Awal September 2026, Baby Jurmawati berkesempatan mengunjungi dunia kerajinan di Melbourne, Australia. Wakil Ketua Umum II Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia atau ASEPHI Bidang Kerja Sama Regional dan Internasional itu tidak sekadar mengunjungi ruang pamer. Ia melihat bagaimana kerajinan ditempatkan di tengah perubahan selera konsumen, mahalnya biaya produksi, menyempitnya pasar, hingga ancaman produk massal.
Kunjungan tersebut didampingi Lindy Joubert, perwakilan World Crafts Council Australia, Advisor Asia Pacific Crafts Alliance, UNESCO Observatory, sekaligus dosen di University of Melbourne. Bersama Lindy, Baby berdiskusi mengenai perkembangan kerajinan Australia, peluang dan tantangannya, serta masa depan pendidikan kriya dan heritage yang dinilai semakin menghadapi tekanan.
Salah satu yang dikunjungi adalah Koorie Heritage Trust di Melbourne. Lembaga ini menyimpan dan mempresentasikan warisan budaya masyarakat Koorie, salah satu kelompok masyarakat Aborigin di Victoria. Kompleks tersebut memperlihatkan bagaimana warisan budaya masyarakat adat dapat ditempatkan dalam ruang yang modern, sekaligus menjadi pengingat bahwa benda budaya tidak berhenti sebagai artefak masa lalu.

Baby juga menyambangi Craft Victoria, organisasi yang bergerak dalam pengembangan dan promosi kriya kontemporer Australia. Di ruang pamer itu, sejumlah karya artisan ditampilkan sebagai karya seni kontemporer. Namun kunjungan tersebut justru membuka persoalan yang lebih besar: industri kriya Australia tengah menghadapi kesulitan mempertahankan ekosistemnya.
Lindy menyebut sejumlah galeri kriya di Melbourne yang dulu menjadi ruang bagi para perajin kini telah tutup. Pendidikan kriya pun menghadapi persoalan serupa. Sejumlah sekolah dan program studi kriya di sekolah seni telah ditutup sehingga jumlah calon perajin yang mendapatkan pendidikan khusus semakin terbatas.
Menurut Lindy, masalahnya bukan pada hilangnya apresiasi terhadap benda kerajinan. Banyak orang tetap menyukai dan menghargai karya buatan tangan. Persoalannya, harga karya yang tinggi membuat kerajinan sulit menjadi bagian dari konsumsi sehari hari masyarakat Australia.
Biaya hidup dan biaya produksi yang tinggi membuat perajin harus memasang harga mahal untuk menutup waktu, keterampilan, material, serta biaya studio. Akibatnya, kerajinan berkembang menjadi pasar yang sangat khusus. Para perajin bahkan kerap memiliki pekerjaan lain sebagai dosen, pengajar di sekolah atau perguruan tinggi, maupun membuka kelas privat untuk menopang kehidupan mereka.
Ketika Kriya Berhadapan dengan Produk Massal
Persoalan lain muncul ketika produk buatan tangan harus berhadapan dengan barang produksi massal dari Cina. Menurut Lindy, desain karya para artisan dapat disalin dan diterapkan secara luas pada tas, piring, botol, perhiasan, hingga berbagai produk konsumsi tanpa memberikan pengakuan kepada penciptanya.
Persoalan itu, kata dia, bukan hanya menyangkut industri kreatif, tetapi juga masyarakat adat. Desain yang lahir dari pengetahuan dan identitas komunitas dapat berpindah ke pasar massal tanpa konteks budaya dan tanpa penghargaan yang layak kepada pembuat atau komunitas pemiliknya.
Di tengah situasi tersebut, Lindy melihat apa yang dilakukan ASEPHI melalui INACRAFT sebagai sesuatu yang penting. Pameran itu, menurut dia, tidak hanya mempertemukan produk dengan pembeli, tetapi juga memberikan ruang bagi perajin dari berbagai skala untuk menunjukkan karya mereka kepada publik.
Model seperti itu menjadi penting karena kriya bukan semata benda untuk dipajang. Sebuah produk kerajinan dapat digunakan, disentuh, dirasakan, dan diwariskan. Di situlah perbedaan mendasar antara benda kriya dan produk sekali pakai yang cepat berganti.
Lindy menilai kekuatan INACRAFT terletak pada kemampuannya mempertemukan perajin dari desa hingga artisan yang telah menembus pasar internasional. Mereka memperoleh kesempatan yang relatif setara untuk memperlihatkan karya sekaligus menguji produknya di pasar komersial.
Bagi Baby, pandangan Lindy menjadi cermin yang menarik bagi Indonesia. Negeri dengan tradisi kriya yang hidup dalam keseharian memiliki modal budaya yang berbeda dengan Australia. Kerajinan di banyak daerah Indonesia masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan diwariskan lintas generasi.

Namun kondisi tersebut bukan alasan untuk berpuas diri. Perubahan teknologi, kecerdasan buatan, produk massal dan perubahan perilaku konsumen tetap menjadi tantangan yang harus dihadapi. Lindy mengingatkan bahwa masa depan kriya tidak dapat dibangun dengan menolak teknologi. Teknologi dan keterampilan tangan justru perlu berjalan bersama.
Menurut Lindy, artisan perlu berpikiran terbuka terhadap perubahan. Teknologi dapat menawarkan berbagai kemungkinan baru, sementara kerajinan tangan membawa keterampilan, pengetahuan, pengalaman dan identitas yang tidak mudah digantikan mesin. Keduanya perlu saling mengambil manfaat.
Ada satu hal yang menurut Lindy tidak boleh hilang: manusia di balik karya. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan dunia yang semakin terkomputerisasi, kerajinan tangan perlu dipertahankan karena nilai utamanya bukan hanya pada bentuk akhir, tetapi juga pada proses, keterampilan dan pengetahuan yang melekat di dalamnya.
Kerajinan juga memiliki fungsi yang lebih dekat dengan kehidupan dibandingkan karya seni yang semata bersifat konseptual. Benda kriya dapat digunakan dalam keseharian sekaligus menyimpan cerita dan keterampilan pembuatnya. Sebuah benda bahkan dapat berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai bagian dari ingatan keluarga.
Bagi Baby, kunjungan singkat ke Melbourne itu akhirnya bukan sekadar perjalanan melihat museum dan ruang pamer. Ia menjadi kesempatan untuk melihat kembali posisi kriya Indonesia dari perspektif lain. Ketika ekosistem kriya di Australia menghadapi persoalan pasar, regenerasi dan pengakuan terhadap artisan, Indonesia justru memiliki peluang untuk memperkuat tradisi tersebut melalui pasar, pendidikan, teknologi dan kebijakan yang berpihak pada perajin.
Kuncinya adalah memastikan kriya tidak berhenti sebagai benda budaya yang disimpan di museum. Ia harus tetap hidup, digunakan, berkembang dan memiliki nilai ekonomi bagi orang yang membuatnya.
Di situlah pameran seperti INACRAFT memiliki peran lebih luas. Bukan sekadar ruang transaksi, melainkan ruang untuk membangun kebanggaan terhadap profesi artisan, mempertemukan generasi, menjaga pengetahuan tradisional sekaligus membuka jalan bagi inovasi.
Dari Melbourne, pesan itu terasa semakin jelas: masa depan kriya bukan memilih antara tradisi dan teknologi. Tantangannya adalah bagaimana keduanya bertemu tanpa kehilangan manusia, identitas dan nilai budaya yang membuat sebuah karya layak diwariskan.




