Seiring perayaan ulang tahun ke-499 Kota Jakarta, puluhan seniman yang tergabung dalam Perupa Jakarta Raya (Peruja) memilih merayakannya dengan cara yang berbeda. Mereka menghadirkan pameran seni rupa bertajuk Semau Gue di Balai Budaya Jakarta, Jalan Gereja Theresia Nomor 17, Jakarta Pusat.
Pameran yang berlangsung pada 25 Juni hingga 4 Juli 2026 itu menampilkan karya 52 perupa dengan beragam medium dan pendekatan artistik. Judul Semau Gue diambil dari ungkapan populer dalam bahasa pergaulan Jakarta yang identik dengan kebebasan berekspresi dan bertindak sesuka hati. Dalam konteks seni, frasa tersebut diterjemahkan sebagai ruang imajinasi yang nyaris tanpa batas.
Semangat kebebasan itu tampak dalam berbagai karya yang dipamerkan. Para seniman mengeksplorasi beragam teknik dan medium, mulai dari lukisan, kolase multimedia, fotografi, hingga penggunaan benda-benda keseharian yang dirangkai menjadi narasi visual baru. Pendekatan kontemporer tersebut menghadirkan pengalaman yang beragam bagi pengunjung sekaligus memperlihatkan perkembangan bahasa visual para perupa Jakarta.
Pameran dibuka oleh Rektor Institut Kesenian Jakarta, Prof. Syamsul Maarif, pada Kamis, 25 Juni 2026. Selain menampilkan karya seni, penyelenggara juga menggelar diskusi bertajuk Seni Dalam Ruang Publik yang menghadirkan sejarawan dan budayawan Hilmar Farid, seniman Aidil Usman, serta dimoderatori Putra Gara.
Koordinator seniman Peruja, Rindy Atmoko, mengatakan pameran ini sengaja memberikan kebebasan kepada setiap perupa untuk mengembangkan gagasan berdasarkan pengalaman dan pengamatan sehari-hari. Karena itu, keragaman karya menjadi salah satu kekuatan utama pameran.
“Gagasan karya datang langsung dari masing-masing perupa. Dari situ terlihat keragaman cara pandang dan ekspresi yang kemudian bertemu dalam satu ruang pamer,” kata Rindy.
Menurut dia, karya-karya yang dipamerkan memperlihatkan bagaimana identitas setiap seniman terus berkembang seiring proses kreatif yang mereka jalani. Imajinasi para perupa bergerak melampaui batas-batas konvensional, menghadirkan berbagai kemungkinan baru dalam penciptaan karya seni.
Melalui Semau Gue, Peruja tidak hanya menampilkan hasil penciptaan artistik para anggotanya, tetapi juga merekam denyut kehidupan kota yang terus berubah. Di tengah Jakarta yang semakin padat dan kompleks, para seniman menawarkan ruang refleksi bahwa kebebasan berimajinasi masih menjadi salah satu energi penting dalam menjaga vitalitas seni dan kebudayaan perkotaan. (FA)





