handicraft Trade Fair (INACRAFT). Dengan pengalaman lebih dari dua dekade di Astra, serta keterlibatan di Apindo dan Kadin, ia melihat tantangan industri kriya tidak lagi sebatas bagaimana meningkatkan jumlah transaksi atau memperbesar kegiatan pameran. Tantangan utamanya adalah bagaimana organisasi membaca perubahan pasar dan mengubahnya menjadi strategi bisnis bagi anggotanya.
Aditya memiliki kedekatan dengan ASEPHI melalui latar belakang keluarganya di Pekalongan. Ia menyebut nama ASEPHI dan INACRAFT sudah lama dikenalnya. Karena itu, ia melihat keberadaan organisasi tersebut bukan hanya dari sisi kelembagaan, melainkan sebagai sebuah jaringan ekonomi dan sosial yang telah melahirkan banyak pelaku usaha.
Menurut Aditya, persoalan mendasar yang perlu dibenahi adalah cara mengukur keberhasilan organisasi. Ia membedakan output dengan outcome. Output merupakan hasil langsung kegiatan, seperti keuntungan atau manfaat ekonomi yang diterima anggota. Sedangkan outcome menyangkut dampak yang lebih luas berupa penciptaan nilai, peningkatan daya saing, dan keberlanjutan.
INACRAFT sudah menunjukkan fungsi tersebut. Penyelenggaraan pameran yang telah berlangsung hingga 26 kali menunjukkan bahwa kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai transaksi perdagangan, tetapi telah menjadi bagian dari ekosistem industri kriya.
Persoalannya adalah bagaimana manfaat tersebut diperluas kepada anggota ASEPHI. Pameran perlu diposisikan sebagai bagian dari rantai penciptaan nilai, bukan sekadar tempat mempertemukan penjual dan pembeli.
Karena itu, ASEPHI perlu membangun sistem yang dapat menghubungkan anggota dengan data pasar, tren konsumen, teknologi, inovasi, pembiayaan, serta jaringan perdagangan. Dengan pendekatan tersebut, organisasi tidak hanya mengurus penyelenggaraan kegiatan, tetapi juga membantu anggotanya meningkatkan kapasitas dan daya saing.
Dari Growth ke Sustainability
Aditya juga menyoroti pentingnya membedakan pertumbuhan dengan keberlanjutan. Pertumbuhan atau growth lebih banyak berkaitan dengan produktivitas, sementara keberlanjutan (sustainability) berkaitan erat dengan daya saing (competitiveness).
Bagi industri kriya, perbedaan ini penting. Peningkatan jumlah peserta, booth, pengunjung, atau transaksi memang menunjukkan pertumbuhan. Namun, angka tersebut belum cukup untuk memastikan apakah pelaku usaha semakin kuat menghadapi persaingan.
Ukuran keberhasilan harus diperluas. Apakah anggota mampu meningkatkan produktivitas? Apakah produk menjadi lebih inovatif? Apakah pasar semakin luas? Apakah produsen mampu mempertahankan kualitas dan margin? Apakah mereka mampu menghadapi perubahan teknologi dan perilaku konsumen?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting karena persaingan industri semakin cepat. Aditya menilai organisasi yang hanya mengejar pertumbuhan tanpa membangun daya saing akan rentan ketika terjadi perubahan pasar.
Ia kemudian mengaitkan persoalan itu dengan transformasi digital. Menurut Aditya, digitalisasi seharusnya tidak berhenti pada penggunaan teknologi untuk promosi atau transaksi. Digital harus menghasilkan shifting, yakni perubahan cara organisasi bekerja, mengambil keputusan, dan membaca kebutuhan pasar.
Salah satu aspek yang dinilai penting adalah kemampuan membaca customer need. Menurut Aditya, ASEPHI memiliki aset yang sangat besar untuk melakukan hal tersebut melalui INACRAFT.
Pameran dengan jumlah pengunjung yang besar menghasilkan data yang dapat digunakan untuk membaca perilaku konsumen. Data tersebut dapat diolah untuk mengetahui produk seperti apa yang diminati, atribut apa yang menjadi pertimbangan konsumen, serta bagaimana perubahan preferensi terjadi dari waktu ke waktu.
Aditya menyebut pendekatan kuantitatif seperti Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) sebagai contoh metode yang dapat digunakan untuk mengukur preferensi konsumen.
Dengan metode tersebut, pilihan konsumen tidak hanya dibaca berdasarkan kesan atau intuisi. Berbagai atribut produk dapat diberi bobot dan skor, kemudian dibandingkan untuk mengetahui kecenderungan pasar.
Pendekatan ini memungkinkan ASEPHI membangun sistem pengambilan keputusan berbasis data. Misalnya, preferensi terhadap produk berbahan natural dapat dibandingkan dengan produk yang mengedepankan inovasi material. Demikian pula aspek desain, fungsi, harga, keberlanjutan, kemasan, hingga identitas budaya dapat diuji berdasarkan tingkat kepentingannya bagi konsumen.
Data INACRAFT dengan demikian dapat berkembang menjadi market intelligence bagi industri kriya nasional.
Aditya mengingatkan bahwa digitalisasi tidak otomatis meningkatkan daya saing. Teknologi harus digunakan untuk menyelesaikan persoalan bisnis yang nyata.
Jika digitalisasi hanya menghasilkan platform atau sistem tanpa memahami kebutuhan konsumen, teknologi justru berisiko menjadi biaya tambahan. Sebaliknya, jika data digunakan untuk memahami pasar, teknologi dapat membantu produsen menentukan produk, harga, desain, produksi, dan strategi pemasaran.
