Industri furnitur Indonesia mencatat pertumbuhan dua digit pada kuartal II 2026. Badan Pusat Statistik mencatat sektor furnitur tumbuh 11,82 persen secara tahunan pada periode tersebut, meningkat dari 4,32 persen pada kuartal I 2026.
Pertumbuhan itu berlangsung di tengah dinamika perdagangan global yang mendorong industri furnitur untuk memperluas pasar. Pelaku usaha mulai membidik kawasan non-tradisional seperti Timur Tengah, Amerika Selatan, India, dan Afrika untuk mengurangi ketergantungan pada pasar yang selama ini menjadi tujuan utama ekspor.
Upaya memperluas pasar tersebut antara lain dilakukan melalui Indonesia International Furniture Expo atau IFEX 2027. Pameran furnitur dan kerajinan berbasis bisnis ke bisnis itu akan berlangsung pada 24–27 Februari 2027 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City.
Memasuki penyelenggaraan ke-12, IFEX mengusung tema “Design Sourcing”. Konsep tersebut menggabungkan pencarian inspirasi desain dengan akses terhadap produsen, pemasok, kapasitas manufaktur, hingga kesiapan ekspor.
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan Indonesia tidak lagi hanya dapat ditempatkan sebagai penyedia kapasitas manufaktur. Menurut dia, kekuatan desain, bahan baku alami, serta praktik produksi yang memperhatikan keberlanjutan menjadi bagian dari nilai produk furnitur Indonesia.
“Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pasar pendukung atau penyedia kapasitas manufaktur semata,” ujar Abdul.
Ia mengatakan penerapan standar seperti Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK), ditambah kekuatan desain dan kapasitas produksi, menjadi bagian dari daya tawar produk furnitur Indonesia di pasar global.
IFEX 2027 akan menghadirkan lebih dari 400 peserta pameran di 11 hall. Pameran tersebut menampilkan lebih dari 5.000 produk dengan luas area mencapai 85 ribu meter persegi.
Skala tersebut dirancang untuk mempertemukan buyer dengan beragam kategori furnitur dan kerajinan dalam satu lokasi. Konsepnya menempatkan IFEX sebagai one-stop sourcing destination bagi pembeli yang tidak hanya mencari produk, tetapi juga ingin mengetahui sumber bahan, kapasitas produksi, hingga kemampuan pemasok memenuhi kebutuhan ekspor.
Pada sisi desain, buyer dapat mengeksplorasi tren, material, karakter craftsmanship, kualitas bahan baku, dan konsep produk. Sedangkan sisi sourcing memberikan akses terhadap produsen dan pemasok, kapasitas produksi, harga, kualitas material, kesiapan ekspor, serta solusi logistik.
Presiden Direktur Dyandra Promosindo, penyelenggara IFEX 2027, Daswar Marpaung mengatakan perubahan kebutuhan buyer membuat desain dan kemampuan manufaktur semakin sulit dipisahkan.
“Buyer tidak lagi hanya mencari produk yang bagus, tetapi juga mencari produk yang relevan dengan tren, memiliki karakter desain yang kuat, dan material yang berkualitas,” kata Daswar.
Menurut dia, konsep Design Sourcing memungkinkan buyer menemukan inspirasi sekaligus terhubung dengan sumber produk dan manufakturnya. Kehadiran ribuan produk diharapkan memperluas pilihan dan membuka peluang transaksi bagi pelaku industri nasional.
IFEX 2027 juga diarahkan menjadi titik temu antara desainer, produsen, pemasok, eksportir, buyer, arsitek, interior designer, retailer, industri hospitality, dan pelaku ekonomi kreatif.
Kehadiran buyer internasional menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Para pelaku industri dapat memanfaatkan pameran untuk memperkenalkan desain, menguji respons pasar, mencari mitra produksi, sekaligus membuka jaringan distribusi baru.
Bagi industri furnitur Indonesia, perluasan pasar menjadi semakin penting ketika kondisi perdagangan global berubah cepat. Timur Tengah, Amerika Selatan, India, dan Afrika menjadi sejumlah kawasan yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan.
Dengan menggabungkan desain, kemampuan produksi, material, dan jaringan pemasaran, IFEX berupaya menempatkan furnitur dan kerajinan Indonesia bukan hanya sebagai komoditas manufaktur, tetapi sebagai produk yang memiliki karakter desain dan nilai tambah di pasar global.




