Kementerian Perindustrian terus memperkuat pengembangan industri tenun nasional melalui berbagai program peningkatan nilai tambah dan diversifikasi produk. Langkah tersebut ditempuh untuk memperluas pasar tenun Indonesia, sekaligus meningkatkan daya saing pelaku industri kecil dan menengah (IKM) yang selama ini menjadi tulang punggung produksi wastra tradisional di berbagai daerah.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan kain tenun merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang memiliki potensi ekonomi besar. Selain menyimpan nilai sejarah dan identitas budaya, tenun Indonesia juga memiliki karakter unik yang menjadi keunggulan di pasar internasional.
“Selama ini masyarakat lebih mengenal wastra Indonesia melalui batik. Padahal, Indonesia memiliki ragam kain tenun yang tidak kalah eksotis dengan kekhasan motif, warna, teknik pembuatan, dan bahan baku yang berbeda di setiap daerah,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026.
Menurut Agus, pengembangan industri tenun tidak hanya berkaitan dengan pelestarian budaya, tetapi juga sejalan dengan tren fesyen berkelanjutan (sustainable fashion) yang semakin berkembang di pasar global. Karena itu, diperlukan berbagai terobosan agar produk tenun dapat digunakan lebih luas dan menjangkau segmen konsumen yang lebih beragam.
Data Kementerian Perindustrian menunjukkan potensi industri tenun nasional didukung oleh keberadaan 482 sentra IKM tenun yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Sentra-sentra tersebut menjadi penggerak ekonomi lokal sekaligus penjaga keberlangsungan tradisi menenun yang diwariskan secara turun-temurun.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, mengatakan ekspor produk tenun ikat Indonesia pada 2025 mencapai 14,1 ton dengan nilai sebesar US$ 88.600.
“Angka ini menunjukkan bahwa tenun tradisional Indonesia memiliki peluang di pasar internasional yang perlu terus dikembangkan agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” ujar Reni.
Meski demikian, pelaku IKM tenun masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam hal inovasi desain dan pengembangan produk. Selama ini kain tenun lebih banyak digunakan untuk kebutuhan formal, upacara adat, maupun busana tradisional.

Padahal, menurut Reni, karakter motif dan tekstur tenun sangat potensial untuk diterapkan pada berbagai produk fesyen dan gaya hidup yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari.
“Pasar berubah sangat cepat. Pelaku usaha perlu terus berinovasi agar tenun tidak hanya identik dengan acara formal, tetapi juga hadir dalam berbagai produk yang lebih fungsional dan diminati generasi muda,” katanya.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, Direktorat Jenderal IKMA bekerja sama dengan Dekranasda Kota Kediri dan Universitas Ciputra Surabaya menggelar Bimbingan Teknis Diversifikasi Produk Tenun pada 18–22 Mei 2026 di Kota Kediri, Jawa Timur.
Program tersebut mempertemukan 10 pelaku IKM tenun dengan 10 pelaku IKM fesyen untuk mengembangkan berbagai produk baru berbasis tenun. Hasil kolaborasi mencakup pakaian jadi, tas, aksesori, hingga alas kaki yang dirancang sesuai tren pasar saat ini.
Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Kemenperin, Budi Setiawan, mengatakan diversifikasi produk menjadi langkah penting agar tenun tetap relevan di tengah perubahan gaya hidup masyarakat.
“Diversifikasi bukan berarti meninggalkan budaya. Justru melalui kreativitas dan inovasi, nilai budaya yang terkandung dalam tenun dapat terus hidup dan diterima oleh pasar yang lebih luas,” ujar Budi.
Pendampingan dalam program tersebut dilakukan oleh tim instruktur dari Program Studi Desain Fesyen Universitas Ciputra Surabaya. Kementerian berharap kolaborasi antara pelaku IKM tenun dan fesyen dapat menghasilkan produk bernilai tambah tinggi yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Menurut Budi, sinergi antara sektor kerajinan dan fesyen menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem industri kreatif berbasis wastra Nusantara. Selain memperkuat rantai pasok industri, kolaborasi tersebut juga membuka peluang bagi terciptanya produk-produk baru yang lebih inovatif dan sesuai kebutuhan pasar global.
Ketua Dekranasda Kota Kediri, Faiqoh Azizah Mohamad Qowimuddin, mengapresiasi dukungan Kementerian Perindustrian terhadap pengembangan industri tenun ikat di daerahnya. Ia menilai kolaborasi antara pelaku tenun dan fesyen dapat menciptakan ekosistem usaha yang saling menguatkan.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Kediri, M. Ridwan, menilai program pendampingan tersebut mampu membuka peluang usaha baru sekaligus memperluas penyerapan tenaga kerja di sektor industri kreatif daerah.
Melalui berbagai program pembinaan, pelatihan, dan penguatan kapasitas pelaku usaha, Kementerian Perindustrian berharap industri tenun Indonesia tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang mampu bersaing di pasar global. Dengan inovasi produk dan adaptasi terhadap tren fesyen modern, tenun Nusantara diharapkan semakin diterima oleh generasi muda dan pasar internasional tanpa kehilangan identitas budayanya.