Dalam konteks tersebut, transformasi digital harus berujung pada peningkatan productivity sekaligus competitiveness. Tanpa kedua hal tersebut, organisasi akan kesulitan menghasilkan outcome dan value creation yang lebih besar.
Aditya memberikan contoh perkembangan manufaktur di Cina untuk menggambarkan bagaimana teknologi telah mengubah struktur biaya dan proses produksi. Ia menyinggung konsep dark factory, yaitu fasilitas produksi dengan tingkat otomasi tinggi dan ketergantungan besar pada robot.
Perubahan semacam itu menunjukkan bahwa persaingan global tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas produk. Efisiensi produksi, cycle time, otomasi, integrasi data, dan kemampuan merespons permintaan konsumen juga menjadi faktor penentu.
Bagi industri kriya, teknologi tidak harus menggantikan keterampilan tangan. Teknologi dapat digunakan untuk memperkuat proses desain, produksi, pengendalian kualitas, pemasaran, dan distribusi, sementara karakter handmade dan nilai budaya tetap menjadi pembeda produk.
INACRAFT sebagai Laboratorium Pasar
Aditya juga melihat perlunya perubahan dalam cara INACRAFT memandang inovasi. Produk dan booth yang dianggap inovatif seharusnya memiliki indikator yang jelas, bukan hanya berdasarkan penilaian subjektif.
Ia mempertanyakan bagaimana sebuah booth dapat dikategorikan sebagai booth dengan tingkat inovasi tertentu.
Pertanyaan itu membuka kebutuhan untuk membangun sistem kurasi dan penilaian yang lebih terukur. Inovasi dapat dinilai dari berbagai aspek, mulai dari desain, material, teknologi produksi, fungsi, keberlanjutan, penggunaan sumber daya lokal, hingga respons pasar.
Jika sistem tersebut dibangun, INACRAFT dapat berfungsi sebagai laboratorium pasar. Produk tidak hanya dipamerkan dan dijual, tetapi juga diuji respons konsumen. Data dari interaksi tersebut dapat dikembalikan kepada produsen sebagai masukan untuk pengembangan produk berikutnya.
Model ini akan membuat siklus inovasi menjadi lebih pendek. Produsen mengembangkan produk, konsumen memberikan respons, data dianalisis, kemudian produk diperbaiki dan kembali diuji di pasar.
Dengan begitu, INACRAFT memiliki fungsi yang lebih strategis: sebagai etalase produk, pusat perdagangan, sumber data konsumen, ruang inovasi, dan sarana peningkatan daya saing.
Persoalan lain yang disoroti adalah perlindungan terhadap kekayaan intelektual. Ia menceritakan pengalaman seorang kolega dari Malaysia yang datang ke INACRAFT dan membeli produk untuk dijadikan referensi. Ia juga menyebut adanya perhatian terhadap produk-produk berbasis kain tradisional Indonesia, termasuk songket dari Riau.
Cerita tersebut menunjukkan pentingnya dokumentasi dan registrasi produk. Ketika industri kriya masuk ke pasar global, identitas produk, desain, merek, serta inovasi tidak cukup hanya dikenal secara informal. Aset tersebut perlu didokumentasikan dan, jika memungkinkan, dilindungi melalui mekanisme kekayaan intelektual yang sesuai.
Karena itu, basis data anggota ASEPHI idealnya tidak hanya berisi nama perusahaan dan kontak. Data dapat diperluas menjadi profil produk, kapasitas produksi, pasar tujuan, inovasi, merek, desain, sertifikasi, serta aset kekayaan intelektual.
Dari kerangka yang disampaikan Aditya, transformasi ASEPHI membutuhkan pergeseran dari organisasi berbasis kegiatan menuju organisasi berbasis data dan ekosistem.
Langkah pertama adalah membangun data anggota yang terintegrasi. Selanjutnya, data produk dan kapasitas pelaku usaha dapat dipetakan. Data pengunjung dan pembeli INACRAFT kemudian dapat digunakan untuk membaca perubahan permintaan. Informasi tersebut menjadi dasar pengembangan produk, kurasi inovasi, dan strategi pasar.
Pada tahap berikutnya, ekosistem dapat menghubungkan anggota dengan teknologi, lembaga pembiayaan, lembaga riset, pemerintah, pasar ekspor, dan jaringan pembeli internasional.
Dalam model seperti itu, ASEPHI berfungsi sebagai orkestrator. Organisasi tidak harus mengerjakan seluruh fungsi sendiri, tetapi menghubungkan berbagai aktor agar menciptakan nilai bersama.
Konsep tersebut sekaligus mengubah posisi INACRAFT. Pameran tidak lagi semata-mata menjadi agenda tahunan, melainkan menjadi salah satu simpul dalam ekosistem industri kriya.
Tantangan berikutnya adalah memastikan transformasi itu menghasilkan manfaat konkret bagi anggota. Ukurannya bukan hanya jumlah pengunjung atau nilai transaksi, melainkan peningkatan produktivitas, inovasi, akses pasar, efisiensi, perlindungan kekayaan intelektual, dan kemampuan bersaing.
Dengan pendekatan tersebut, ASEPHI dapat bergerak dari sekadar association menjadi ecosystem. Sementara INACRAFT dapat berkembang dari pameran perdagangan menjadi platform penciptaan nilai bagi industri kriya Indonesia.
Perubahan itu pada akhirnya merupakan konsekuensi dari perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen. Industri yang tidak melakukan pergeseran cara berpikir akan tertinggal, sementara organisasi yang mampu menggabungkan data, inovasi, teknologi, dan kekuatan budaya memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan daya saingnya di pasar global.





