Primbon Jawa selama ini kerap dipahami sebagai rujukan untuk membaca nasib atau meramalkan masa depan. Namun, bagi perupa Sri Hardana, primbon menyimpan makna yang lebih luas sebagai pengetahuan lokal yang dapat menjadi ruang refleksi atas perilaku manusia dan cara memaknai kehidupan.
Gagasan itu dihadirkan melalui pameran instalasi bertajuk PORONEPTU, yang akan berlangsung di Balai Budaya Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, pada 7–11 Agustus 2026. Dikuratori oleh Citra Smara Dewi, pameran ini mengajak pengunjung berinteraksi langsung dengan karya seni yang menafsirkan kembali primbon dalam konteks kehidupan masa kini.
Sri Hardana mengatakan, primbon tidak seharusnya diposisikan semata sebagai kitab ramalan atau sesuatu yang berbau mistis. Menurut dia, primbon juga menyimpan nilai-nilai budaya yang dapat dibaca sebagai pedoman untuk memahami kemungkinan, harapan, maupun kegagalan yang dihadapi manusia.
Melalui pendekatan seni instalasi pop surealisme, ia mengolah material primbon Jawa menjadi karya partisipatoris yang memadukan teknik digital print dengan konfigurasi puzzle dan ornamen-ornamen surealistik. Simbol angka neptu serta fragmen visual candi menjadi elemen utama yang membangun narasi visual dalam pameran tersebut.
Interaksi menjadi bagian penting dari karya. Pengunjung diajak melempar anak panah ke papan terka nasib sebagai medium untuk memperoleh tafsir simbolik mengenai pengalaman hidup sehari-hari. Cara ini, menurut Sri Hardana, menjadikan publik bukan sekadar penonton, melainkan bagian yang menyempurnakan makna karya.
“Melalui lempar anak panah, dapat ditemukan jawaban atas tafsir kehidupan sehari-hari. Keterlibatan dalam karya ini menjadi utuh ketika publik ikut terlibat,” kata Sri Hardana.
Suasana ruang pamer dirancang mendukung pengalaman tersebut. Tata ruang yang tertata, pendar cahaya berwarna, serta pencahayaan yang redup menghadirkan atmosfer imajinatif sekaligus kontemplatif. Pengunjung diajak memasuki ruang spiritual yang dibangun melalui simbol-simbol estetika Jawa tanpa kehilangan sentuhan visual yang modern.
Melalui PORONEPTU, Sri Hardana menawarkan pembacaan baru terhadap primbon sebagai warisan budaya yang tetap relevan. Alih-alih menjadi sekadar alat meramal masa depan, primbon diposisikan sebagai medium untuk merefleksikan pilihan, perilaku, dan perjalanan hidup manusia dalam konteks kekinian.
Pameran akan dibuka pada Jumat, 7 Agustus 2026, dan berlangsung setiap hari pukul 10.00–21.00 WIB di Balai Budaya Jakarta, Jalan Gereja Theresia No. 47, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat.




