Produk berbahan kaca dan kuningan buatan Aneka Karya Glass menempuh perjalanan dari Kartasura, Solo, Jawa Tengah, hingga pasar Australia dan Eropa. Namun, bagi Amin Suhudi Sutiman, pemilik usaha yang akrab disapa Timan, mempertahankan pasar ekspor tidak semudah memperluasnya.
Aneka Karya Glass memproduksi beragam produk kriya, antara lain vanity mirror, lampu kaca, hampers box, lentera, tempat lilin, dan terrarium. Produk-produk itu dipamerkan dalam INACRAFT October 2026, tepatnya di Main Lobby No. 25 Jakarta International Convention Center Jakarta.
“INACRAFT ini kita menampilkan produk-produk bahan baku kaca dan kuningan, yaitu berupa lampu hias, lentera, tempat lilin,” kata Timan.
Selain produk dekorasi, Aneka Karya Glass membuat kotak perhiasan dan berbagai kebutuhan rumah tangga. Material utama yang digunakan adalah kaca dan kuningan. Amin mengatakan perusahaannya mengutamakan kualitas bahan dan pengerjaan tangan.
Untuk desain, Aneka Karya Glass mengikuti perubahan selera pasar. Menurut Amin, tren tidak hanya terlihat pada bentuk, tetapi juga warna dan finishing. Jika pada sekitar 2015 warna kuningan dengan kesan modern banyak diminati, tren belakangan bergeser ke gaya retro.
Mengandalkan Kaca dan Kuningan
Timan tidak menggunakan material daur ulang dalam produksinya. Ia mengatakan perusahaan lebih dulu mengutamakan kualitas dengan memanfaatkan material yang tersedia dan mengolahnya sesuai desain serta permintaan pasar.
Bahan baku kaca tersedia dari dalam negeri maupun impor. Kaca bening atau clear dapat diperoleh dari produsen lokal, sedangkan kaca berwarna masih banyak didatangkan dari luar negeri.
Menurut Timan, pasar ekspor justru lebih menyukai kaca bening. Untuk pasar domestik, kaca bening dengan bagian tepi yang dibuat bevel juga cukup diminati.

Adapun kuningan yang digunakan Aneka Karya Glass sebagian masih bergantung pada impor. Timan menyebut bahan tersebut antara lain berasal dari Jepang, Korea, dan India.
Kenaikan nilai dolar ikut memengaruhi biaya produksi. Ketika harga bahan baku meningkat, produsen harus menyesuaikan harga jual. Persoalannya, kenaikan harga tersebut tidak selalu mudah diterima pembeli.
Biaya logistik juga menjadi persoalan lain. Untuk pengiriman ekspor, Aneka Karya Glass kerap menggabungkan pengiriman dengan produk mebel dari pelaku usaha lain untuk menekan biaya.
Aneka Karya Glass telah mengekspor produknya ke sejumlah negara, di antaranya Australia, Spanyol, dan Argentina. Pemasaran ke segmen luar negeri dilakukan melalui pameran dan kanal daring. Timan belum mengikuti pameran di luar negeri secara langsung, tetapi pernah berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia (TEI).
Ia melihat perubahan tren desain di pasar global berlangsung cepat. Produk dengan gaya minimalis, modern, maupun retro memiliki segmen masing-masing. Karena itu, kemampuan membaca selera konsumen menjadi bagian penting dari strategi usaha.
Namun, kondisi pasar ekspor belakangan menjadi tantangan. Timan mengatakan pelemahan pasar luar negeri turut dirasakan pelaku UMKM. Di sisi lain, kenaikan harga bahan baku membuat produsen berada dalam posisi sulit ketika harus bernegosiasi dengan pembeli.
Handmade sebagai Nilai Jual
Di tengah persaingan produk kriya dari negara seperti Cina dan India, Timan mengandalkan pengerjaan tangan sebagai salah satu pembeda. Ia mengatakan sejumlah pembeli luar negeri tertarik karena produk Aneka Karya Glass menggunakan bahan kuningan dan dikerjakan secara handmade. Salah satunya pembeli dari Jepang.
“Dia tertarik kepada produk kita karena ini asli. Bahan bakunya asli dari kuningan, terus pengerjaannya dari tangan,” kata Timan.
Kapasitas produksi Aneka Karya Glass bergantung pada ukuran dan tingkat kesulitan produk. Untuk produk berukuran sedang, kapasitas produksi sekitar 600-700 unit per bulan. Sementara produk berukuran kecil dapat mencapai sekitar 1.000 unit. Dengan dukungan tenaga kerja yang lebih banyak, kapasitas tersebut berpotensi mencapai sekitar 1.500 unit.
Waktu pengerjaan juga bergantung pada ukuran dan kerumitan produk. Lampu kaca dengan dimensi sekitar setengah meter, misalnya, membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari.
Harga produk Aneka Karya Glass berkisar Rp25 ribu hingga sekitar Rp1 juta. Produk berukuran besar dengan material dan tingkat kesulitan lebih tinggi dapat mencapai Rp1 jutaan.

Menyiapkan Generasi Berikutnya
Timan memulai usaha produksi tersebut pada 2006. Ia mengaku menjadi generasi pertama yang menjalankan usaha itu. Kini, selain memikirkan pasar, ia mulai menyiapkan regenerasi usaha.
Anak-anaknya telah diperkenalkan dengan dunia usaha dan dilibatkan dalam proses belajar berbisnis. Pameran menjadi salah satu sarana bagi generasi berikutnya untuk mengenal pasar sebelum nantinya terlibat lebih jauh dalam produksi.
“Saya sudah ajarin anak-anak untuk berusaha. Dari pameran dulu, nanti berproduksi,” kata Timan.
Baginya, regenerasi bukan hanya persoalan meneruskan bisnis keluarga. Usaha kriya tersebut juga merupakan sumber penghidupan yang telah ia tekuni selama dua dekade.
Amin masih melihat prospek industri handicraft Indonesia ke depan. Ia menilai produk buatan tangan tetap memiliki ruang di pasar, terutama ketika kualitas bahan dan keaslian pengerjaan menjadi pertimbangan konsumen.
Bagi Aneka Karya Glass, tantangannya kini bukan sekadar membuat produk yang menarik. Mereka harus menjaga kualitas, membaca perubahan tren, menghadapi kenaikan biaya produksi, mempertahankan pasar ekspor, sekaligus memastikan keterampilan membuat kriya berbahan kaca dan kuningan tidak berhenti pada satu generasi. :::





