Kementerian Perdagangan kembali mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon pembeli internasional melalui kegiatan business networking bulanan yang digelar di Ruang Permanent Trade Exhibition Kemendag, Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026. Forum tersebut menghadirkan tiga eksportir anggota InaExport serta perwakilan kedutaan besar dan lembaga promosi perdagangan dari tujuh negara, yakni Vietnam, Afrika Selatan, Timor Leste, Peru, Uni Emirat Arab, Jepang, dan Kanada.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Fajarini Puntodewi mengatakan kegiatan business networking menjadi salah satu upaya pemerintah memperkuat ekosistem ekspor nasional melalui konektivitas langsung antara pelaku usaha dalam negeri dan mitra dagang internasional.
“Business networking kali ini menghadirkan tiga UMKM dalam negeri serta perwakilan diplomatik dan lembaga promosi perdagangan internasional sebagai cara menjaring buyer asing. Upaya ini membuka peluang memperkenalkan produk berkualitas Indonesia sekaligus menjajaki daya saing dan potensi pasar di luar negeri,” kata Puntodewi.
Dalam forum tersebut, eksportir kopi specialty Java Halu Coffee memperkenalkan produk kopi hasil pengolahan pascapanen berbasis standar specialty coffee. Sementara Onuka Chocolate mempromosikan produk cokelat berbahan kakao murni tanpa tambahan bahan buatan. Adapun PT Visio Eco Planter menampilkan produk wadah hortikultura berstandar ekspor yang dirancang tahan terhadap berbagai kondisi cuaca ekstrem.
Menurut Puntodewi, setiap eksportir memperoleh kesempatan untuk mempresentasikan keunggulan produknya sekaligus membuka peluang kerja sama dagang dengan negara mitra.
“Setiap eksportir mendapat kesempatan untuk memaparkan keunggulan produk sekaligus mengeksplorasi kemungkinan kerja sama dagang dan potensi pasar di negara-negara mitra,” ujarnya.
Perwakilan Java Halu Coffee, Rani Mayasari, menilai fasilitasi business networking dari Kemendag sangat membantu pelaku usaha dalam memperluas akses pasar internasional tanpa harus menanggung biaya riset dan penetrasi pasar secara mandiri.
“Fasilitasi ini sangat efektif dan efisien. Jika pelaku usaha harus penetrasi dan riset pasar secara mandiri ke berbagai negara, tentu akan membutuhkan biaya yang besar. Kegiatan seperti ini menjadi peluang yang sangat dibutuhkan UMKM untuk mendapatkan calon pembeli baru,” kata Rani.
Pandangan serupa disampaikan perwakilan Onuka Chocolate, Wiwi Paimun. Menurut dia, kegiatan business networking membuka akses yang lebih luas bagi UMKM Indonesia untuk masuk ke pasar global.
“Business networking ini sangat membantu kami, UMKM di Indonesia, yang ingin mengulik akses ke luar negeri. Saya berharap kegiatan ini bisa lebih sering diadakan, tidak hanya bulanan tetapi juga mingguan,” ujar Wiwi.
Selain mempertemukan pelaku usaha dengan buyer asing, Kemendag juga mendorong UMKM memanfaatkan platform digital InaExport
sebagai sarana promosi ekspor. Platform tersebut menjadi instrumen utama pemerintah dalam menghubungkan eksportir Indonesia dengan pembeli internasional dan perwakilan perdagangan RI di luar negeri.
“Platform InaExport merupakan salah satu instrumen utama kami dalam menghubungkan eksportir Indonesia dengan pasar internasional. Eksportir dapat meningkatkan visibilitas produk sekaligus terhubung dengan calon pembeli dari berbagai belahan dunia,” kata Puntodewi.
Kementerian Perdagangan menilai penguatan jejaring bisnis dan digitalisasi promosi ekspor menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing UMKM Indonesia di tengah persaingan perdagangan global yang semakin ketat.





