Pemerintah mendorong sektor Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE) sebagai salah satu pengungkit ekonomi pariwisata. Pertumbuhan sektor ini dinilai tidak cukup diukur dari jumlah kunjungan, tetapi juga dari kemampuan meningkatkan lama tinggal, belanja wisatawan, serta menggerakkan ekonomi masyarakat di destinasi.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan kinerja pariwisata Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan. Pada 2025, Indonesia mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan 1,20 miliar perjalanan wisatawan nusantara. Devisa pariwisata pada tahun tersebut mencapai sekitar US$18,27 miliar.
Tren tersebut berlanjut pada semester pertama 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 7,45 juta, tumbuh 5,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, Ni Luh mengatakan peningkatan jumlah wisatawan perlu diikuti peningkatan kualitas dampak ekonominya.
“Salah satu segmen yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan adalah MICE,” kata Ni Luh dalam Indonesia Tourism & MICE Outlook (ITMO) 2027 yang diselenggarakan Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) di Jakarta, Kamis, 24 September 2026.
Data ICCA GlobeWatch Business Analytics—Country & City Rankings 2025 menunjukkan Indonesia menjadi lokasi 110 pertemuan asosiasi internasional. Capaian tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-37 dunia, ke-10 Asia Pasifik, dan keempat di ASEAN.
Menurut Ni Luh, kegiatan MICE memiliki karakter berbeda dari perjalanan wisata biasa karena dapat menggabungkan aktivitas bisnis dengan rekreasi atau bleisure. Peserta konferensi, rapat, pameran, hingga konser memiliki peluang untuk memperpanjang masa tinggal dengan menikmati kuliner, berbelanja produk lokal, mengikuti aktivitas wellness, dan mengunjungi destinasi di sekitar lokasi acara.
“Wisatawan yang datang untuk urusan bisnis atau menghadiri acara tidak lagi sekadar mengikuti konferensi, rapat, atau menyaksikan konser. Mereka juga ingin menikmati daya tarik daerah setempat,” ujar Ni Luh.
Karena itu, pemerintah mendorong penyelenggaraan MICE tidak berhenti pada penyediaan venue. Destinasi perlu menawarkan pengalaman yang terhubung dengan karakter lokal sehingga kegiatan bisnis dapat sekaligus menggerakkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Dampak ekonomi sebuah acara juga menjangkau sektor yang lebih luas. Hotel, restoran, transportasi, UMKM, pelaku ekonomi kreatif, hingga tenaga kerja lokal ikut memperoleh manfaat dari pergerakan peserta dan pengunjung.
Program Event by Indonesia sepanjang 2025, misalnya, tercatat menarik 12,20 juta pengunjung, melibatkan 20.877 UMKM, menyerap 257.561 tenaga kerja, dan menghasilkan perputaran ekonomi hingga Rp23,76 triliun.
“Ketika peserta datang, mereka menggunakan transportasi, menginap di hotel, menikmati kuliner, berbelanja produk lokal atau oleh-oleh, dan mengunjungi daya tarik wisata di daerah tersebut. Karena itu, nilai sebuah event tidak berhenti ketika lampu panggung dimatikan atau ruang konferensi ditutup,” kata Ni Luh.
Pengembangan MICE juga diarahkan mengikuti perubahan perilaku wisatawan dan perkembangan teknologi. Memasuki era Tourism 5.0, Kementerian Pariwisata mendorong pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan pelayanan sekaligus memberikan pengalaman perjalanan yang lebih personal.
Salah satunya melalui MaiA, platform berbasis kecerdasan buatan pada laman Indonesia.travel yang membantu wisatawan merencanakan perjalanan sesuai kebutuhan mereka.
Ni Luh mengatakan pemanfaatan teknologi perlu berjalan bersama dengan kesiapan destinasi, konektivitas, kualitas sumber daya manusia, dan kolaborasi antarpemangku kepentingan. Elemen tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi business events di kawasan ASEAN.
“Nilai baru pariwisata Indonesia terletak pada kemampuan kita mengubah setiap acara menjadi pengalaman, dan setiap pengalaman menjadi nilai yang berguna,” ujar Ni Luh.





