Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) Banten membahas tantangan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam pertemuan “Ngopi Virtual Bareng ASEPHI”, Selasa (29/10/2026). Dialog daring tersebut menjadi forum bagi anggota untuk menyampaikan persoalan usaha, bertukar pengalaman, serta membahas peluang penguatan organisasi dan perluasan pasar.
Ketua Umum ASEPHI Hatman membuka pertemuan yang dihadiri Ketua BPD ASEPHI Banten Sigit Riswanto, sekretariat, serta anggota dari berbagai daerah di Provinsi Banten. Sigit mengajak peserta menyampaikan masukan mengenai persoalan yang dihadapi pelaku usaha dan kebutuhan organisasi dalam mendukung perkembangan UMKM.
Sekretaris BPD ASEPHI Banten Mia Wibowo memaparkan data keanggotaan. ASEPHI Banten memiliki 67 anggota, dengan 41 di antaranya bergerak di bidang fashion. Anggota lainnya berasal dari sektor kerajinan dan kategori usaha terkait.
Meski memiliki potensi produk yang beragam, sebagian anggota masih menghadapi kendala untuk memperluas pasar, terutama ekspor. Sigit mengatakan pelaku usaha kerajinan kerap mendapat kesempatan mengikuti pameran internasional melalui fasilitasi pemerintah daerah. Hubungan dengan pemerintah daerah Banten juga dinilai cukup baik.
Namun, peluang mengikuti pameran belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kemampuan anggota membangun pasar secara mandiri. Sejumlah peserta menilai pelaku UMKM masih membutuhkan pendampingan untuk memahami perdagangan, meningkatkan kualitas produk, dan mengembangkan jaringan pembeli.
Indra, salah seorang anggota, menceritakan produknya telah diekspor ke sejumlah negara dan mendapat permintaan kembali. Meski demikian, ia menghadapi tantangan dalam menjaga kepercayaan pelanggan. Diskusi juga menyinggung dampak pameran INACRAFT terhadap persepsi sebagian pelanggan yang masih ragu terhadap produk.
Dalam pembahasan tersebut, BPP ASEPHI mendorong anggota memanfaatkan pameran sebagai sarana promosi dan memperluas jaringan usaha. Anggota juga diajak lebih aktif mengikuti kegiatan promosi agar produk mereka semakin dikenal pasar.
Sigit menilai pengembangan UMKM Banten perlu disertai pendidikan bisnis yang lebih terarah. Sebagian pelaku usaha, menurut dia, masih bergantung pada fasilitasi pemerintah daerah untuk mengikuti kegiatan promosi. Karena itu, ASEPHI perlu memperkuat edukasi mengenai ekspor dan pemanfaatan platform digital agar anggota mampu mengembangkan pasar secara lebih mandiri.
Persoalan legalitas usaha turut menjadi perhatian. Anggota BPD Banten, Zhafran, mengusulkan pelatihan mengenai badan hukum, khususnya pendirian perseroan terbatas, serta perpajakan. Pemahaman tersebut dinilai penting agar anggota dapat memenuhi persyaratan transaksi bisnis, termasuk memasuki pasar business to business (B2B).
Selain legalitas, peserta menyoroti kualitas dan edukasi batik. Zhafran menyampaikan kekhawatiran mengenai penggunaan batik bermotif tekstil cetak di sekolah yang dinilai belum mencerminkan kualitas batik sebagaimana mestinya. Ia mengusulkan optimalisasi media sosial ASEPHI untuk mengedukasi masyarakat mengenai perbedaan batik asli dan kain bermotif batik.

Ernayani Nasution, Wakil Ketua Umum III BPP ASEPHI Bidang Organisasi dan Advokasi, turut mengusulkan advokasi kepada Kementerian Pendidikan mengenai standar kualitas batik yang digunakan di sekolah. Edukasi mengenai proses produksi dan nilai batik dinilai perlu diperkuat agar masyarakat memahami produk secara lebih tepat.
Pembahasan promosi digital berlanjut pada usulan mengoptimalkan Instagram, TikTok, YouTube, dan situs web ASEPHI. Muchamad Ali Jufry, Wakil Ketua Umum II BPP ASEPHI Bidang Digital dan IT, membahas potensi pengembangan konten media sosial. Sekretariat akan berkoordinasi untuk memperkuat materi edukasi dan kolaborasi antardaerah.
Anggota juga mengusulkan agar promosi INACRAFT menjangkau konsumen muda melalui kolaborasi dengan bazar yang populer di kalangan generasi Z, seperti Living Market dan Glam Lock. Selain itu, mereka mengusulkan agar kategori fashion mendapat kesempatan menempati Hall A pada penyelenggaraan INACRAFT mendatang.
Baby Jurmawati, Wakil Ketua Umum I BPP ASEPHI Bidang Kerja Sama Antar Lembaga Regional dan Internasional, menjelaskan program INACRAFT Award yang dijadwalkan berlangsung pada April mendatang. Penghargaan tersebut menyediakan kategori produk berdasarkan bahan baku dan proses seleksi, dengan standar yang mengacu pada kualitas internasional. Program ini diharapkan menjadi kesempatan bagi anggota untuk memperoleh pengakuan sekaligus memperluas promosi produk.
BPP ASEPHI akan menyampaikan informasi lebih lanjut mengenai INACRAFT Award kepada anggota Banten agar mereka dapat mempersiapkan produk dan pendaftaran. Anggota juga didorong memanfaatkan program tersebut untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk.
Regenerasi Perajin
Regenerasi pelaku usaha menjadi agenda lain dalam diskusi. Sutrisno, Ketua Bidang Youthpreneur BPP ASEPHI, memperkenalkan program INACRAFT Youthpreneur yang ditujukan untuk menambah keterlibatan generasi muda dalam pameran. Ia meminta data anggota BPD dan BPC di berbagai wilayah yang berusia di bawah 40 tahun untuk mendukung program tersebut.
Untuk memperluas partisipasi generasi muda, peserta juga mengusulkan kolaborasi dengan perguruan tinggi dan sekolah mode. Kerja sama tersebut diharapkan dapat menjaring calon peserta baru sekaligus menghadirkan gagasan segar dalam pengembangan INACRAFT. Keterlibatan institusi pendidikan dinilai dapat membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan terjun ke industri kerajinan serta fashion.
Pertemuan juga membahas kebutuhan sekretariat BPD ASEPHI Banten yang lebih strategis. Sigit mengusulkan pengembangan lokasi sekretariat agar lebih dekat dengan Jakarta Selatan dan dapat dimanfaatkan sebagai tempat promosi produk anggota.
Hatman menyebut pertemuan tersebut sebagai sesi awal dari rangkaian dialog yang akan berlangsung hingga Desember. ASEPHI berharap pertemuan rutin dapat memperkuat komunikasi, kerja sama, dan pengembangan usaha anggota.
Sekretariat akan menindaklanjuti sejumlah usulan, mulai dari edukasi legalitas dan ekspor, penguatan konten digital, promosi INACRAFT Award, hingga kolaborasi dengan komunitas dan institusi pendidikan. Anggota juga dapat menyampaikan masukan melalui sekretariat dan email ASEPHI.
Melalui dialog tersebut, ASEPHI Banten berupaya memperkuat peran organisasi dalam mendampingi UMKM menghadapi tantangan pasar. Pengembangan anggota tidak hanya bergantung pada kesempatan pameran, tetapi juga pada kesiapan usaha, kualitas produk, kemampuan membangun jaringan, dan regenerasi pelaku industri.




