Sebuah kain tidak hanya menyimpan warna dan motif. Pada tenun Sumba, kain juga merekam pengetahuan, pengalaman, sejarah keluarga, bahkan jejak kekuasaan. Namun ingatan itu dapat ikut hilang ketika para maestro penenun menua dan motif-motif lama semakin sulit ditemukan.
Persoalan itulah yang menjadi perhatian Kementerian Kebudayaan dalam upaya memperkuat pelestarian tenun Sumba. Dokumentasi para maestro, penelusuran motif lama, hingga penerbitan buku budaya disiapkan untuk menjaga pengetahuan tradisi tetap hidup lintas generasi.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon membahas rencana tersebut saat menerima audiensi perancang busana sekaligus penata artistik Asha Smara Darra pada 12 Agustus 2026. Pertemuan itu membicarakan dokumentasi para maestro penenun, pengembangan buku budaya, serta penguatan koleksi kain Sumba yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Asha, melalui Umaratu Foundation, selama ini mengembangkan program tenun dengan melibatkan generasi muda dan para maestro. Salah satu agenda yang tengah disiapkan adalah buku mengenai para maestro dan motif tenun Sumba.
Buku itu tidak sekadar menjadi katalog kain. Perjalanan, pengetahuan, dan pengalaman para penenun akan menjadi bagian penting dari dokumentasi.
“Salah satu langkah yang tengah dikembangkan adalah penyusunan buku mengenai para maestro dan motif tenun Sumba,” kata Asha.
Tantangan pelestarian tenun Sumba bukan hanya soal mempertahankan keterampilan menenun. Sebagian motif lama mulai sulit ditemukan. Referensi kain tersebar di tangan keluarga pemilik kain, komunitas, dan kolektor.
Penelusuran kembali menjadi penting agar motif tersebut dapat diidentifikasi dan diakurasi. Tanpa dokumentasi, pengetahuan tentang asal-usul dan makna motif berisiko terputus ketika generasi yang menyimpannya tidak lagi ada.
Persoalan itu membuat koleksi kain lama memiliki arti lebih dari sekadar benda tekstil. Ia menjadi sumber pengetahuan yang dapat membantu membaca sejarah dan kebudayaan Sumba.
Kementerian Kebudayaan menaruh perhatian khusus pada koleksi kain yang memiliki nilai sejarah tinggi, termasuk motif kain yang berkaitan dengan keluarga raja-raja. Koleksi tersebut perlu diidentifikasi dan dikategorisasi agar dapat diakses sebagai sumber pengetahuan masyarakat.
Salah satu bentuk dokumentasi yang didorong adalah penerbitan buku khusus mengenai Sumba Timur, terutama yang mengangkat koleksi kain dan sejarah para raja di wilayah tersebut.
Fadli Zon menilai buku dapat menjadi medium untuk mengabadikan pengetahuan yang tersimpan dalam koleksi kain dan sejarah masyarakat Sumba.
“Buku adalah cara untuk mengabadikan. Kita dapat membuat buku khusus Sumba Timur, termasuk koleksi khusus raja-raja, sehingga pengetahuan dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Fadli.
Langkah tersebut memperluas pengertian pelestarian. Menjaga tenun bukan hanya mempertahankan produksi kain, tetapi juga menyelamatkan pengetahuan yang menyertainya: siapa yang membuat, dari mana motif berasal, bagaimana tekniknya diwariskan, serta bagaimana kain digunakan dalam kehidupan masyarakat.
Dengan dokumentasi yang sistematis, kain-kain lama tidak berhenti sebagai koleksi. Ia dapat menjadi bahan penelitian, pendidikan, penciptaan karya baru, dan sumber inspirasi bagi generasi berikutnya.
Untuk memperkuat inisiatif tersebut, Kementerian Kebudayaan membuka peluang pemanfaatan program pendanaan kebudayaan, termasuk Dana IndonesiaRaya. Dukungan itu dapat digunakan untuk produksi karya budaya, dokumentasi, serta pengembangan program yang melibatkan komunitas budaya.
Pelestarian tenun Sumba pada akhirnya membutuhkan kerja bersama. Pemerintah menyediakan ruang kebijakan dan dukungan, sementara komunitas, maestro, kolektor, dan generasi muda menjadi pemilik sekaligus penggerak pengetahuan tersebut.
Kementerian Kebudayaan menempatkan kolaborasi itu sebagai bagian dari upaya menjaga tenun Sumba agar tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang sebagai sumber pengetahuan, kreativitas, dan kesejahteraan masyarakat.
Di tengah perubahan zaman, pekerjaan terpenting mungkin bukan sekadar membuat kain baru. Ada pekerjaan yang lebih mendasar: memastikan cerita di balik kain lama tidak ikut menghilang.





